13 October 2019, 02:35 WIB

Cholil Mahmud Musikalisasi Puisi Berkembang Bagus


MI | Weekend

MI/Tosiani
 MI/Tosiani
Musikus Cholil Mahmud

MUSIKUS Cholil Mahmud, 43, berharap musikalisasi puisi seperti yang pernah dilakukan duo Ari-Reda juga makin berkembang.

Dengan demikian ada regenerasi. Ia ingin para pemusik mau memainkan musik yang berasal dari puisi. Hal itu akan makin menambah vatiatif genre musik yang ada.

“Semoga apa yang sudah dilakukan Mbak Reda dan Mas ari bisa dilanjutkan pemusik pemusik lain, terus mau memainkan musik yang berasal dari puisi. Mungkin juga variasi genre alirannya lebih variatif,” ujarnya.

Upaya memopulerkan musikalisasi puisi, menurutnya, harus dilakukan berbagai pihak. Tidak bisa hanya dari satu sisi, yakni musisinya. Pihak lain, seperti media dan juga pendengarnya juga harus ikut mendukung. Upaya dari berbagai pihak ini akan membuat musikalisasi puisi lebih berkembang.

“Macam-macam, mesti ada upaya dari berbagai pihak, termasuk dari musisinya, dari labelnya, dari medianya mau dukung itu. Jadi tidak hanya dari pemusiknya, tapi juga dari macam-macam pihak, yang membuat dia bisa ramai. Bukan hanya, susah juga kalau mengharapkan pendengarnya melakukan effort terlalu besar untuk mencari atau meng upayakan lebih lanjut,” katanya.

Jika semua pihak telah bekerja sama dalam melakukan promosi, Cholil yakin musikalisasi puisi akan sampai pada telinga pendengarnya. Selanjutnya, biar pendengar yang memutuskan untuk suka atau tidak suka pada aliran musik ini. Namun demikian, setidaknya akan ada alternatif dalam bermusik.

Ia meyakini, ada banyak dampak positif yang bisa dipetik dari musikalisasi puisi untuk anak muda sekarang. Seperti melakukan interpretasi pada puisi, membuat makna yang semula kabur menjadi lebih jelas, dan terang benderang.


Perkembangan musik

Dia juga melihat ada gairah yang luar biasa pada perkembangan musik di era sekarang. Musik lebih banyak berkembang melalui ranah digital seperti media sosial dan internet.

“Kalau dipantau dari jauh, banyak banyak saja musik Indonesia sekarang. Bagus-bagus saja. Maksudnya ya memang metode penyebarannya di ranah media sosial, internet, digital,” ujar Cholil kepada Media Indonesia beberapa saat lalu di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Dari pengamatannya, lanjut Cholil, secara fi sik dan kasatmata, memang musik di zaman sekarang tidak seperti di zaman dahulu. Meski riuhnya masih sama. Saat ini ia melihat ada kecenderungan pola konsumsi musik yang berubah. Lebih banyak orang mengonsumsi musik melalui distribusi di media digital. “Fisik enggak seperti zaman dulu. Tapi ya
memang pola konsumsinya berubah saja. Tetap ramai,” ujar Cholil.

Pada era sekarang, katanya, gaya bermusik tiap-tiap musikus juga berbeda. Masing-masing sudah menunjukan karakter bermusiknya. Bagi Cholil, Danilla itu unik.

“Style musik beda karena mulai punya karakter masing-masing. Misalnya, ada Danilla yang ngeband juga, solois tapi rasanya ngeband,” katanya.

Lulusan College of Art and Science, New York University, ini menilai memang ada banyak karakter musik yang terinspirasi dan ada pengaruh dari luar negeri. Akan tetapi, ia melihat para musikus sekarang sudah sangat cerdas untuk memisahkan bagaimana mereka terinspirasi, dan saat mana mereka membuat karya yang khas dan sesuai karakter mereka sendiri.

“Saya enggak terlalu tahu persis apakah satu band tertentu mirip banget dengan pemusik luar. Tapi kalau mereka ter-influence pastilah, tapi mereka cerdas untuk memisahkan bagaimana mereka terinspirasi dengan membikin karya sendiri yang sidik jarinya itu khas mereka,” ujar Cholil. (TS/M-4)

BERITA TERKAIT