11 October 2019, 14:54 WIB

KLHK Rancang Pembangunan Berkelanjutan di Ibu Kota Negara Baru


mediaindonesia.com | Politik dan Hukum

Istimewa/KLHK
 Istimewa/KLHK
penandatangan nota kesepahaman pembaruan kerja sama antara KLHK dengan Griffith University di Brisbane, Australia, Kamis (10/10)

KEMENTERIAN Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) merancang penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan (SDGs) di ibu kota negara baru. Untuk itu KLHK membangun jejaring kerja sama dan kolaborasi dengan berbagai pihak, baik di dalam maupun luar negeri, termasuk Griffith University, Australia.

Kepala Badan Litbang dan Inovasi KLHK Agus Justianto menuturkan, KLHK memperbarui kerja sama yang telah diinisiasi sejak 2002 dengan Griffith University, Australia. Dari kerja sama yang telah berjalan, terbentuk Centre of Excellence for Sustainable Development for Indonesia (CESDI).  

Dalam kerja sama antara KLHK dan University Griffith, salah satu topik utama yang  diusung melalui CESDI adalah penerapan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (SDGs), rendah karbon (low carbon development initiatives) dan berketahanaan iklim (climate resilience) di ibu kota baru Indonesia di Kalimantan Timur.

“Melalui kerja sama ini CESDI dapat menjadikan ibu kota baru di Kaltim sebagai laboratorium pembanguan berkelanjutan di tingkat tapak,” kata Agus seusai penandatangan nota kesepahaman pembaruan kerja sama antara KLHK dengan Griffith University di Brisbane, Australia, Kamis (10/10) sore waktu setempat.

Penandatangan nota kesepahaman dilakukan Agus Justianto dan Wakil President Griffith University Profesor Sarah Todd.
Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo, pada 26 Agutus 2019 lalu,  sudah mengumumkan pemindahan ibu kota negara Indonesia ke Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur.

Berdasarkan kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), nantinya kawasan ibu kota negara akan menempati lahan seluas 180.965 hektare.

Australia sendiri mempunyai pengalaman bagus karena berhasil memindahkan ibu kota ke Canberra. Kota itu dikenal sebagai 'the bush capital' karena dikelilingi hutan dan berada di pedalaman. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro dalam beberapa kesempatan menyatakan Canberra salah satu rujukan soal pemindahan ibu kota.

Agus menuturkan, ibu kota baru ini diharapkan dapat menjadi etalase peradaban baru manusia Indonesia yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Tata nilai (values), pengetahuan, teknologi dan kelembagaan yang sesuai dengan peradaban baru metropolis tersebut menjadi persyaratan penting yang harus dibangun dan dikembangkan bersamaan dengan pembangunan berbagai sarana dan prasarana serta infrastruktur fisik perkotaan yang ramah lingkungan.  

“Ibu kota baru Indonesia diharapkan dapat menjadi etalase penerapan pembangunan rendah karbon dan berketahanan iklim,” ujar Agus.

Agus menyatakan, ibu kota baru akan menerapkan konsep forest city yang didukung dengan berbagai bentuk infrastruktur hijau berupa kawasan hutan hujan tropis, kawasan konservasi perairan peisisir dan laut serta ruang terbuka hijau lainnya beserta sumber daya alam hayati yang ada di dalamnya. 

“Vegetasi asli hutan hujan tropis menjadi backbone pengembangan Forest City.  Vegetasi asli juga digunakan untuk kegiatan pemulihan lahan-lahan yang telah mengalami kerusakan lingkungan akibat kegiatan pertambangan,” papat Agus. (0L-09)

BERITA TERKAIT