13 October 2019, 20:20 WIB

Ma'ruf Amin Minta Penanganan Radikalisasi tidak Represif


Antara | Politik dan Hukum

ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman
 ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman
Ma'ruf berharap ke depan penanganan radikalisasi, intoleransi, dan terorisme bisa dilakukan secara lebih intensif.

WAKIL Presiden terpilih periode 2019-2024 Ma'ruf Amin meminta penanganan radikalisasi, intoleransi, dan terorisme di Indonesia tidak dilakukan secara represif.

"Pencegahannya lebih intensif, dan ke depannya dengan cara yang soft, artinya tidak represif tapi pendekatannya yang soft untuk menangkal mau pun mengembalikan mereka yang terpapar," ujar Ma'ruf di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta, seusai besuk Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, Minggu (13/10).

Ma'ruf berharap ke depan penanganan radikalisasi, intoleransi, dan terorisme bisa dilakukan secara lebih intensif, baik dari segi struktural mau pun kultural.

Dari segi struktural, kata dia, penanganan bisa dilakukan dengan melibatkan Majelis Ulama Indonesia, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah mau pun ormas-ormas Islam lainnya.


Baca juga: Negara Disebut Harus Terus Perangi Intoleransi dan Radikalisme


Sedangkan dari segi kultural, penanganan radikalisme, terorisme dan intoleransi dapat dilakukan dengan mengedepankan program deradikalisasi, tidak hanya dari hilir, tetapi juga dari hulu, sehingga dampak positif pencegahan dapat dirasakan secara menyeluruh.

Menkopolhukam sekaligus Ketua Umum PP PBSI Wiranto diserang oleh orang tidak dikenal saat melakukan kunjungan kerja di Pandeglang, Banten, Kamis (10/10) siang.

Akibat penyerangan tersebut, Wiranto dikabarkan terkena dua tusukan di perut dan sempat dirawat di RSUD Berkah, Pandeglang, kemudian dirujuk ke RSPAD Gatot Soebroto Jakarta.

Pelaku penusukan terhadap Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto yang bernama Syahril Alamsyah alias Abu Rara diduga terpapar paham radikal.

Afiliasi pelaku dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di Indonesia masih didalami. (OL-1)

BERITA TERKAIT