12 October 2019, 07:20 WIB

Mencari Jalan Menuju Wembley


Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group | Sepak Bola

MI/Seno
 MI/Seno
Dewan Redaksi Media Group, Suryopratomo 

SKANDAL sepak bola di Inggris yang terkuak 26 September 2016 merupakan cerita kelam bagi perjalanan hidup Sam Allardyce. Ia dipaksa mundur dari jabatan sebagai pelatih Inggris meski baru sekali memimpin Three Lions bertanding di lapangan hijau.

Kasus korupsi yang diungkap The Daily Telegraph membuat semua yang terlibat dalam kongkalikong kontrak pemain dengan sindikat Asia dilarang untuk terlibat lagi dalam kegiatan sepak bola seumur hidup.

Di tengah skandal yang hampir memurukkan sepak bola Inggris, restorasi harus segera diambil. Apalagi, Inggris ketika itu sedang memulai perjuangan untuk bisa lolos ke Piala Dunia 2018. Pilihan terbaik yang ada menunjuk pelatih timnas Inggris U-21 sebagai caretaker. Gareth Southgate pun mendapat tanggung jawab untuk menggantikan Allardyce.

Di luar dugaan semua orang, Southgate menjadi caretaker yang baik. Ia berhasil membawa Three Lions lolos ke Rusia sebagai juara Grup F. Prestasi itulah yang membuat Football Association menunjuk Southgate menjadi pelatih penuh Inggris untuk masa kontrak selama empat tahun.

Namun, FA sangat menyadari Southgate merupakan pelatih debutan. Meski pernah membawa tim Inggris U-21 lolos ke putaran final Kejuaraan Eropa 2015, tim asuhan Southgate terhenti di penyisihan grup. Karena itu, FA tidak menargetkan apa pun kepada Southgate di Piala Dunia 2018.

Ternyata di Rusia prestasi Inggris begitu cemerlang. Skuad St George's Cross mampu melaju hingga semifinal. Kalau saja Harry Kane dan kawan-kawan tidak mengendorkan permainan di akhir pertandingan, tidak pernah akan ada gol Ivan Perisic yang membuat Kroasia bisa memaksa perpanjangan waktu. Keunggulan yang dicetak bek kanan Kieran Trippier bahkan buyar ketika pada babak kedua perpanjangan waktu Kroasia mencuri lagi gol melalui kaki Mario Mandzukic.

Namun, keberhasilan Southgate membawa Inggris hingga semifinal Piala Dunia menyamai prestasi pelatih besar Inggris, Sir Alf Ramsey dan Sir Bobby Robson. Atas kesuksesannya, nama Southgate tidak hanya diabadikan selama dua hari menjadi nama stasiun kereta bawah tanah di Enfield, London, tetapi juga dianugerahi penghargaan tertinggi Order of the British Empire.

Perjalanan waktu membuat Southgate semakin matang. Di ajang Liga Negara-Negara Eropa yang baru pertama kali digelar UEFA tahun ini, tim asuhannya mampu menyingkirkan Spanyol dan Kroasia untuk lolos ke semifinal. Sayangnya, Inggris gagal tampil di final karena kalah 1-3 dari Belanda. Namun, kemenangan 6-5 dalam adu penalti atas Swiss membawa Three Lions menempati tempat ketiga, prestasi terbaik Inggris di ajang sepak bola dunia  setelah Piala Eropa 1968.

Namun, Southgate mengatakan semua prestasi yang diraih anak-anak asuhannya belumlah apa-apa. "Belum saatnya bagi kami untuk berpuas diri karena masih jauh perjalanan yang harus kami capai," ujarnya.

Pelatih Inggris itu mencanangkan target untuk membawa tim asuhannya bisa tampil di Stadion Wembley, 12 Juli tahun depan. Itu artinya Kane dan kawan-kawan tidak hanya harus bisa lolos ke putaran final, tetapi juga mesti tampil di pertandingan puncak Piala Eropa 2020.

Untuk itu, pertama-tama Inggris harus mampu menaklukkan Republik Ceko dini hari tadi di Stadion Sinobo, Praha. Kedua, mengalahkan Bulgaria di Stadion Vasil Levski, Sofia, Selasa (15/10). Jika mampu meraup enam poin tambahan, Inggris memastikan lolos ke putaran final.

Southgate beruntung memiliki pemain-pemain muda yang semakin menunjukkan kematangan. Sebanyak 25 pemain yang dipersiapkan untuk dua pertandingan nanti mayoritas berusia di bawah 25 tahun.

Di belakang, sebagai pendamping Harry Maguire, ia memanggil center-back asal Chelsea, Fikayo Tomori. Pemain berusia 21 tahun ini menjadi andalan baru pelatih Frank Lampard di the Blues.

