14 October 2019, 08:10 WIB

Warga Ditolong Memakai Helikopter


AFP/ Uca/X-11 | Internasional

STR / JIJI PRESS / AFP
 STR / JIJI PRESS / AFP
Warga Ditolong Memakai Helikopter

TOPAN Hagibis yang melanda Jepang dari Sabtu (12/10) hingga kemarin telah menewaskan lebih dari 26 ­orang. Tim penolong terus berupaya menyelamatkan warga yang terjebak banjir di rumah mereka akibat meluapnya sungai.

Pemerintah Jepang menyebut 14 orang tewas dan 11 lainnya hilang, sedangkan media lokal melaporkan 26 orang meninggal dan 15 lainnya masih dalam pencarian.

“Pemerintah akan berupaya keras. Mohon bekerjalah menolong korban sebaik mungkin,” pinta Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dalam rapat penanganan bencana di Tokyo, kemarin.

Awalnya topan Hagibis sampai ke Pulau Honshu pada Sabtu malam dengan kecepatan hingga 216 kilometer per jam sehingga menjadi topan terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah sungai meluap, termasuk di wilayah Nagano yang menyebabkan bobolnya bendungan sehingga air Su­ngai Chikuma melanda permukiman.

Helikopter tim SAR berupaya meng­angkat korban yang terjebak di atap rumah. Namun nahas, seorang perempuan terjatuh dan tewas saat sedang ditolong di Fukushima.

Sementara itu, KBRI Tokyo memastikan tidak ada WNI yang menjadi korban. Meski begitu, mereka diimbau untuk terus waspada. KBRI Tokyo juga membuka hotline di nomor 08035068612 dan 08049407419 bagi WNI di Jepang yang menghadapi kondisi darurat ataupun untuk mengirimkan perkembangan situasi.

“Ada beberapa WNI yang tertahan di hotel maupun bandara hingga terpaksa mengungsi karena rumahnya dekat sungai,” ungkap Konselor Menteri Luar Negeri di Bidang Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya, Eko Santoso Junor, kemarin.

Menlu Retno Marsudi menginstruksikan KBRI Tokyo dan KJRI Osaka agar terus memantau dan membantu WNI terdampak. Saat ini tercatat jumlah WNI di Jepang mencapai 56.346 ­orang.

Deputi Bidang Meteorologi di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Mulyono Rahadi Prabowo menyatakan posisi topan menjauh dari wilayah Indonesia sehingga tidak berdampak terhadap kondisi cuaca ataupun gelombang laut. Topan itu kini bergerak me­ninggalkan daratan Jepang menuju Samudra Pasifik. (AFP/Uca/X-11)

 

BERITA TERKAIT