13 October 2019, 00:25 WIB

Kanca Ngajeng


Ono Sarwono Wartawan Media Indonesia | Weekend

MI
 MI
Ono Sarwono Wartawan Media Indonesia

REALITAS politik di parlemen saat ini menarik dicermati. Kini semakin banyak kaum perempuan dan milenial yang menjadi wakil rakyat. Pimpinan lembaga legislatif pun, untuk pertama kalinya, diketuai perempuan. 

Diharapkan, dengan kian banyaknya keterwakilan perempuan dalam lembaga tersebut, peran dan fungsi serta produk-produk legislasi jauh lebih baik ketimbang sebelumnya. Saatnya mereka menunjukkan kualitas dan integritas sebagai wakil rakyat yang mumpuni dan tepercaya.

Terkait dengan kehebatan perempuan mengemban tugas, ada cerita menarik dalam dunia wayang, yakni ketika Pandawa mengangkat Srikandi sebagai senapati untuk menghadapi senapati Kurawa, Resi Bhisma, di babak awal perang Bharatayuda. Di tangan putri kelahiran Pancala itu, Bhisma yang semula tidak mungkin dikalahkan, ternyata begitu mudah ditaklukkan. 


Perang antarresi

Syahdan, Sri Bathara Kresna tidak berhasil mengemban misi sebagai duta Pandawa ke Astina. Prabu Duryudana kukuh mempertahankan kekuasaannya atas negara Astina dan Indraprastha. Ini kegagalan ketiga duta Pandawa setelah sebelumnya juga menimpa Drupada dan Kunti Talibrata.

Berdasarkan perjanjian, Duryudana seharusnya memberikan sebagian wilayah Astina dan mengembalikan Indraprastha seutuhnya kepada Pandawa setelah tuntas menjalani hukuman pembuangan di hutan Kamyaka selama 12 tahun dan penyamaran dalam waktu satu tahun. 

Namun, Duryudana mengingkarinya. Dia tegas menolak memberikan dan mengembalikan kedaulatannya atas kedua negara itu, bahkan untuk sejengkal tanah sekalipun. 
Kekuasaannya itu akan ia pertahankan hingga tetes darah penghabisan.

Akibat sikap keras Duryudana itu, perang Bharatayuda akhirnya tidak bisa dihindari. Inilah perang Pandawa melawan Kurawa, dua keluarga saudara sepupu trah Begawan Abiyasa. Perang memperebutkan kekuasaan itu sejatinya melambangkan peperangan antara keutamaan dan kezaliman.   

Pandawa tidak memperhitungkan, bahkan kaget ketika Kurawa melantik Resi Bhisma sebagai senapati di awal peperangan. Keluarga keturunan Pandu-Kunti/Madrim itu pun tidak menduga Bhisma bersedia dan rela menjadi senapati Kurawa yang jelas-jelas rezim inkonstitusional.

Tentu, tidak ada satu pun dari kelima kesatria Pandawa yang berani menghadapi Bhisma. Hal ini bukan karena Bhisma memiliki kesaktian tiada tanding, melainkan priyayi sepuh ini adalah pepundennya sendiri. Apalagi, Bhisma sesungguhnya ahli waris takhta Astina yang sedang diperebutkan.

Di tengah kegalauan, Pandawa kedatangan tamu Resi Seta, putra sulung Prabu Matswapati, raja negara Wiratha. Seta menyatakan siap menjadi senapati Pandawa menghadapi Bhisma. Tekadnya, ini merupakan balas budi kepada Puntadewa dan keempat adiknya yang telah berjasa besar memulihkan stabilitas keamanan Wiratha ketika terjadi ontran-ontran yang dikomandani trio koalisi Kencakarupa-Rupakeca-Rajamala.      

Peperangan antara dua pasukan yang masing-masing dipimpin Bhisma dan Seta berlangsung sengit. Banyak prajurit kedua belah pihak yang tewas. Namun, sudah seperti diperhitungkan semula, Bhisma tidak bisa dikalahkan. Seta akhirnya gugur di tangannya.
Kemenangan Bhisma di babak awal perang itu disambut sukacita Duryudana dan seluruh jajaran Kurawa. Mereka yakin pihaknya akan memenangi peperangan karena tidak ada manusia di marcapada yang mampu menandingi Bhisma. Semalam suntuk Kurawa berpesta.


