14 October 2019, 11:27 WIB

Kabut Asap Terekstrem di Sumsel, Seluruh Sekolah Diliburkan


Dwi Apriani | Nusantara

Mi/Dwi Apriani
 Mi/Dwi Apriani
Asap paling pekat dan ekstrem menyelimuti Kota Palembang, Sumatra Selatan, Senin (14/10). 

BADAN Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika mencatat, kabut asap pada Senin (14/10), merupakan kondisi asap terekstrem di Palembang. Angin permukaan yang tercatat di BMKG Stasiun Meteorologi SMB II Palembang umumnya dari arah timur ke tenggara, dengan kecepatan 5-20 Knot (9-37 km/jam) mengakibatkan potensi masuknya asap akibat karhutla ke wilayah Kota Palembang dan sekitarnya.

Sumber dari LAPAN pada 14 Oktober 2019 tercatat beberapa titik panas di wilayah sebelah tenggara Kota Palembang dengan tingkat kepercayaan di atas 80% yang berkontribusi asap ke wilayah Kota Palembang yakni pada wilayah Banyu Asin 1, Pampangan, Tulung Selapan, Pedamaran, Pemulutan, Cengal, Pematang Panggang dan Mesuji.

Total titik panas dengan tingkat kepercayaan di atas 80% untuk wilayah Sumsel sebanyak 260 titik dengan rincian titik panas terbanyak pada wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) yakni 139 titik panas dan Banyuasin 67 titik panas.

"Kondisi ini menjadikan kondisi terekstrem selama berlangsungnya Karhutbunla dengan indikasi kuantitas dan jarak pandang yang terjadi. Intensitas asap umumnya meningkat pada pagi hari (04.00-08.00 WIB) dan sore hari (16.00-20.00 WIB) dikarenakan labilitas udara yang stabil (tidak ada massa udara naik) pada waktu-waktu tersebut," jelas Kasi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Bandara SMB II Palembang, Bambang Beni Setiadji, Senin (14/10).

Ia menjelaskan, fenomena asap diindikasikan dengan kelembapan yang rendah dengan partikel-partikel kering di udara, mengurangi jarak pandang, beraroma khas, perih di mata, mengganggu pernafasan dan matahari terlihat berwarna oranye/merah pada pagi/sore hari. Hal ini berpotensi memburuk jika adanya campuran kelembapan yang tinggi
(partikel basah/uap air) sehingga membentuk fenomena kabut asap yang umumnya terjadi pada pagi hari.

"Jarak pandang terendah pada pagi hari 14 Oktober 2019 berkisar hanya 50-150 meter dari jam 06.30-08.30 WIB dengan kelembapan pada saat itu 95-96%," jelas Bambang.

BMKG Sumsel mengimbau kepada masyarakat untuk senantiasa menggunakan masker dan berhati-hati saat bertransportasi pada pagi hari (04.00-08.00 WIB) dan sore hari (16.00-20.00 WIB) seiring potensi peningkatan partikel udara kering di udara dan menurunkan jarak pandang. Ia mengimbau masyarakat untuk banyak minum air putih dan mengurangi aktivitas di luar rumah.

Pemerintah Kota Palembang langsung mengambil kebijakan dengan meliburkan siswa dari taman kanak-kanak hingga SMP. Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Palembang, Ahmad Zulinto langsung mengeluarkan edaran ke sekolah untuk meliburkan siswa TK hingga SMP. Edaran tersebut dikeluarkan untuk menyelamatkan siswa dari bahaya kabut
asap yang mencapai Konsentra Partikulat (PM) 10 pada Senin (14/10) pagi.

"Untuk hari ini seluruh sekolah mulai dari TK hingga SMP negeri dan swasta sederajat diliburkan. Besok dan seterusnya akan diberikan edaran lebih lanjut," kata Zulinto.

Sementara itu, Kedisdik Provinsi Sumsel, Widodo ikut memberikan edaran untuk menyikapi kabut asap yang makin tebal di Sumsel. Dalam edaran tersebut, Widodo memberikan tiga opsi kebijakan yang disesuaikan dengan keadaan keparahan kabut asap di setiap daerah.

baca juga: Ibnu Saleh Optimistis Diusung NasDem di Pilkada 2020

"Bagi daerah yang normal tetap belajar normal. Untuk daerah yang terkategori sedang, tetap belajar namun masuk sekolah diundur dan memakai masker. Untuk daerah terkategori parah, maka belajar fakultatif yakni siswa diberikan tugas dan memaksimalkan kelas dunia maya," (OL-3)

 

 

BERITA TERKAIT