14 October 2019, 07:50 WIB

Visi Pendidikan Nasional


Benni Setiawan Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan P-MKU Universitas Negeri Yogyakarta, Penulis Buku Keterasingan Pendidikan Nasional (2019) | Opini

Duta
 Duta
Ilustrasi

ARAH pendidikan nasional terus tertata. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebagai pemegang amanat pendidikan nasional terus berupaya mewujudkan jati diri/roh bangsa ini. Pendidikan perlu terus dikawal agar ia semakin mempunyai makna bagi keadaban kehidupan bangsa dan negara.

Terobosan Profesor Muhadjir Effendy dalam upaya menyejahterakan guru misalnya, perlu mendapat dukungan dari seluruh lapisan masyarakat. Sebagai seorang guru, Profesor Muhadjir tahu persis bagaimana nasib guru di Tanah Air. Masih banyak guru yang digaji ala kadarnya. Namun, mereka tetap berada dalam garda depan pendidikan nasional.

Kesejahteraan guru

Gaji kecil seorang guru memang menjadi masalah serius bangsa Indonesia. Seseorang yang mencerdaskan kehidupan bangsa, menjadikan masyarakat bisa bermain musik, bernyanyi, dan seterusnya seringkali hanya mendapatkan upah yang kecil. Pengupahan yang kecil bagi seorang guru/dosen menjadi penanda bahwa ilmu pengetahuan belum begitu penting bagi masyarakat. Ilmu masih dianggap sebagai nilai yang ‘tak berguna’ sehingga pengajar ilmu hanya patut dibayar kecil.

Ironis memang saat seorang artis menyanyi dua lagu dibayar puluhan bahkan ratusan juta rupiah, seorang guru selama setahun hanya dibayar tidak lebih dari Rp6 juta. Gaji kecil seorang guru ditambah banyaknya beban, mendorong Kemendikbud untuk menyejahterakan mereka. Kemendikbud terus berupaya berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan agar ada dana alokasi khusus untuk kesejahteraan guru.

Kesejahteraan guru bukan hanya persoalan gaji, melainkan juga bagaimana mereka dapat mengajar dan belajar dengan baik. Guru perlu terus didorong belajar/update ilmu pengetahuan. Update ilmu pengetahuan akan mendorong terciptanya iklim belajar yang maju. Saat seorang guru mempunyai wawasan yang luas, maka imajinasi peserta didik semakin berkembang. Mereka akan terus dirangsang untuk mengetahui hal-hal baru dan menemukan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan.

E-learning

Seperti program digitalisasi sekolah yang kini diupayakan Kemendikbud, yang membagikan piranti komputer bagi sekolah di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Program itu membantu guru dan siswa dalam pembelajaran yang menyenangkan. Program itu pun sebagai upaya akselerasi pendidikan nasional di wilayah 3T. Wilayah itu yang seringkali kekurangan guru dan sulit diakses mendapatkan dukungan (supporting system) dengan model pembelajaran daring (e-learning).

E-learning bukanlah sebuah ancaman bagi sistem pembelajaran/pendidikan. Garth-James dan Hollis (2014) dalam Connecting Global Learners Using eLearning and the Community of Inquiry Model menyebut bahwa e-learning bukan halangan dalam membangun interaksi sosial, pengembangan aspek kognitif, dan pengajaran peserta didik. Bahkan, Garth-James dan Hollis menegaskan bahwa e-learning sebagai bagian pembelajaran global virtual memengaruhi proses keterlibatan siswa, refleksi, dan eksplorasi konsep untuk di­terapkan ke dunia nyata.

E-learning mendorong guru, peserta didik, dan kompenan sekolah aktif dalam pembelajaran. E-learning menjadikan guru dan peserta didik berada dalam ruang pemahaman dan proses belajar yang berkesinambungan. Guru dan peserta didik akan terus membangun interaksi sosial yang baik dalam me­ngem­bangkan aspek bakat dan minat. Mereka tak terbatas piranti digital dalam mengembangkan kajian dan aspek sikap hidup sebagai bekal menata peradaban.

Model pembelajaran itu pun memungkinkan peserta didik menyesuaikan dengan kemampuan atau metode belajar. Saat peserta didik belum paham apa yang disampaikan guru di ruang kelas, maka e-learning membantu mereka untuk mengingat dan mengulang pelajaran itu. Itulah yang memungkinkan guru dan peserta didik bekerja dan mengeksplorasi ilmu pengetahuan secara lebih dalam.

Praktik pemahaman dua arah inilah yang memungkinkan semua bertemu dalam kerangka kerja membangun keadabaan yang mulia. Akan banyak pengembangan aspek pendidikan yang tergali dari luar buku teks. Guru dan peserta didik menjadikan pengalaman sehari-hari sebagai basis pembelajaran.

Sistem e-learning akan semakin kukuh saat semua pihak membangun ‘manajemen pengetahuan’. Manajemen pengetahuan berarti pemerintah dan komponen pendidikan berada dalam ‘frekuensi’ yang sama dalam membangun nalar dan praktik pendidikan. Pendidikan bukan hanya milik pemerintah saja, melainkan juga sumbang saran dari banyak pihak akan menguatkan sistem ini. Ausserhofer (2002) yakin bahwa pendidikan berkelanjutan hanya bisa didukung lingkungan e-learning dan manajemen pengetahuan.

Pendidikan berkelanjutan menjadi titik tuju yang terus diupayakan pemerintah. Kemendikbud menyakini bahwa proses pendidikan bukan hanya masalah kebijakan dan keberanian melangkah, melainkan juga merupakan upaya terintegrasi dengan melibatkan banyak pemikiran dan harapan (big collaboration).

Kepemimpinan profesional

Dengan demikian, ke depan Kemendikbud membutuhkan kepemimpinan profesional, bukan sekadar kemampuan teknis. Pengalaman panjang di dunia pendidikan sangatlah penting. Hal itu disebabkan dunia pendidikan tidak sederhana dan bukan sesuatu yang parsial. Memimpin Kemendikbud perlu mengakar di masyarakat, bukan sekadar mendapat sanjungan dari kerja-kerja praktis.

Dukungan dari lapisan masyarakat sangat penting demi menjamin stabilitas kepemimpinan pemerintahan lima tahun ke depan. Seorang menteri perlu mempunyai basis masa dan pengalaman yang jelas. Kemampuan itu dapat menjamin bahwa kementerian tidak oleng dan tanpa arah.

Menteri yang hanya mengandalkan kemampuan teknis tanpa memiliki visi hanya akan menghambat laju kebangsaan dan kenegaraan. Pasalnya, pemerintahan dan menteri tidak berada di ruang vakum. Mereka berada pada ruang dialog kritis yang membutuhkan kepemimpinan yang kuat dan mempunyai visi.

Pada akhirnya, visi pendidikan nasional ala Profesor Muhadjir dalam memimpin Kemendikbud merupakan warisan yang perlu terus mendapat dukungan. Seorang menteri perlu mempunyai visi agar arah kerja kelembagaan tidak hanya berkutat dengan urusan praktis pragmatis. Semoga warisan ini terus tersemai sebagai sebuah ijtihad kebangsaan.

BERITA TERKAIT