12 October 2019, 05:20 WIB

Jejak Hijau Ekonomi Sirkular Terkendala Pengumpulan Sampah


(Zuq/M-1) | Humaniora

Government.nl
 Government.nl
Grafik Ekonomi Sirkular 

'SUDAH memilah sampah, tapi tidak tahu mau dikelola ke mana dan di mana? Mallsampah punya solusinya! Booking permintaan pickup melalui aplikasi, kolektor Mallsampah yang terdekat akan menjemput dan membayar sampahmu.'

Demikian keterangan salah satu fitur layanan di laman Mallsampah.com. Laman tersebut mengajak orang untuk mendaur ulang sampah dan mendapat keuntungan ekonomi dari itu.

Berbicara dalam acara di Jakarta, Senin (30/9), CEO Mallsampah, Adi Saifullah Putra, mengungkapkan jika Mallsampah ialah salah satu wujud pemahaman konsep ekonomi sirkular (circular economy). Konsep ini sekarang sedang naik daun untuk salah satu solusi permasalahan sampah.

Dari penelusuran berbagai artikel, konsep ekonomi sirkular setidaknya sudah diperkenalkan sejak 1976 oleh European Commission. Disebut sirkular karena konsep tersebut memaksimalkan penggunaan energi selama dan seberlanjut mungkin. Sedapat mungkin, material atau sumber daya terus digunakan kembali sehingga tidak menjadi sampah.

Konsep itu dimaksudkan bukan saja untuk menyelamatkan lingkungan, melainkan juga menciptakan lapangan kerja baru sekaligus menghemat penggunaan sumber daya alam.

Namun, pada perjalanannya, konsep ini diartikan beragam. Adi Saifullah Putra mengartikannya dengan langkah daur ulang tadi.

"Circular economy itu sebenarnya pola bagaimana produsen dan seluruh masyarakat, termasuk juga konsumen bisa menerapkan pola sirkular dalam konsumsinya, misalnya, pola daur ulang," tuturnya. Adi mencontohkan bahwa setiap kemasan produk seharusnya tidak dibuang begitu saja, tetapi dikumpulkan dan dijadikan material untuk produk baru.

Ia melihat persoalan utama dalam penerapan ekonomi sirkular di Indonesia ialah sistem pengumpulan sampah. Pemulung dan pengepul sampah yang sebenarnya menjadi tonggak dalam pengumpulan sampah, selama ini belum terhubung dengan pihak-pihak penghasil sampah, baik industri maupun rumah tangga.

Persoalan itulah yang coba dijawab dengan layanan penjemputan sampah oleh Mallsampah. Namun, saat ini Mallsampah baru tersedia di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Mallsampah menjalin kemitraan dengan 100 pengepul lokal. "Hanya sampah-sampah terpilah yang kami jemput dan bayar. Karena konsep kami, semua sampah didaur ulang, tidak ada yang ke TPA," tegas Adi.

Hal tidak jauh berbeda dilakukan Clean Up yang juga berbasis di Makassar. Perusahaan rintisan itu pun menerjemahkan ekonomi sirkular dengan fokus pada pengumpulan sampah.

"Circular economy, yaitu bagaimana caranya kita, sampah yang jadi pengeluaran dari setiap rumah tangga itu tidak di TPA, tapi ada pengolahan lebih lanjut," terang pendiri sekaligus CEO Clean Up, Iqra Putra Sanur.

Saat ini Clean Up belum masuk pada tahap pemilahan sampah. Iqra menjelaskan, ia berhadap selanjutnya dapat mengarahkan pelanggannya untuk memilah sampah.

Iqra setuju bahwa dalam konsep ekonomi sirkular semestinya tidak ada lagi sampah dihasilkan. Meski begitu, dengan kondisi di Indonesia, ia memilih menerapkan konsep ekonomi sirkular dengan menyelesaikan di tingkat bawah terlebih dulu, yakni di pengangkutan.

Selain itu, ekosistem pengelolaan sampah juga belum tercipta dengan baik. Pada tingkatan lebih lajut, Iqra berharap, ekosistem ekonomi sirkular bisa terbentuk sehingga memudahkan para pengelola sampah untuk bisa bekerja sama dan berkolaborasi.

"Ke depannya nanti bisa berlanjut ke pengelolaan, kita juga bisa bekerja sama dengan vendor-vendor. Kalau ekosistem vendor-vendor pengelolaan (sampah) yang lain sudah tumbuh, kita bisa berkolaborasi," tegasnya.

Kendati demikian, Iqra tidak pupus harapan. Meski saat ini ekonomi sirkular belum sepenuhnya bisa diterapkan, penerapan di masa depan sangat memungkinkan. Terutama, tambahnya, jika fasilitas pemilahan sampah telah tersedia dan masyarakat juga telah teredukasi dengan baik.

"Jadi bukan bahwa faktanya sekarang belum terjadi betul-betul apa yang diharapkan dari circular economy sehingga itu tidak bisa terjadi. Tapi karena memang fasilitas dan edukasi ke masyarakat yang belum," tukasnya.

Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Novrizal Tahar, mengakui masih sangat lemahnya sistem pengumpulan sampah.

"Jadi collecting system ini harus kita perbaiki. Dasar dari collecting system ini adalah memilah sampah dari sumbernya, dari rumah. Memilah sampah harus jadi gerakan besar. Jadi bagaimana (plastik) PET itu akan jadi sumber daya? Kalau kita tidak memilah itu tidak akan terjadi. Kalau kita buang di tempat sampah, dia kotor, gak ada yang berminat," ujar Novrizal.

Upaya industri

Di tingkat industri, salah satu perusahaan yang coba menuju ekonomi sirkular sampah ialah The Coca-Cola Company. Mereka mengumumkan komitmen World Without Waste pada 2018 yang dilakukan dengan mengumpulkan dan mendaur ulang kemasan produk, sama dengan jumlah yang dijual. Target itu diharapkan tercapai pada 2030.

Public Affairs and Communications Director Coca-Cola Indonesia, Triyono Prijosoesilo, mengungkapkan beberapa hal mulai dilakukan seperti mendesain kemasan agar dapat didaur ulang dan memiliki sirkularitas. Perusahaan itu juga fokus pada percepatan pengumpulan dan daur ulang untuk mendukung ekonomi sirkular.

"Yang kami lakukan pertama memastikan bahwa packaging kami itu 100% recyclable. Itu yang kami pahami dan kami akan ke arah sana," ujar Triyono.

Ia mengungkapkan jika kendala terbesar ialah keterhubungan dengan pemulung dan pengepul, serta edukasi untuk pengumpulan seluruh bagian botol. Menurutnya, selama ini, bagian label dan tutup botol tidak dikumpulkan karena dianggap tidak bisa dimanfaatkan.

"Kita mendorong bagaimana menciptakan sistem yang bisa tidak dibuang. Padahal, label itu bisa diolah," ujar Triyono. Namun, ia tidak mengungkapkan apakah pihaknya juga bersedia menerima sampah label dan tutup botol tersebut. (Zuq/M-1)

BERITA TERKAIT