12 October 2019, 03:20 WIB

Marsyana Tiur Novita Sagala dan Hoddiman Sinaga Demi Anak Semata


(Wan/M-4) | Weekend

MI/SUMARYANTO BRONTO
 MI/SUMARYANTO BRONTO
Marsyana Tiur Novita Sagala dan Hoddiman Sinaga Demi Anak Semata 

BELUM pudar dari ingatan, peristiwa teror bom molotov di Gereja Oikumene di Samarinda, Kalimantan Timur, pada 13 November 2016 masih saja menyisakan kepedihan mendalam bagi para korban.

Tak terkecuali bagi Alvaro Aurelius Tristan Sinaga, anak yang saat itu berumur 4 tahun harus menanggung kesakitan fisik dan trauma akibat ledakan bom. Lengan dan setengah wajahnya mengalami luka bakar serius.

Demi memulihkan kondisi luka bakar yang dialami Alvaro, orangtuanya, Marsyana Tiur Novita Sagala dan Hoddiman Sinaga, tak pernah tinggal diam. Hoddiman harus merelakan pekerjaannya di jasa kontraktor untuk menjaga Alvaro, sedangkan Novita bekerja sebagai PNS di Samarinda untuk memenuhi hidup keluarga.

Tak hanya itu, mereka terus berusaha memberikan perawatan terbaik bagi anak semata wayangnya dengan terus mencari jalan operasi."Operasi pertama dilakukan karena jaringan tangannya tidak bisa diselamatkan, dia pun dioperasi tempel kulit sebanyak tujuh kali dan selebihnya masuk ruang operasi 28 kali ikut cangkok kulit," kata Marsyana.

Mereka pun membawa Alvaro untuk operasi di Kuala Lumpur, Malaysia, dengan melakukan penggalangan dana. Bersyukur katanya, Tuhan memberikannya jalan sehigga biaya operasi dan perawatan terus mengalir bagi Alvaro. "Untuk pengobatan sudah habis sekitar Rp1 miliar yang semuanya didapat dari beberapa donatur dan penggalangan dana. Semuanya benar-benar membantu kita," kata Novita.

Operasi lanjutan

Perjuangan Alvaro dan keluarga masih belum berakhir, ia masih akan melalui operasi lanjutan untuk memulihkan kondisi fisiknya, tapi untuk saat ini pengobatan diberhentikan karena tubuhnya terlalu banyak terpapar obat bius.

Tiga tahu berlalu, orangtuanya tidak pernah berhenti memberikan perhatian dan motivasi. Alvaro tumbuh menjadi anak yang ceria, ia senang bernyanyi dan bermain musik. Saat ini ia duduk kelas 1 Sekolah Dasar Hati Kudus Samarinda, ia bahkan termasuk anak yang pintar dan aktif dalam kegiatan belajar di sekolahnya.

Luka yang membekas tidak menyurutkan rasa percaya diri untuk bermain seperti anak-anak sebayanya. Diketahui dari guru, ia memang tak merasa minder dengan keterbatasannya, bahkan ia selalu menunjukkan sikap peduli. Kini, orangtuanya sedang fokus pada penyembuhan psikisnya agar tidak mengalami trauma berat karena diketahui Alvaro sempat ketakutan melihat api kompor. "Tentu dengan keadaannya seperti ini, pasti akan menghambat cita-citanya. Kalau bisa, pemerintah bisa menjamin pendidikan dan kariernya nanti," tutup Novita. (Wan/M-4)
 

BERITA TERKAIT