12 October 2019, 07:40 WIB

Presiden Perintahkan Tambah Pengamanan


Ferdian Ananda Majni | Politik dan Hukum

ANTARA FOTO/Galih Pradipta
 ANTARA FOTO/Galih Pradipta
Presiden Joko Widodo menuju kendaraan usai menjenguk Menkopolhukam Wiranto di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Kamis (10/10/2019). 

"PAK, saya ingin segera pulang ikut ratas lagi."

Begitu selintas Menko Polhukam Wiranto menjawab Presiden Joko Widodo yang mengunjunginya di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, kemarin.

"Saya baru menjenguk Menko Polhukam Bapak Wiranto. Alhamdulillah kondisinya sudah stabil, semakin baik tadi bisa berkomunikasi sudah berbicara dengan saya," kata Presiden seusai menjenguk Wiranto untuk kali kedua di rumah sakit setelah ditusuk seseorang bernama Syahrial Alamsyah alias Abu Rara yang diduga anggota Jamaah Ansharut Dhaulah (JAD) Bekasi di Kecamatan Menes, Pandeglang, Banten, Kamis (10/10).

Untuk mengantisipasi peristiwa serupa tidak terulang lagi di masa mendatang, Jokowi memerintahkan kepolisian untuk meningkatkan pengamanan terhadap para pejabat negara.

"Saya sudah memerintahkan Kapolri agar pejabat-pejabat diberi penambahan pengamanan meskipun sudah ada agar peristiwa seperti dialami Menko Polhukam Bapak Wiranto tidak terulang," lanjut Jokowi.

Peristiwa penusukan Wiranto tidak mengubah kebiasaan Presiden Jokowi berbaur dengan rakyat. Jokowi menyebut kebiasaan swafoto dengan rakyat saat kunjungannya ke daerah tidak dihilangkan.

"Ya, masihlah, selfie (swafoto) kan enggak apa-apa. Biasa saja, tetapi kewaspadaan Paspampres lebih ditingkatkan setelah peristiwa kemarin," ujar Jokowi di sela-sela pertemuannya dengan anak-anak Papua, di beranda belakang Istana Merdeka, kemarin.

Sementara itu, dalam kunjungannya menjenguk Wiranto, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menyatakan aksi itu tidak mencerminkan budaya masyarakat Indonesia.

"Kita prihatin dengan aksi semacam itu, bukan budaya kita. Harus kita hindari semua bentuk kekerasan. Saya janji datang lagi karena beliau tadi belum bangun. Beliau senior saya, kewajiban kita untuk saling menghormati," ungkap Prabowo.

Sumber: Mabes Polri

 

Mengejar

Karopenmas Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan tersangka Syahrial Alamsyah alias Abu Rara menyerang Wiranto secara spontan.

"Dia punya framing sasaran amaliah ialah thogut. Kalau enggak lembaga pemerintah, ya kepolisian," kata Dedi.

Abu Rara ialah simpatisan jaringan teroris JAD yang berafiliasi dengan pimpinan JAD Bekasi, Abu Zee, yang ditangkap Densus 88 Antiteror September 2019. Menurut Dedi, Abu Rara hanya simpatisan dalam kelompok JAD Bekasi.

Dalam pemeriksaan polisi, Abu Rara pun mengaku depresi karena mengetahui Abu Zee sudah ditangkap. Dia beranggapan akan ditembak karena itu mengajak istrinya, Fitri Andriana, berkeliling mencari momentum untuk melakukan penyerangan di Alun-Alun Menes.

"Dia direkrut Abu Zee dan sempat dinikahkan lalu pergi. Komunikasi fisik tidak pernah. Dari hasil pemeriksaan, Abu Rara berkomitmen dengan istri, 'kamu nyerang anggota polisi, saya menyerang pejabat. Saya ditangkap, saya melawan semaksimal mungkin. Saya ditembak, ditembak mati, jihadnya berhasil. Kamu melakukan perlawanan sebisa mungkin'," urai Dedi.

Lebih lanjut, Dedi memaparkan kelompok JAD Bekasi pimpinan Abu Zee terkait dengan penyerangan terhadap pos polisi Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, Juni 2019.

Setelah mendalami kelompok Abu Zee, lanjut Dedi, Densus 88 melakukan penangkapan di tiga tempat, yakni Bandung, Manado, dan Bali. Dedi memastikan, Densus 88 masih mengejar mastermind yang mengoordinasi semua kelompok itu. "Densus 88 bergerak agar tidak ada serangan terorisme, khususnya yang mengganggu kegiatan nasional." (Gol/Mal/X-3)

BERITA TERKAIT