13 October 2019, 18:40 WIB

Puluhan Tahun Warga Mapitara di Sikka Tersandera Jalan Rusak


Alexander P Taum | Nusantara

MI/Alexander P Taum
 MI/Alexander P Taum
Sebuah ambulans melintasi jalan rusak di Kecamatan Mapitara, Kabupaten Sikka, NTT.

WARGA Kecamatan Mapitara, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, mengeluhkan ruas jalan di segmen  Waigete–Galit. Ruas jalan tersebut sudah puluhan tahun belum pernah diperbaiki Pemerintah Kabupaten Sikka.

Jalan daerah itu kini dibiarkan rusak parah. Akibatnya, waktu tempuh menuju Kota Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka, semakin lama. Bahkan, jalan yang rusak ini menyulitkan petugas mengangkut pasien Rujukan Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Puskesmas Mapitara. Transportasi hasil bumi juga terganggu.

Mapitara merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Sikka, NTT. Kecamatan ini berjarak sekitar 41 kilometer dari ibu kota Kabupaten Sikka. Pusat pemerintahannya berada di Desa Hebing. Wilayah Kecamatan Mapitara terletak di bagian selatan Kabupaten Sikka.

Jordi, sopir UPT Puskesmas Mapitara, ditemui Media Indonesia, Minggu (13/10), di jalan Galit menuju Puskesmas Mapitara, mengatakan, ruas Jalan Mapitara ini sudah rusak hampir puluhan tahun.

Ia berkisah, meski tidak nyaman membawa pasien di ruas jalan rusak parah ini, dirinya berkomitmen untuk membawa pasien lebih cepat ke rumah sakit atau puskesmas terdekat.

"Kalau saat bawa pasien melewati jalan rusak seperti ini pasti laju mobil harus pelan, apalagi kalau pasien gawat pasti harus lajunya pelan kalau buru cepat kasian juga pasiennya, bisa tambah parah," ungkapnya.

Namun, kalau pasien yang gawat darurat atau pasien dengan pendarahan terpaksa harus lebih cepat jalannya, agar bisa lebih cepat sampai di RSUD TC Hillers Maumere, demi menyelamatkan pasien. Ia mengatakan, risiko tersebut harus bisa diambil.


Baca juga: Marthen Douw Perjuangkan Aspirasi Masyarakat Papua


"Kami mengharapkan pemerintah segera memperhatikan jalan Waigete-Mapitara, sebab jalan ini merupakan satu-satunya jarak yang lebih cepat untuk jalur transportasi saat rujuk pasien.

 Memang di sini ada dua jalur yaitu jalur Bola-Hale dan jalur Waigete-Galit, tapi kalau jalur Bola-Hale jaraknya cukup jauh apalagi kalau untuk rujuk pasien, kalau Jalan Waigete-Galit jaraknya dekat hanya sekarang karena kondisi jalannya ini memang sangat rusat," pungkasnya.

Sementara Heriyonpi Hero, mengatakan, ruas Jalan Waigete-Galit sepanjang 28 kilometer, dari ruas itu baru 5 kilometer yang diaspal, sisanya merupakan rabat semen.

Dari puskesmas di Desa hebing sampai pertigaan jalan negara Kecamatan Waigete sekitar 30 km dan waktu perjalan sampai 1 jam lebih.

"Tahun 2018 hanya Jalan Waigete Pauramut desa persiapan Egon Buluk Kecamatan Waigete yang diaspal, itu pun hanya 5 km," ungkapnya.

Ia pun mengharapkan peningkatan Jalan Waigete-Galit dari rabat semen ke aspal, karena Kecamatan Mapitara merupakan daerah yang berada di sekitar Gunung api Egon.

"Bila sewaktu-waktu gunung api Egon meletus masyarakat bisa dengan cepat untuk melakukan evakuasi, kalau dengan kondisi jalan yang rusak seperti ini pasti masyarakat kesulitan untuk di evakusi yang lebih cepat," ujarnya. (OL-1)

BERITA TERKAIT