14 October 2019, 12:43 WIB

Para Ulama Berperan Penting Mengikis Radikalisme


mediaindonesia.com | Politik dan Hukum

Istimewa
 Istimewa
Pengamat intelijen Generasi Optimis (GO) Indonesia, Tigor Mulo Horas Sinaga.

BERDASARKAN  penyidikan polisi yang menyebutkan bahwa pelaku aksi penusukan terhadap Menko Polhukam Jenderal Wiranto diduga terpapar radikalisme. Hal tersebut disampaikan pengamat intelijen Generasi Optimis (GO) Indonesia, Tigor Mulo Horas Sinaga di Jakarta, Senin (14/10).

Terkait radikalisme, Horas mengatakan perlunya makin ditingkatkan peran ulama sebagai guru dan teladan dalam upaya mengikis paham radikalisme di Tanah Air.

Menurut Horas, seperti yang disampaikan Wakil Presiden terpilih KH Ma'ruf Amin dalam Haul Akbar di Ponpes Al Ishlahuddiny Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat, Minggu (11/10). KH Ma’ruf Amin mengataka, ada tiga tanggung jawab yang diemban ulama yakni  bidang agama, keumatan, dan kebangsaan atau kenegaraan

“Tanggung jawab pertama dalam bidang keagamaan, agar para ulama selalu menjaga agama dari salah penafsiran yang menyimpang. Ini termasuk meluruskan kesesatan kaum radikal dan intoleran,” kata Horas yang mengutif pernyataan KH Ma’ruf Amin.

Kedua, tanggung jawab keumatan yang meliputi menjaga umat dari akidah-akidah yang salah. Menjaga umat agar kuat secara pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Ketiga, tanggung jawab kebangsaan dan kenegaraan. Ini tanggungjawab yang penting dalam konteks hidup berbangsa, yaitu menjaga negara Indonesia dari ideologi-ideologi lain di luar konsensus nasional.

Horas sangat menyatakan setuju apa yang disampaikan KH Ma'ruf Amin tersebut. Menurut Horas, Baginya Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI adalah harga mati yang tidak bisa ditawar, dan tidak akan ada yang bisa menggantikannya.

"KH Ma'ruf Amin dengan tegas mengatakan bahwa khilafah bukan ditolak tapi memang tertolak sejak dari awal karena tidak sesuai dengan kesepakatan untuk membangun bangsa yang besar dan majemuk oleh para founding fathers negara kita," tegas Horas.

Horas mengimbau semua pemeluk agama untuk saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Ia menegaskan bahwa Indonesia adalah negara plural.

“Tuhan yang menjadikannya demikian. Jadi kita harus saling menghargai. Biarlah kita menjalankan ibadah masing-masing, tanpa menyinggung agama-agama lain, dan marilah kita saling mengasihi sesama anak-anak Ibu Pertiwi Nusantara," ujar Horas. (OL-09)

BERITA TERKAIT