13 October 2019, 19:15 WIB

Turki Sebut telah Kuasai Perbatasan Utama Suriah


Melalusa Susthira K | Internasional

Bakr ALKASEM / AFP
 Bakr ALKASEM / AFP
Pejuang Suriah yang didukung Turki duduk di atas tank lapis baja di perbatasan kota Tal Thyad di Suriah.

MILITER Turki menyatakan telah mengambil kendali kota perbatasan utama Suriah, setelah terus melancarkan serangan terhadap para pejuang Kurdi sekalipun mendapat berbagai kecaman internasional.

Kementerian Pertahanan Turki mengatakan pasukannya merebut Ras al-Ain dari Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi pada Sabtu (12/10). Momen tersebut menjadi pertempuran paling sengit sejak Ankara melancarkan serangannya pada Rabu (9/10).

"Sebagai bagian dari operasi yang berhasil dilakukan dalam kerangka Operasi Perdamaian Spring, kota Rasulayn yang terletak di sebelah timur Eufrat telah dikendalikan," terang Kementerian Pertahanan Turki dalam utas Twitter-nya, Sabtu (12/10).

Namun SDF segera membantah klaim tersebut. SDF mengatakan pasukan Turki baru memasuki satu daerah di distrik industri Ras al-Ain saja, setelah berjam-jam baku tembak yang mendorong pasukan Turki mundur taktis dari daerah tersebut.

Jet tempur Turki dan unit artileri berat telah membombardir Ras al-Ain, salah satu kota perbatasan utama yang menjadi sasaran serangan Turki selama berhari-hari. Koresponden Al Jazeera juga melaporkan bentrokan telah terjadi di wilayah sekitar Tal Abyad, yang juga kota perbatasan utama selain Ras al-Ain.

"Ada juga penembakan yang lebih berat di Tal Abyad dan sekitarnya hari ini ," ungkapnya.

Turki mengatakan sebanyak 459 pejuang Unit Perlindungan Rakyat (YPG) telah ‘dinetralkan’, suatu istilah yang kerap diartikan terbunuh, sejak operasi dimulai. Kurdi membantah angka tersebut, dan mengumumkan sebanyak 29 pejuangnya telah tewas. Sementara itu, 4 tentara Turki juga terbunuh sejak serangan dilancarkan ke Suriah.

Turki memandang SDF didominasi Unit Perlindungan Rakyat (YPG), milisi Kurdi yang dilatih, sebagai perpanjangan dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK) ) yang sejak 1984 melakukan perlawanan terhadap Ankara.

Di tengah pertempuran sengit yang berlangsung Sabtu (12/10) kemarin, SDF juga menyatakan bahwa pihaknya tengah berjuang menghadapi dua front yakni Turki dan IS. Juru bicara SDF Redur Xelil menambahkan ofensif Turki juga telah menghidupkan kembali ancaman yang ditimbulkan oleh IS.


Baca juga: KTT India-Tiongkok Cetuskan Era Baru Hubungan Kedua Negara


"Kami sekarang bertempur di dua front, satu front melawan invasi Turki dan satu front melawan ISIS," ujar juru bicara SDF Redur Xelil dalam sebuah pernyataan

Meskipun korban jiwa terus meningkat, Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu menolak tawaran Presiden AS Donald Trump untuk menengahi antara pasukan Ankara dan YPG.

"Kami tidak menengahi, bernegosiasi dengan teroris. Satu-satunya yang harus dilakukan adalah para teroris ini meletakkan senjata," kata Cavusoglu kepada Deutsche Welle.

Sebelumnya, serangan darat maupun udara Turki ke Suriah dimulai tiga hari setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan penarikan pasukannya dari perbatasan kedua negara tersebut.

Penarikan pasukan AS tersebut meningggalkan SDF yang menjadi sekutu utama Washington dalam perang melawan IS dan sebuah kelompok yang memperluas kontrolnya di utara dan timur Suriah, di tengah perang antara Turki dan Suriah yang telah berlangsung selama delapan tahun.

Keputusan Trump tersebut segera menuai kritik domestik dan internasional yang dinilai mengkhianati janji dengan SDF, membahayakan stabilitas regional, dan mempertaruhkan kebangkitan IS.

Kecaman Internasional atas serangan lintas-perbatasan Turki telah meningkat. Trump pun memperingatkan operasi Turki tersebut mendatangkan bahaya besar dalam hubungan dengan sekutu Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), dan mengancam akan menjatuhkan sanksi pada Turki bila invasi dilakukan melampaui batas.

Adapun pada Sabtu (12/10), Jerman dan Prancis yang juga sekutu NATO, mengatakan mereka melarang beberapa ekspor senjata ke Turki. Tak mau kalah, ketua Liga Arab yang memimpin blok regional 22 negara jazirah Arab dan Afrika Utara menyerukan Dewan Keamanan PBB untuk mengambil langkah-langkah yang memaksa Turki menghentikan invasinya. (Aljazeera/OL-1)

BERITA TERKAIT