15 October 2019, 00:40 WIB

Puskesmas Ujung Tombak Pengobatan Asma


Atalya Puspa | Humaniora

MI/Ahmad Yakub
 MI/Ahmad Yakub
Petugas Puskesmas melayani pasien yang mengambil obat di loket.

PENGUATAN peran puskesmas dalam manajemen pengobatan asma diharapkan dapat membantu meningkatkan efisiensi biaya dan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. “Kita berharap puskesmas bisa banyak terlibat menyelesaikan kasus asma. Dengan demikian, tidak sampai rujukan ke rumah sakit sehingga menekan biaya,” jelas Kepala Subdirektorat Penyakit Paru Kronis dan Gangguan Imunologi Kementerian Kesehatan, dokter Theresia Sandra Dian Ratih, di Mandarin Oriental Hotel, Jakarta Pusat, Senin (14/10).

Angka penderita asama di Indonesia masih cukup tinggi. Berdasarkan survei yang dilakukan Kementerian Kesehatan, hingga 2018 tercatat 4,5% dari populasi menderita penyakit asma dengan jumlah kumulatif mencapai 11.179.032 kasus.

Di sisi lain, karena sering dianggap sepele, asma didiamkan terus-menerus sehingga menimbulkan penyakit paru-paru kronis yang merupakan satu dari 10 penyebab kematian terbesar di Indonesia. Penyakit tidak menular (PTM) termasuk asma ialah salah satu pemicu defisit BPJS Kesehatan.

Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan AstraZeneca, Project Hope, dan Universitas Gadjah Mada melakukan intervesi melalui program Healthy Lung. Program ini mengidentifikasi kesenjangan dalam pengobatan asma di puskesmas.

“Puskesmas lebih mudah menjangkau masyarakat. Peningkatan pelayanan pada pasien asma di puskesmas, diharapkan mendorong masyarakat segera memeriksakan diri sebelum berada dalam tahap kronis,” imbuh Theresia Sandra.

Kesenjangan pengobatan

Theresia Sandra menambahkan, pemerintah mendukung penuh program Healthy Lung karena mendorong sinergi untuk meningkatakan pelayanan pada pasien asma di puskesmas.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur PT AstraZeneca Indonesia Rizman Abudaeri meng­ungkapkan, kesenjangan multidimensi dalam diagnosis dan pengobatan asma di tingkat puskesmas yaitu, ketersediaan obat dan infrastruktur, kapasitas staf kesehatan dan pelatih­an, implementasi SOP, edukasi pasien terhadap pengobatan, dan kepemimpinan tenaga medis oleh Asosiasi Medis.

“Program intervensi dilakukan dengan meningkatkan kapasitas pelayanan dan manajemen tenaga medis, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan penyakit asma,” tambahnya.

Program Healthy Lung diuji coba pada 71 puskesmas di tiga kota, yaitu Bandung, Bantul, dan Gowa dan dilakukan dalam rentang waktu April hingga Agustus 2019. Sebanyak 500 tenaga kesehatan menjalani pelatihan klinis sedangkan 4.000 pasien dilatih untuk taat terhadap tata laksana pengobatan.

Hasilnya menunjukkan peningkatan kasus baru sebesar 0,6 kali di puskesmas, dan pengurangan hingga 5% dari pasien dengan asma yang dirujuk ke rumah sakit.

“Pasien yang tidak dirujuk ke RS cenderung meningkat. Hal ini sejalan dengan tujuan kami untuk meningkatkan pengobatan asma di Puskesmas Bandung,” tutur Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kota Bandung dokter Rosye Arosdiani. (H-3)

 

BERITA TERKAIT