13 October 2019, 14:45 WIB

Warga Desa Egon Gahar Mencari Sinyal di Atas Batu


Alexander P Taum | Nusantara

MI/Alexander P Taum
 MI/Alexander P Taum
Mencari sinyal di atas batu Dusun Welinwatu

CUACA Minggu (13/10) pagi sangat cerah. Larik cahaya mentari pagi menyelinap  dari celah rating pepohonan. Langit biru pertanda terik akan menyengat lebih awal. Semilir angin pagi di Desa Egon Gahar membuai mata untuk kembali terlelap.

Ibu Guru di SDN Baokrenget, Desa Egon Gahar, Kecamatan Mapitara, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Once, mulai bergegas. Ia menatap sejenak ke langit biru dan merasakan angin sepoi-sepoi menyentuh kulitnya.

"Kalau ada angin dan cuacanya cerah seperti ini, pasti sinyalnya kuat, kalau hujan sinyal sama sekali hilang. Rumitnya lagi, pada saat sampai di sana sudah ada orang yang berdiri di batu, kita masih harus antre sebab hanya di empat buah batu itu sinyal handphone ada," ujar Ibu Guru Once, Minggu (13/10).

Sepeda motornya dipacu menuju Poskesdes. Jalanan menanjak. Ibu guru muda ini bergegas mencari sinyal telpon seluler. Ia menuju ke Poskesdes yang terletak di dusun Welinwatu, Desa Egon Gahar, Kecamatan Mapitara, berjarak kurang lebih 2 kilometer.

Once masih beruntung, sebab baru tiga orang menempati batu di belakang Poskesdes itu. Ia pun segera menempati batu yang lainnya. Di atas batu ini, Once menerima sejumlah pesan terutama dari kantor Dinas PKO berkaitan laporan Dapodik yang harus segera dikumpulkan.

"Ada beberapa berkas yang harus saya lengkapi dalam pengisian Daprodik, tetapi berkas itu apa saja, sehingga saya datang untuk menanyakan ke Dinas dan menerima pesan lanjutan," ungkapnya.

Ia memeriksa setiap pesan singkat yang masuk ke telepon selulernya. Sesekali, menelpon balik ke nomor yang mengiriminya pesan.

Baca juga: Sinyal dan Listrik Jadi Persoalan Laku Pandai

Sudah puluhan tahun, 2.000 warga Desa Egon Gahar terisolasi dengan dunia luar. Padahal, pemerintah kini tengah mengembangkan e-Government untuk pelayanan pemerintahan, e-warung untuk pelayanan KK Miskin serta pembelajaran lain yang memanfaatkan sinyal internet.

"Apalagi kami guru kalau mau mendapatkan informasi dari kabupaten atau mengirim laporan data Daprodik ke dinas PKO sangat sulit. Di batu ini, hanya bisa telepon tidak bisa gunakan internet. Kalau menggunakan internet untuk mengirim laporan ke dinas PKO di kabupaten, kami harus pergi ke Kecamatan Waigete, karena di sana jaringan sinyalnya sangat kuat untuk menggunakan internet dan telepon. Dari sini jaraknya mencapai 10 km," terangnya.

Once menambahkan, biasanya laporan dari SDN Baokrenget, Desa Egon Gahar, Kecamatan Mapitara, Kabupaten Sikka, sering terlambat dikirim, karena untuk mendapatkan sinyal telpon saja susah apalagi sinyal internet.

"Handphone kalau sudah kami bawa pulang ke rumah tidak bisa digunakan lagi, pasti sinyalnya sudah hilang, terpaksa handphone kami non-aktifkan," bebernya.

Oncee sangat mengharapkan perusahaan selular bisa memasang tower di daerah mereka agar bisa berkomunikasi dengan pihak luar.

Sementara itu, Warga Desa Egon Gahar lain, Jufri, mengaku harus berjalan kaki sejauh 2 km ke Dusun Welinwatu untuk mencari sinyal selular.

"Kalau pindah dari baru ini pasti sinyalnya sudah hilang dan kalau ada angin dan cuacanya bagus pasti sinyalnya kuat, kalau hujan sinyal sama sekali hilang. Kami harus berkomunikasi dengan rekan bisnis di Maumere untuk memuat komoditi yang sudah saya kumpulkan di desa," kata Jufri.

Hampir setiap orang di desa mereka memiliki telepon seluler, namun alat komunikasi ini hanya berfungsi bila datang kesini dan berdiri di batu.

Jufri mengaku urusan mencari sinyal menghabiskan waktu berjam-jam. Urusan mencari sinyalal menghambat pekerjaannya sebagai wirausaha.

"Waktu satu sampai dua jam di tempat sinyal ini menyita banyak waktu. Produktivitas kita terhambat," keluhnya.

Jufri pun berharap ada perhatian dari pemerintah memperhatikan kesulitan warga desa Egon Gahar.(OL-5)

 

BERITA TERKAIT