13 October 2019, 00:45 WIB

Mahakarya dari Manusia-Manusia yang Menyugah


Fathurrozak | Weekend

DOK. POPLICIST
 DOK. POPLICIST
Film Perempuan tanah jahanam

SINEAS Joko Anwar hingga kini masih terus mencoba pengalaman-pengalaman sinematiknya melalui berbagai genre, yaitu komedi, drama, noir, pahlawan laga, horor, dan thriller. Dari sekian genre yang campur aduk itu, tampaknya ia memang selaras untuk mengerjakan film dengan nuansa gory.

Perempuan Tanah Jahanam, filmnya yang kedelapan, sudah dipersiapkan sejak sedekade silam. Namun, saat itu, pada 2009 secara estetika belum bisa mengakomodasi visi sinematiknya. Ia rela menunda dan penantiannya terbukti layak. 

Joko selalu punya kepekaan untuk menggarap karakter yang berangkat dari latar belakang kelas menengah. Manusia yang punya perjuangan pada masalah-masalah kehidupan dan benturan ekonomi. Seperti tokoh Sari (Tara Basro) si mbak-mbak ­salon dan Alek (Chicco Jericho) pembuat subtitle untuk CD film bajakan dalam filmnya, A Copy of My Mind. 

Lalu,­Sancaka (Abimana), seorang petugas keamanan percetakan koran dan Wulan (Tara Basro), mantan perawat yang menjelma aktivis.

Di Perempuan Tanah Jahanan, Joko menyoroti karakter Maya (Tara Basro), yang berkarib dengan Dini (Marissa Anita). Dipantik satu kejadian pada suatu malam, keduanya banting setir dari penjaga pintu tol menjadi pedagang baju di pasar. 

Secara perlahan Joko yang juga bertindak sebagai penulis naskah, menaruh bibit sebab-akibat yang bisa dimanfaatkan penonton untuk menangkap kausalitas tindakan-tindakan keterdesakan Maya dan Dini.

Bisnis keduanya yang tak kunjung moncer dan pengalaman pada suatu malam yang janggal, menggoda keduanya untuk tergesa keluar dari kesusahan ekonomi. 

Semasa bodoh dengan nyata atau fantasi desa asal Maya, keduanya nekat mendatangi Harjosari. Solusi atas keadaan manusia kere kota yang tidak mengenal lagi batas kemudaratan. Pandangan-pandangan para karakternya terhadap hidup juga menjadi penguat bangunan narasi. Misalnya, Dini menyayangkan tanah pekuburan di Harjosari yang menurutnya bisa dimanfaatkan untuk hunian. 


Impetigore

Perempuan Tanah Jahanam juga punya judul internasional yang sekaligus merupakan judul awal film ini, Impetigore. Rekaan kata dari impetigo dan gore. 

Impetigo merupakan penyakit kulit menular karena infeksi bakteri stafilokokus dan streptokokus, ditandai dengan lepuhan yang membentuk koreng kuning kecokelatan. 

Impetigo juga ditandai dengan rasa perih dan benjolan yang berisi cairan (blister) pada bagian terluar kulit. Film ini menyajikan narasi suatu desa yang terkena kutukan. Setiap bayi lahir tanpa kulit. Oleh sebab itu, harus segera diambil nyawanya oleh Ki Saptadi (Ario Bayu).

Kecerdikan dari film ini ialah horor yang bukan diciptakan lelembut atau hantu seperti lazimnya dijumpai dalam kultur horor Indonesia, termasuk pada garapan horor Joko sebelumnya, reboot film Pengabdi Setan. Perempuan Tanah Jahanam berada pada sisi yang mengupas kekejian manusia-manusianya, yang mengawinkan kejanggalan lokasi, serta serangan desain audionya yang berperan mayor. Suara-suara yang sipongang, alih-alih bahana pekak.

Dalam filmnya ini, lagi-lagi Joko juga kembali menyodorkan keluarga imperfek. Ia seolah-olah menggugat adanya keluarga bahagia-perfek-sejahtera. Baginya, keluarga ialah kerapuhan. Suatu konsep yang perlu didekonstruksi. 

Pada paruh lain, film ini juga memberikan ruang untuk para karakter perempuan mengambil peran serta menentukan keputusan hidup masing-masing. Nyi Misni (Christine Hakim), Maya, Dini, dan Ratih (Asmara Abigail) ialah karakter-karakter dengan kompleksitas yang menggulirkan plot. Kualitas akting mereka menjadi daya kekuatan dan mempertebal kesolidan kisah yang terbangun.

Di balik kengerian dan teror yang muncul secara visual, Perempuan Tanah Jahanam lebih jauh menguliti perangai kemanusiaan kita. Yang mungkin saja, tanpa kulit yang melapisi, kita jualah yang tambung. (M-2)

BERITA TERKAIT