14 October 2019, 12:20 WIB

Karina Nadila Niab: Dukungan untuk Penyintas Kanker Payudara


Suryani Wandari Putri Pertiwi | Hiburan

MI/PERMANA
 MI/PERMANA
Karina Nadila Niab

SUARA Putri Indonesia Pariwisata 2017 Karina Nadila Niab, 27, bergetar. Air matanya hampir menetes tatkala ia mengisahkan kembali perjalanan waktu ke belakang, ketika mendampingi Jumaini, sang ibu yang juga penyintas kanker payudara, yang didiagnosis kanker payudara stadium 2B.

Ia mengisahkan, peristiwa itu terjadi empat tahun lalu. Sedari awal vonis kanker dijatuhkan, sang ibu tidak pernah menunjukkan dirinya lemah. “Mama saya itu karakter orangnya happy go lucky. Waktu tahu kanker, Mama saya enggak kaget atau sedih gitu. Justru dia malah bilang, mungkin ini tebusan dosanya di dunia,” saat konferensi pers Starbucks Cups of Courage di Jakarta, Selasa (8/10).

Saat menjalani tahap demi tahap kemoterapi pun, lanjut Karina, ibunya tampak sehat-sehat saja sampai-sampai banyak yang menyangka ibunya ini bukanlah pasien ketika mengantre di rumah sakit.

Kebingungan yang sama akhirnya menghinggapi Karina sebab dari hasil penulusurannya tentang efek kemoterapi, pasien kanker rata-rata akan merasakan penurunan kondisi tubuh, merasa lemah, dan sakit.

“Semua orang bingung. Mama saya itu sehat banget. Akhirnya saya bilang sama dokter bahwa mungkin dosis (obat) ibu saya kurang,” kata perempuan kelahiran Jakarta, 21 Agustus 1992, itu.

Ia pun menduga, apakah keceriaan ibunya berperilaku senang tersebut untuk menutupi rasa sakit yang diderita­nya? Kepada Karina, ibunya mengatakan, sel kanker harus dilawan dengan kekuatan dalam diri penderitanya. Untuk itu, perlu keyakinan dan optimisme kuat sebab jika dari dalamnya lemah, kanker juga akan cepat menyebar.

“Dulu dia menganggap, semakin dia menunjukkan sakitnya, sel kanker semakin cepat menyebar. Jadi, dari dalam diri kita itu harus berani, harus yakin, harus lebih kuat daripada sel kankernya,” lanjut Karina.

Aura positif itu disebarkan ibunya kepada keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Jumaini menjelma bak seorang agen penyintas kanker payudara karena kerap memberi peringatan kepada orang-orang yang ditemuinya untuk melakukan deteksi dini periksa payudara sendiri (Sadari).

“Dia pernah ketemu ibu-ibu di restoran dan cerita gini ‘Eh, Bu coba deh kapan-kapan periksa payudara Ibu sendiri! Saya sudah dipotong, lo,” ucap Karina menuturkan sang ibu.

Lebih waspada

Berdasarkan pengalaman ibunya, Karina menjadi lebih waspada terhadap kesehatan payudaranya. Ia sadar betul, meski terbi­lang kecil hanya 5%-10% gen dari orangtua diwariskan ke anak, ia tetap memiliki risiko terkena penyakit jenis ini, terlebih menjalani hidup tak sehat. Ia menyadari, semakin cepat kanker dideteksi, penanganannya akan lebih cepat diatasi.

Betul saja. Satu bulan setelah ibunya melakukan operasi pengangkatan payudara, ia memeriksakan dirinya ke dokter dan dinyatakan memiliki fibroade­noma mammae (FAM), tumor jinak yang paling umum terjadi pada payudara.

Diakuinya, aura positif yang ditularkan sang ibu membuat dirinya semakin berani dan percaya untuk melakukan operasi serupa agar tak berkembang hingga menjadi kanker di usia muda. “Jika memang ibu saya bisa, saya pun pasti bisa melakukannya. Hingga aku memutuskan untuk operasi di usia 23 tahun,” kata Karina.

Jauh sebelum Karina, keputusan yang sama juga dilakukan aktris Hollywood Angelina Jolie pada 2015 lalu. Ia melakukan operasi pengangkatan kedua payudaranya karena hasil uji genetik menunjukkan dirinya memiliki gen BRCA1 dan BRCA2 yang bermutasi. Gen penyebab kanker payudara itu diwarisi pemeran dari sang ibu.

Sebelumnya, pemeran film Maleficent (2014) itu sudah melakukan operasi pengangkatan ovarium dan saluran tuba untuk mengurangi risiko kanker. Berdasarkan faktor turunan, Jolie juga berpotensi mengidap kanker ovarium. (H-2)

BERITA TERKAIT