Bhisma pasrah

Sebaliknya, Pandawa dilanda kemurungan. Puntadewa, sulung Pandawa, malah ingin Bharatayuda diakhiri saja. Ia memilih menerima apa pun risikonya asal perang tidak dilanjutkan. Apalagi, sumber peperangannya ia nilai sebagai hal remeh atau sepele, urusan duniawi.

Kresna yang menjadi botoh Pandawa lalu memberi pencerahan tentang hakikat Bharatayuda. Menurutnya, ini bukan perang biasa, melainkan perang suci. Hukum jagat mesti ditegakkan, bahwa kezaliman harus disirnakan dari muka bumi, siapa pun mereka. Apakah itu saudara atau pepunden sendiri. Kewajiban kesatria menegakkannya.

Namun demikian, Pandawa tidak bersedia berhadapan dengan Bhisma di medan laga. Malah, Pandawa memilih mati saja jika harus melawan Bhisma. Inilah untuk kali pertama Pandawa mengemohi pemikiran Kresna.

Pada situasi demikian, Kresna lalu meminta izin Arjuna untuk merelakan istrinya, Srikandi, maju ke pelagan. Lagi-lagi, Pandawa menghadapi pilihan yang sulit. Alasannya, Srikandi bukan lawan yang seimbang, apalagi ia perempuan. Namun, setelah diyakinkan, Arjuna (Pandawa) manut kepada Kresna, pemegang Kitab Jitabsara, buku yang berisi rahasia perang Bharatayuda.

Memang bukan tanpa alasan Kresna memilih Srikandi untuk dihadapkan melawan Bhisma. Putri bungsu Prabu Drupada, raja Negara Pancala, itu piawai memanah. Ketitisannya melepas jemparing buah dari kedisplinan serta ketekunannya berguru kepada Arjuna.

Berkat kehebatannya memanah, Srikandi diberi kepercayaan oleh Arjuna menjaga keamanan Kesatrian Madukara. Kodratnya, Srikandi yang memiliki jiwa prajurit, mampu mengemban amanah itu dengan baik.

Maka itu, ketika Kresna menunjuknya sebagai senapati, Srikandi merasa sangat terhormat. Baginya, ini merupakan kesempatan guna membuktikan jiwa keperwiraan serta pengorbanannya bagi bangsa dan negara.

Kurawa menyepelekan Srikandi. Namun, sungguh di luar nalar semua yang berseteru, Bhisma justru merasa inilah saatnya menyusul jantung hatinya, Dewi Amba, yang mendahuluinya ke alam baka. Baginya, hanya Srikandi yang bisa mengantarkan keinginannya pamit dari dunia fana.

Senyatanya, Srikandi bukan lawan yang sebanding Bhisma. Namun, Bhisma merasa dalam diri Srikandi ada ‘roh’ Amba yang dahulu mati karena kena panahnya yang terlepas tanpa sengaja. Maka dalam peperangan itu, Bhisma hanya pada posisi pasrah dengan senyum terus mengembang.

Akhirnya, Bhisma gugur kena panah Srikandi, peristiwa yang tidak pernah terbayangkan oleh siapa pun. Kurawa dan Pandawa sama-sama menangisi kepergian pepunden mereka. Namun, sang resi meminta semuanya untuk mengikhlaskannya.


Garda terdepan

Benang merah kisah di atas, tidak bermaksud mengungkit isu gender, sesuatu yang awalnya tidak bisa diatasi para kesatria (laki-laki), tetapi ternyata begitu gampang dieksekusi perempuan. Filosofinya, ada kekuatan pada perempuan yang tidak dimiliki laki-laki.

Konteks dengan kondisi kebangsaan, dengan kian banyaknya perempuan sebagai wakil rakyat, pamor lembaga legislatif diharapkan menjadi cemerlang. Muncul ‘Srikandi-Srikandi’ yang gagah berani memperjuangkan kepentingan rakyat dengan jujur, tulus, ikhlas, dan sepenuh hati. 

Dengan demikian, stereotipe kuna perempuan adalah kanca wingking, yang hanya mengurusi dapur (rumah tangga) lenyap dari peradaban demokrasi kita. Yang ada ialah perempuan-perempuan kanca ngajeng, yang berperan di garda terdepan dalam perjuangan demi bangsa dan negara. (M-2)

BERITA TERKAIT