15 October 2019, 01:00 WIB

Pasukan Suriah Bantu Milisi Kurdi


Melalusa Susthira K | Internasional

Delil SOULEIMAN / AFP
 Delil SOULEIMAN / AFP
Para pejuang perempuan Kurdi menghadiri pemakaman politikus perempuan Kurdi, Hevrin Khalaf, yang tewas dalam serangan militer Turki.

REZIM Suriah kemarin mengirim pasukan ke perbatasan Suriah-Turki untuk menahan laju serangan Turki terhadap milisi Kurdi. Ini dilakukan Suriah untuk mengisi kekosong­an pasukan akibat mundurnya tentara Amerika Serikat.

Kantor berita negara Suriah, SANA, mengatakan Suriah kini telah mengirimkan pasukannya ke wilayah utara. Kedatangan mereka disambut gembira oleh warga Kota Tall Tamr.

Tanpa perlindungan dari AS dan kalah dari sisi persenjataan, pasukan Kurdi tidak punya banyak pilihan dalam melawan Turki. Sementara itu, Turki ingin mencipta­kan zona aman sepanjang 30 kilometer di perbatasannya supaya bisa mencegah serangan Kurdi dan sekaligus sebagai tempat permukiman bagi jutaan pengungsi Suriah yang tinggal di Turki.

Hubungan Kurdi dengan rezim Suriah sendiri sebelumnya memburuk akibat dekat­nya hubungan Kurdi-AS dan keinginan warga Kurdi membentuk negara sendiri. Namun, Rusia mampu mendesak Suriah untuk mau membantu Kurdi.

Pasukan Kurdi menggambarkan kesepakatan mereka dengan pemerintah Suriah sebagai langkah penting. “Untuk mencegah dan menghadapi agresi, sebuah kesepakatan telah dicapai dengan pemerintah Suriah sehingga tentara Suriah dapat dikerahkan di sepanjang perbatasan Suriah-Turki untuk membantu Pasukan Demokratik Suriah (SDF),” terang otoritas Kurdi dalam sebuah pernyataannya, Minggu (13/10).

Seperti yang dilansir majalah Foreign Policy, Kepala SDF Mazlum Abdi mengatakan bahwa keputusan yang diambil Kurdi untuk berkompromi dengan pemerintah Suriah dibuat atas nama kepentingan rakyat.

“Jika kita harus memilih antara kompromi dan genosida rakyat kami, kami jelas akan memilih kehidupan untuk rakyat,” ungkap Mazlum.

Otoritas Kurdi dan negara-negara lainnya telah memperingatkan terjadinya krisis kemanusiaan besar yang akan memaksa puluhan ribu orang mengungsi.

Mereka juga telah berulang kali memperingatkan bahwa pertempuran dengan Turki dapat mengacaukan perang melawan IS dan memungkinkan para anggota IS kabur dari tahanan. Setidaknya, 800 tahanan kini telah lolos dari penjara akibat kekacauan menyusul serangan Turki.

Setidaknya 60 warga sipil telah tewas di perbatasan Suriah sejak Turki melancarkan serangan pada Rabu (9/10). Sementara itu, Turki menyebut 18 warga sipilnya tewas akibat ditembak milisi Kurdi.

Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) PBB mengatakan angka eksodus akibat pertempuran Turki-Suriah kali ini telah meningkat menjadi 130 ribu orang dan memperkirakan angka tersebut akan bertambah tiga kali lipat.

Tahanan ISIS

Kecaman internasional atas serangan lintas perbatasan Turki telah meningkat. Presiden AS, Donald Trump, memperingatkan operasi Turki tersebut mendatangkan bahaya besar dalam hubungan dengan sekutu Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan mengancam akan menjatuhkan sanksi pada Turki bila invasi dilakukan melampaui batas.

Namun, Trump juga mengkritik pihak Kurdi. Dia menyebut mungkin saja pasukan Kurdi akan sengaja membebaskan para tahanan ISIS untuk memaksa pasukan AS tetap bertahan di Suriah.

“Pihak Eropa sebetulnya bisa menahan para anggota ISIS sendiri, tapi mereka tidak mau menanggung biaya.  Mereka i­ngin AS yang menanggungnya. Kurdi mungkin saja membebaskan beberapa ta­hanan agar AS tetap terlibat. Anggota-anggota ISIS akan bisa ditangkap kembali oleh Turki atau Uni Eropa, tapi mereka harus ber­gerak cepat,” cicit Trump. (AFP/Hym/X-11)

BERITA TERKAIT