14 October 2019, 04:00 WIB

Petani di Lumbung Padi Teriak Butuh Irigasi


DD/J-2 | Megapolitan

MI/Dede Susianti
 MI/Dede Susianti
Hamparan areal persawahan di Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, kemarin.

JONGGOL, Cariu, dan Tanjungsari yang merupakan lumbung padi di bagian timur Kabupaten Bogor mengalami kekering­an. Hingga kemarin, masyarakat sudah empat kali melakukan salat khusus minta hujan.

Berdasarkan data Kecamatan Cariu, 90% lahan persawah­an dari total 2.610 hektare terdampak kekeringan.

“Tahun ini kondisi kekeringan terparah bila dibandingkan dengan tahun lalu. Cariu sebagai lumbung pangan atau penghasil padi terbanyak di Kabupaten Bogor jadi terdampak,” kata Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan Kecamatan Cariu, Marjuki, di Kantor Camat Cariu, kemarin.

Diketahui, ada 23 irigasi di Kecamatan Cariu. Irigasi yang mempunyai kapasitas cukup besar ialah Cihoe Cikumpeni yang mengairi 1.486 hektare (ha), irigasi Ciomas Tonjong (450 ha), Cilaya Ciputri (149 ha), dan Cibojong (107 ha).

“Kondisi infrastruktur irigasi-nya bagus. Hanya karena ­kering dan ketiadaan sumber air maka semua kering. Akibatnya 1.900-an hektare sawah di sini terdampak,” ungkap Sudomo, staf Seksi Ekonomi dan Pembangunan Kecamatan Cariu.

Oleh karena itu, pihaknya sangat berharap segera ­diba­ngun­kan waduk atau bendungan.
“Setuju dan urgen sekali sifatnya bendungan bagi warga kami di sini. Kalau dulu kemarau 4-5 bulan masih bisa, saat ini parah. Hujan datang, air besar, tapi dua hari sudah hilang, sudah habis,” ungkapnya.

Saat ini, lanjutnya, para petani terpaksa beralih tanaman, dari padi ke sayuran.

“Pada musim kemarau ini, daripada sawah enggak punya nilai, mereka berkebun tumpang sari seperti kacang-kacangan atau sayuran. Tapi karena sumber air enggak ada, mereka nyedot di ­Cibeet pakai mesin dan biaya jadi lebih mahal. Itu terpaksa dilakukan daripada enggak ada hasilnya dan hasilnya hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” jelas Sudomo.

Karena itu, Sudomo menekankan pentingnya pembangunan waduk. “Bukan hanya untuk petani, juga untuk sanitasi. Ada PDAM, tapi jaringannya baru di tiga desa, belum menjangkau semua,” ungkapnya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Bogor Siti Nuryanti menyebutkan sawah yang terdampak kekeringan di Tanjungsari seluas 135 ha, Cariu 207 ha, dan Jonggol 952 ha.

“Kerugiannya kira-kira mencapai Rp28 miliar,” tukas Siti.

Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Daerah Kabupaten Bogor Syarifah Sopiah mengatakan bahwa sebenarnya kabupaten sudah membuat DED Waduk Cijurey.

“Sudah lama, tapi waktu kita usul ke provinsi maunya Waduk Cibeet. Sekarang sudah mau mulai pembebasan lahan,” jelas Syarifah. (DD/J-2)

BERITA TERKAIT