12 October 2019, 07:15 WIB

BNPB Pastikan Berita Ambon dan Seram akan Hilang Hoaks


mediaindonesia.com | Humaniora

Dok MI
 Dok MI
Hoaks

BEREDAR luas melalui media sosial berita palsu atau hoaks tentang posisi Ambon lease tepat di atas tebing jurang palung laut paling dalam dunia. Berita itu tidak benar sehingga masyarakat tidak perlu panik atau khawatir terkait dengan kondisi yang berkembang akhir-akhir ini.

Melalui pesan yang disampaikan ahli tsunami BNPB Abdul Muhari kepada mantan Gubenur Maluku Karel Ralahalu, Jumat (11/10), beberapa penjelasan diberikan terkait kabar viral potensi tsunami di Maluku, khususnya Ambon dan Seram.

Muhari menyampaikan bahwa berita viral tersebut adalah hoaks. Gambar batimetri diedit sedemikian rupa dan diberikan keterangan seakan-akan ilmiah tetapi bertujuan menyebarkan ketakutan kepada masyarakat.

"Gambar tersebut bukanlah foto satelit 3D karena satelit tidak bisa membuat foto dasar laut apalagi hingga kedalaman 7 km di bawah permukaan laut. Gambar tersebut hanyalah data batimetri biasa (tersedia banyak di internet) yang kemudian diberi efek ketinggian dan kedalaman yang lebih signifikan seakan-akan data ini baru padahal data ini adalah data lama dan data biasa saja," ujar Muhari melalui pesan digital, Jumat (11/10).

Baca juga: Hanya Lima Provinsi di Indonesia Bebas Likuefaksi

Muhari menegaskan asumsi jika terjadi gempa dari palung Banda akan menyeret Pulau Ambon dan Seram adalah tidak benar.

"Belum ada dalam sejarah gempa dan tsunami di dunia ada gempa yang menghilangkan satu pulau sebesar Ambon, apalagi sebesar Pulau Seram."

Muhari juga mengatakan jika gempa di kawasan Maluku berpotensi menimbulkan longsoran lokal seperti yang terjadi di Palu pada 2018 lalu atau di Semenanjung Elpaputih tahun 1899 benar adanya, tetapi skalanya lokal.

"Ini harus kita sikapi dengan bijak dengan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan persiapan rencana evakuasi mandiri yang baik," sambung Muhari yang pernah bekerja di Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Terkait penelitian potensi patahan palung Banda oleh Jonathan M. Pownal Gordon S Lister dan Robert Hall, ia menyampaikan penelitian tadi telah dipublikasikan pada 2016.

"Jadi bukan yang baru saja dipublikasikan," tegas Muhari.

Penelitian tersebut tidak membahas sama sekali mengenai potensi tsunami atau potensi gempa yang bisa menyeret Pulau Ambon dan Seram.

"Bahkan, dalam hasil penelitian tersebut sangat jelas disebutkan tidak ada bukti bahwa segmen palung Banda tersebut adalah segmen seismik aktif. Jadi jika ada berita atau tulisan yang mengkaitkan hasil penelitian tersebut dengan prediksi-prediksi kejadian gempa atau tsunami yang akan terjadi di Ambon maka itu adalah hoaks," ujar Muhari.

Sehubungan dengan berita viral yang beredar di media sosial, jejaring sosial digital, maupun dari mulut ke mulut, masyarakat diimbau tidak terpancing terhadap berita palsu tadi. Berita seperti ini sengaja ditimbulkan untuk menimbulkan rasa khawatir, panik dan takut di tengah-tengah masyarakat.

"Masyarakat diharapkan mengecek informasi resmi potensi bahaya dan parameter gempa atau tsunami dari sumber resmi seperti BMKG, BNPB atau pun BPBD setempat untuk menyikapi berita atau informasi yang tidak benar," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Agus Wibowo dalam keterangan resmi, Sabtu (12/10). (RO/OL-2)

BERITA TERKAIT