13 October 2019, 01:10 WIB

Antirokok dan Loyalis Jamu


MI | Weekend

MI/Adam Dwi
 MI/Adam Dwi
Henry Saragih Ketua Serikat Petani Indonesia

AKTIVIS dikenal sebagai profesi dengan gaya hidup unik. Identik dengan sering bergadang, telat makan, dan tidak terpaku pada rutinitas. Pola hidup seperti itu tentu harus diimbangi dengan upaya kesehatan. 

Sejak 35 tahun lalu, Henry Saragih meniti jalan sebagai aktivis pertanian. Bukan waktu yang pendek. “Saya menjalani kehidupan sebagai aktivis, umur 55 ini kan sudah hampir 35 tahun. Sejak mahasiswa sudah begitu,” ujar Henry saat ditemui Media ­Indonesia di Kantor Serikat Petani Indonesia, Jakarta, Kamis (10/10).

Ia menghabiskan banyak waktu untuk melakukan perjalanan, mengunjungi petani di perdesaan Indonesia, serta menghadiri pertemuan internasional. Ia berbagi cara untuk menjaga kesehatan di tengah padatnya aktivitas, salah satunya dengan tidak merokok. 
“Saya enggak pernah merokok dari dulu,” tambahnya.

Ia juga selalu menyempatkan diri untuk berolahraga. Sebagai seorang anak petani, olahraga yang ia lakukan tentu sembari bertani. Namun, menurutnya, tak jarang pula ia ikut badminton.
“Namun karena anak petani, hari-hari adalah bertani. Tapi di desa ya ada badminton,” sambungnya.

Saat ini, di tengah aktivitas padatnya, Henry punya kebiasaan baru, yakni jalan kaki. Kesukaan yang berdampak positif pada tubuh. Ia mengaku tidak menghabiskan waktu lama. “Setengah jam sehari untuk kebugaran,” ujarnya.

Henry juga mengusahakan untuk mengonsumsi makanan lokal dan jamu. Makanan lokal dimaksudkannya sebagai kuliner ­daerah. Ketika ia berkunjung ke daerah tertentu, ia mengonsumsi makanan tersebut.

“Saya tetap berusaha memakan makanan lokal kita. Kalau berada di luar, ya, memang makan makanan lokal yang ada di sana,” tegasnya.

Adapun untuk jamu, ia memercayakan pada hasil pertanian lokal. Ia terbiasa dengan jamu berbahan temu lawak, kunyit, beras kencur, dan jahe merah.

“Minum jamu-jamuanlah. Kebetulan saya di Sumatra, yang biasa, ya, temu lawak, kunyit, beras kencur, dan jahe merah,” tambahnya.
Bagi Henry, kuliner lokal bukan hanya soal kenyang. Setiap daerah di Indonesia punya ciri masing-masing. Setiap suku punya kekhasan dalam soal makanan. Hal itu juga menarik bagi Henry. 
Ada perbedaan bahan makanan dilihat dari faktor wilayah. Henry mencontohkan masyarakat yang tinggal di wilayah pegunungan, seperti Simalunggun, Karo, Batak Toba banyak menggunakan asam dan andaliman. Sementara itu, masyarakat di wilayah pesisir pantai lebih banyak menggunakan santan dan kemiri. 
“Sebenarnya, kita banyak kebudayaan pangan. Suku-suku kita sudah lama punya tradisi makan,” terusnya.

Ia bangga pada nenek moyang bangsa Indonesia yang mampu memanfaatkan sumber daya melimpah. Menurutnya, budaya pangan yang diwariskan nenek moyang sudah sedemikian maju dan harus dikembangkan generasi sekarang.

“Saya pikir kita sebagai bangsa yang sangat hebat sudah menggunakan kekayaan yang kita punya, rempah-rempah, maupun tanaman. Menurut saya itu menggambarkan betapa kayanya kita. Itu sudah lahir dari kebudayaan kita. Indonesia bisa bertahan sesungguhnya karena punya kebudayaan. Ini yang harus kita kembangkan dalam pertanian. Kita sebenarnya sudah punya kebudayaan pertanian jauh sebelum zaman ilmu pengetahuan modern ataupun teknologi 4.0,” tegasnya. (Zuq/M-2)

BERITA TERKAIT