14 October 2019, 21:05 WIB

Aplikasi Self-Help, Screening OK, Diagnosis No!


Fetry Wuryasti | Weekend

Unsplash/Gift Habeshaw
 Unsplash/Gift Habeshaw
Aplikasi berkaitan dengan kesehatan mental dapat dimanfaatkan untuk sekadar skrining awal.

Perkembangan teknologi berhasil membangun berbagai aplikasi untuk menolong diri sendiri (self help) mengendalikan kecemasan dan depresi. Di satu sisi, aplikasi memang mensimplifikasi berbagai hal. Namun tetap, dia tidak bisa menjadi rujukan formal untuk kepentingan medis.

Dokter spesialis kesehatan Jiwa , Andri, mengatakan sebenarnya di era digital, aplikasi self-help untuk mendeteksi awal atau screening memang telah disediakan oleh teknologi.

Bahkan, Kementerian Kesehatan pun memanfaatkannya dengan merilis aplikasi Sehat Jiwa yang menjabarkan mulai dari informasi kesehatan jiwa pada anak, remaja, dewasa, usia lanjut termasuk pasung dan bunuh diri, disertai nomor darurat 119.

"Kemenkes juga sudah mengeluarkan alat screening depresi SDQ20. Itu disarankan untuk mendeteksi secara dini apakah kita mengalami masalah gejala kejiwaan dalam hal ini depresi," jelas Andri saat dihubungi, Kamis (10/10).

Namun, kemudian diagnosis klinisnya harus tetap dilakukan oleh seorang profesional, dalam hal ini dokter jiwa. Ketika seseorang secara kontinyu merasa tidak bersemangat, tidak bergairah, ada rasa putus asa dan sedih tiba-tiba, orang tersebut sah-sah saja screening pada berbagai aplikasi screening depression.

Biasanya bila hasil screening ada potensi depresi, aplikasi akan menyarankan audiens untuk menghubungi ahli dalam hal ini psikolog atau dokter jiwa. Namun bila beberapa opsi pertanyaan screening yang dijawab audiens pun memberi jawaban potensi depresi, bisa jadi kenyataannya belum tentu demikian.

"Belum tentu. Karena ini screening, cuma untuk menentukan apakah orang itu masuk kategori yang rentan mengalami masalah yang lebih jauh dari depresi atau gangguan kejiwaan. Itu tidak masalah. Teknologi sekarang bahkan sudah mau mulai mengarahkan kepada terapi, bagaimana bisa menggunakan sistem online," ujarnya.

Walaupun begitu, belum ada saran untuk menggunakan aplikasi self-help sebagai modal terapi yang baku. Sebab diagnosis klinis harus tetap face to face one on one. Penggunaan obat dan terapi lain juga harus tatap muka.

Alasannya, meski memakai artificial intelligence dengan pembacaan algoritma, hasilnya tetap tidak bisa menggantikan pengalaman klinis dokter. Teknologi membuat penyebaran informasi begitu banyak, dan orang menjadi bingung akan saringan informasi.

"Dari pandangan saya sebagai dokter jiwa, diagnosis klinis tidak bisa melakukan via chat. Karena dokter harus ada catatan medis," kata dia.

Ia menambahkan, masalah kejiwaan adalah ranah medis dan punya dampak ke lainnya seperti kebutuhan penilaian kemampuan dari penderita untuk berkegiatan sosial seperti sekolah dan bekerja. Gangguan kejiwaan adalah gangguan pada pikiran , perasaan dan perilaku orang tersebut yang sampai mengganggu fungsi pribadi sehari-hari dan sosialnya.

"Keterbatasan itu membuat saya sebagai dokter tidak bisa melayani konsultasi dengan chat online. Bahkan saya sebagai Youtuber membuat video online, belum tentu akan melayani pertanyaan spesifik terkait obat. Saya hanya akan menjawab berdasarkan teori. Karena dampak kita memberikan jawaban itu bisa berbeda diterima orang itu dengan membaca dan membicarakannya secara langsung. Kalau sebatas membantu curhat, online chat mungkin tidak apa," tutur Dokter Andri.

Tetapi kemajuan teknologi pun dia akui membantu manusia untuk menjadi lebih baik. Di kalangan kedokteran jiwa di AS, juga sedang diupayakan aplikasi-aplikasi yang membantu untuk mendapatkan saran pertama bila berada dalam kondisi depresi.

"Bukan sesuatu yang tidak mungkin ke depannya teknologi akan bisa mempermudah coverage pelayanan kesehatan jiwa. Selama tidak mendiagnosiskan dirinya sendiri. Diagnosis pertama harus dari dokter jiwa. Kemudian konsultasi lanjutannya bisa menggunakan telemedicine. Sehingga tidak menggantikan proses diagnosis awal. Aplikasi tidak bisa menggantikan proses diagnosis dan assessment awal oleh dokter jiwa," pungkasnya.

Sementara itu, Psikolog Bona Sardo Hutahaean mengatakan, masih perlu banyak penelitian yang dilakukan untuk mengkaji dampak nyata dari penggunaan aplikasi-aplikasi konseling yang kini banyak beredar.

"Kalau ditanya soal dampak pengurangan gejala depresi hingga penurunan tingkat bunuh diri tentu harus ada riset yang empiris. Kalau aplikasi buatan rekan saya (yang menjadi disertasi S3nya di Belanda), memang ada hasil yang menunjukkan bahwa penggunaan aplikasinya turut membantu pengurangan gejala depresi pada klien," ungkapnya.

Menurutnya, penggunaan aplikasi-aplikasi tersebut sangat membantu orang-orang yang memang tidak memiliki waktu untuk datang ke tempat konseling atau terlalu merasa malu apabila datang secara langsung ke klinik, RS, atau tempat konseling. Akan tetapi, apabila memang dirasa aplikasi tersebut kurang membantu, ada baiknya klien yang bersangkutan langsung menghubungi psikolog terdekat dan terpercaya untuk memperoleh penanganan secara langsung.

"Sebetulnya tidak apa kok untuk datang langsung ke psikolog, Justru efeknya jauh lebih terasa dan lebih nyaman. Coba mulai hilangkan juga stigma bahwa datang ke psikolog itu pasti orang gila. Tidak mesti begitu," tegasnya. (M-2)

 

BERITA TERKAIT