12 October 2019, 01:10 WIB

Syaharani Berbudaya lewat Seni


Abdillah Muhammad Marzuqi  | Hiburan

 Dok. MI
  Dok. MI
Penyanyi Syaharani

BAGI penyanyi Syaharani, 48, kesenian punya dimensi yang luas. Kesenian bisa menjalankan fungsi sebagai indikator atas kemajuan pemikiran, bahkan faktor ekonomi, politik, dan sosial. Banyak hal dalam kehidupan manusia bisa tercermin lewat kesenian.

"Bagaimana kita bisa melihat itu semua sebenarnya bisa dari segala hal yang dilakukan di kehidupan ini. Namun, kesenian itu sebenarnya menjadi tolok ukur yang seru," terang Syaharani saat ditemui di acara rilis nominasi AMI Awards di Sarinah Jakarta (8/10).

Menurutnya, ketika karya yang dihasilkan bagus dan mendapat apresiasi luas, hal itu bisa menjadi cerminan seniman dan masyarakat yang semakin nyaman dan berbudaya.

"Artinya, mereka bisa berkesenian dengan fokus yang bagus. Artinya, banyak orang yang mau memperjuangkan waktu untuk memahami sebuah karya. Mereka tidak terganggu dan tidak takut manaruh waktu karena misalnya, harus cepat-cepat cari uang. Mereka sudah menjadi lebih rileks dan nyaman," ujarnya.

Ia mencontohkan masyarakat di beberapa negara mempunyai dimensi kehidupan yang lebih ketimbang sekadar memenuhi kebutuhan dasar. "Jadi, dimensinya itu enggak hanya kerja, cari makan, dan bayar tagihan, karena itu dimensi dasar," tegas perempuan yang tercatat pernah mewakili Indonesia di North Sea Jazz festival 2001.

Syaharani juga mengaku tidak terlepas dari dimensi dasar. Ia juga harus memikirkan tagihan dan kebutuhan dapur. Namun, ketika ia sudah bisa menikmati seni dan alam, biarpun dengan cara yang sederhana, ia merasa menjadi manusia yang lebih berbudaya.

"Saya juga seperti itu. Saya juga harus memikirkan itu. Namun, ketika saya sudah bisa mempunyai waktu untuk menikmati hal seperti itu. Itu kan merubah output kita as a human being yang berbudaya, tapi juga sebagai warga negara yang harus kerja," tandasnya.

Itulah sebabnya, Syaharani menekankan pentingnya keberadaan kesenian dalam kehidupan. "Harus ada di rumah, harus ada di sekolah. Sangat harus ada," ungkap perempuan kelahiran 27 Juli 1971 itu.


Tugas seniman

Pandangan seperti itulah yang menjadi alasan Syaharani bergabung dalam tim AMI Awards. Ia mengaku menikmati tugasnya karena selain menyelesaikan tanggung jawab, ia juga menyalurkan minatnya terhadap perkembangan kultur di Indonesia, salah satunya musik dan bahasa daerah. Ia mencontohkan pada kategori lagu daerah, ia bisa melihat banyak hal dari banyak lagu berbahasa daerah yang masuk ke AMI Awards.

"Karena saya pemerhati kultur jadi saya suka banget sama masalah itu. Jadi, misalnya, kayak lagu berbahasa daerah. Sampai di mana sih mereka menggunakan bahasa daerah sekarang ini. Seberapa indah? Seberapa puitis bahasanya?" ujar Ketua Juri Sidang Kategorisasi AMI Awards itu.

"Ada juga entri baru yang bahasa daerahnya mungkin 50%, dan 50% lagi mungkin dicampur dengan bahasa Inggris. Karena mereka ingin bahasa daerah mereka bisa melebur, masuk. Itu enggak apa-apa, bagus. Semua tembusan menurut saya bagus," tambah Syaharani yang bermain dalam teater musikal berjudul Madame Dasima dan Gallery of Kisses di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Syaharani mengapresiasi usaha-usaha itu. Bahkan ia sampai pada kesimpulan bahwa masyarakat musik semakin terbuka dengan banyak kemungkinan baru dan penggabungan. Ia juga mencontohkan musik dangdut saat ini sudah bercampur dengan musik lain, seperti musik elektronik.

Syaharani menegaskan keterbukaan masyarakat harus diimbangi dengan keseriusan negara dan para insan musik untuk menjaga akar musik daerah.

"Keterbukaan-keterbukaan ini tentunya tetap harus diimbangi dengan seriusnya, misalnya negara, dan termasuk salah satunya mungkin tim yang membuat seperti ini (AMI). Supaya budaya aslinya tetap terjaga," lanjutnya. (H-3)

BERITA TERKAIT