Rekan satu klub Tomori, Tammy Abraham, juga dipanggil Southgate. Abraham dipersiapkan untuk menjadi pengganti kapten kesebelasan Harry Kane apabila mengalami cedera. Seperti halnya Tomori, masuknya pemain berusia 22 tahun ini ke timnas Inggris membuat Abraham otomatis melepas pilihan masuk ke timnas Nigeria.

Dengan delapan gol yang sudah ia sumbangkan untuk Chelsea, Abraham bisa menjadi mesin gol andalan Inggris setelah Kane. Ia akan semakin mematikan apabila bisa padu dengan dua penyerang sayap lincah, Raheem Sterling di kiri dan Jadon Sancho di kanan.

Bintang baru Inggris sekarang ialah Sancho. Pemain berusia 19 tahun ini menyumbang dua gol saat Three Lions mengempaskan Kosovo 5-3, pada 11 September lalu.

Di lapangan tengah, sebagai pendamping kapten Liverpool Jordan Henderson, Southgate memanggil pemain-pemain bertalenta tinggi. Gelandang Leicester City, James Maddison, sudah pulih dari cedera dan tampil gemilang dengan menyumbangkan satu gol bagi klubnya saat bertemu Liverpool. Maddison akan berebut tempat dengan pemain muda asal Chelsea lainnya, Mason Mount yang konsisten di Liga Inggris.

Untuk gelandang bertahan, Southgate punya pemain berusia 20 tahun, Declan Rice. Saat melawan Kosovo, Rice disiplin untuk menjaga keseimbangan tim. Southgate puas dengan performa pemain asal West Ham itu.

AFP/JOE KLAMAR

Pelatih Timnas Inggris Gareth Southgate

 

Kutukan Wembley

Piala Eropa dan Wembley kini benar-benar menjadi obsesi Southgate. Ia berharap bisa menghapus kenangan buruk saat menjadi pemain, sekaligus membayar kesalahannya. Kutukan Wembley ia harapkan tidak lagi datang saat tim asuhannya tampil di putaran final tahun depan.

Southgate pernah membuyarkan mimpi Inggris untuk mengangkat Piala Eropa 1996. Ia gagal menjalankan tugas saat adu penalti menghadapi Jerman di semifinal. Sebagai penendang terakhir, sepakan Southgate ke pojok kanan bawah diblok kiper Jerman Andreas Koepke.

"Saya belajar banyak sejak kegagalan itu sampai sekarang," kata pelatih berusia 49 tahun ini. "Setiap orang bisa melakukan kesalahan, tetapi bukan berarti karena kesalahan itu kita harus menyerah. Kita justru harus tegar untuk terus berjalan dan tidak boleh menyesal apabila tidak melakukan yang terbaik."

Southgate mengaku selalu mengajak pasukannya untuk belajar dari kesalahan dirinya. Dia mengingatkan mereka untuk tidak memercayai adanya kutukan penalti itu. Buktinya, di perempat final Piala Dunia 2018, Inggris bisa melewati adu penalti dengan menyingkirkan Kolombia.

Meski baru mengumpulkan dua poin dari lima pertandingan yang dimainkan, Bulgaria tidak ingin membuat Inggris melenggang mudah ke putaran final. Presiden Persatuan Sepak Bola Bulgaria Borislav Mihaylov ingin mengembalikan martabat negaranya. Itu bukan hanya akan ditunjukkan dengan penampilan yang berbeda untuk membalas kekalahan 0-4 di Wembley, melainkan juga oleh perilaku penonton Bulgaria yang tidak seburuk seperti dituduhkan Southgate.

"Tuduhan rasialis yang disampaikan pelatih Southgate merupakan generalisasi yang berlebihan. Kami akan tunjukkan penonton sepak bola Bulgaria merupakan penonton yang terhormat seperti kami sudah tunjukkan selama ini," kata Mihajlov.

Pelatih Krasimir Balakov memanggil 10 pemain yang bermain di 9 negara Eropa untuk menghadapi Inggris. Vasil Bozhikov yang bermain di Slovakia dan Strahil Popov yang bermain di Turki menjadi pilar di barisan belakang. Adapun Georgi Sarmov yang bermain untuk Chemnitzer, Jerman, merupakan libero andalan Bulgaria untuk meredam gempuran trio Sterling-Kane-Sancho.

"Enam belas tahun absen di ajang kompetisi besar merupakan masa yang terlalu lama bagi Bulgaria. Secara realistis saya tidak mungkin  membawa tim ini lolos ke putaran final Piala Eropa 2020, tetapi pertandingan melawan Inggris nanti harus menjadi momentum membangun kembali sepak bola Bulgaria," ujar Balakov yang bersama Hristo Stoichkov pernah membawa negaranya menapaki semifinal Piala Dunia 1994.

BERITA TERKAIT