15 October 2019, 09:07 WIB

Kekeringan Ekstrim Landa Lima Kabupaten di Kalsel


Denny Susanto | Nusantara

MI/Dede Susanti
 MI/Dede Susanti
Ilustrasi 

LIMA kabupaten di Kalimantan Selatan (Kalsel) tercatat mengalami bencana kekeringan sepanjang kemarau tahun ini. Kondisi kekeringan tahun ini masuk kategori kekeringan ekstrim atau parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel mencatat ada puluhan kecamatan di lima kabupaten dari 13 kabupaten/kota di wilayah tersebut mengalami kekeringan. Meliputi Kabupaten Barito Kuala, Banjar, Kotabaru, Balangan dan Tanah Laut.

Kepala BPBD Kalsel, Wahyudin Ujud, Selasa (15/10), mengatakan kondisi kemarau panjang yang terjadi tahun ini menyebabkan beberapa wilayah mengalami bencana kekeringan dengan kategori ekstrim atau parah.

"Beberapa daerah mengalami kekeringan ekstrim dimana hujan tidak turun lebih dari dua bulan dan sumber air warga kering," ujarnya.

Beruntung hujan mulai turun meski dengan intensitas rendah sehingga bencana kekeringan tidak bertambah parah.

"Sudah ada langkah-langkah penanganan yang dilakukan BPBD setempat berupa penyaluran air bersih kepada warga korban kekeringan. Saat ini kekeringan parah masih terjadi di wilayah Kabupaten Banjar, Balangan dan Tanah Laut," tuturnya.

Lebih jauh dikatakan Wahyudin kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalsel hingga kini masih berlangsung. Namun kebakaran terbanyak terjadi karena aktivitas masyarakat petani membuka lahan untuk persiapan musim tanam saat penghujan yang diperkirakan akan terjadi pada November mendatang. Kalsel sendiri masih dalam status darurat siaga bencana karhutla hingga akhir Oktober.

Pantauan Media Indonesia, musim kemarau memicu terjadinya interusi air laut pada sungai dan sumber air warga terutama di daerah pesisir. Di Kota Banjarmasin, PDAM Bandarmasih terpaksa menghentikan operasional instalasi pengolahan air (IPA) Sungai Bilu menyusul kondisi kadar garam yang melampaui  batas baku mutu. Sehingga pasokan air bersih ke masyarakat sempat terhenti total.

Kepala Desa Sungai Musang, Kecamatan Aluh-aluh, Kabupaten Banjar, Suriansyah mengungkapkan kekeringan dan sumber air warga yang berubah menjadi asin sudah berlangsung lebih dari empat bulan terakhir.

baca juga: Festival Menipo Menggugah Masyarakat Untuk Cinta Lingkungan

"Masalah air bersih ini sudah menjadi masalah tiap tahun dialami warga, tetapi tahun ini lebih parah dari tahun lalu," ujarnya.

Untuk mendapatkan air bersih warga terpaksa membeli air dari pedagang dengan harga Rp5.000 untuk tiap 20 liter air (derigen). Warga pun hanya membeli air untuk keperluan minum dan memasak. Sedangkan keperluan lain seperti mencuci masih tetap menggunakan air sungai dan sumur yang asin. (OL-3)

BERITA TERKAIT