14 October 2019, 05:20 WIB

Investor Asing masih Percayai Indonesia


E-1 | Ekonomi

ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
 ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

BANK  Indonesia (BI) menca-tat aliran investasi asing ke instrumen portofolio pasar keuangan domestik mencapai Rp195,5 triliun dari awal tahun hingga 10 Oktober 2019.

Gubernur BI Perry Warjiyo menilai realisasi tersebut cukup baik dan menunjukkan masih tingginya kepercayaan investor asing terhadap kondisi dan fundamen perekonomian Indonesia.

Indonesia masih menikmati kepercayaan investor portofolio asing di tengah tren penurunan suku bunga instrumen keuangan domestik ­menyusul pemangkasan beruntun suku bunga acuan BI 7-day reverse repo rate menjadi 5,25%.

Meski sudah tiga kali suku bunga acuan turun, BI meyakini tingkat bunga atau imbal hasil yang ditawarkan instrumen keuangan seperti Surat Berharga Negara (SBN) masih mampu menarik modal masuk.

“Itu menunjukkan kepercayaan diri terhadap ekonomi Indonesia maupun imbal hasil investasi dalam negeri terkait SBN masih cukup kuat dan terbukti dari berlanjutnya arus modal asing ke SBN,” ujar Perry seperti dikutip dari Antara.

Dari keseluruhan modal asing Rp195,5 triliun tersebut, sebanyak Rp140,6 triliun diinvestasikan ke SBN dan Rp52,9 triliun ke instrumen saham.

Adapun dalam sepekan terakhir (week to date) hingga 10 Oktober 2019, modal asing
masuk sebesar Rp3,04 triliun ke SBN. Namun, seiring dengan hal itu telah terjadi modal keluar Rp360 miliar dari pasar saham.

Menurut Perry, terjadi volatilitas arus modal ke instrumen saham karena tekanan dari fluktuasi ekonomi global.Kondisi global saat ini memang masih dirundung ketidakpastian karena dinamika perang dagang antara AS dan Tiongkok, penurunan harga komoditas, serta dinamika geopolitik seperti unjuk rasa besar-besaran di Hong Kong.

Namun, derasnya arus ­modal asing membuat per-gerakkan nilai tukar rupiah cukup stabil. Rupiah diperdagangkan pada level 14.140 per dolar AS.

Ekonom Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih, mengatakan katalis positif datang dari perundingan perseteruan dagang antara AS dan Tiongkok yang berakhir dengan sinyal positif setelah 15 bulan terakhir diombang-ambing ketidakpastian yang mengganggu rantai pasok perdagangan global.

”Perang dagang ini menjadi perhatian utama para pelaku ekonomi karena dampaknya yang cukup besar untuk menentukan arah pertumbuhan ekonomi global ke depan,” ujar Lana.  

Berbeda dengan rupiah, pergerakan IHSG saat penutupan perdagangan akhir ­pekan lalu melonjak 82,15 poin atau setara 1,364% ke posisi 6.105.  

IHSG sempat menyentuh level tertinggi di posisi 6.109 dan level terendah di 6.033 sebelum ditutup pada level 6.105.  (E-1)

 

BERITA TERKAIT