11 October 2019, 12:44 WIB

Pemerintah Resmikan KEK Sorong


M Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

Humas Kemenko Perekonomian
 Humas Kemenko Perekonomian
Menko Perekonomian Darmin Nasution (kedua dari kiri) saat meresmikan KEK Sorong

KAWASAN Ekonomi Khusus (KEK) Sorong, Papua Barat, resmi beroperasi. KEK yang berorientasi pada Industri nikel, kelapa sawit, sagu dan gudang logistik tersebut berdiri di atas lahan seluas 523,7 hektare. KEK Sorong ditargetkan akan menyerap 15.024 tenaga kerja.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengungkapkan, dengan potensi yang dimiliki, KEK Sorong berpeluang menjadi salah satu pilar ketahanan pangan nasional, khususnya protein berbasis kelautan.

"Sehingga akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di pesisir Papua," ungkap Darmin dalam keterangan resmi, Jumat (11/10).

Hal utama untuk memaksimalkan pemanfaatan KEK Sorong tersebut, Darmin menilai diperlukan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat.

Baca juga: Ketergantungan Pembangunan pada APBN Harus Dikurangi

Oleh karenanya, pengetahuan, keterampilan dan kelembagaan ekonomi harus mulai diasah guna menciptakan SDM yang unggul.

"Salah satu yang penting di sini adalah pemberdayaan sosial ekonomi bagi masyarakat pesisir yang beroperasi di sekitar KEK Sorong melalui berbagai instrumen pendidikan vokasi (salah satunya Sekolah Menengah Kejuruan/SMK) dan pelatihan perkoperasian. Pemda juga perlu menjamin kemudahan perizinan bagi para calon investor," jelas Darmin.

Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan mengatakan pembangunan KEK Sorong telah tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2017-2022.

Dengan begitu, diharapkan KEK Sorong mampu meningkatkan perekonomian daerah. Ke depan, pembangunan di Papua Barat dapat meningkat sehingga mampu mengurangi kesenjangan antarwilayah.

Dominggus mengharapkan KEK Sorong akan mampu menarik investasi hingga Rp32,5 triliun.

KEK Sorong juga diharapkan mampu mendongkrak perekonomian Kabupaten Sorong dengan proyeksi peningkatan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) sekira Rp10,64 triliun pada 2030.

"Semoga ini menjadi perhatian dari pemerintah pusat, supaya pembangunan infrastruktur dan masuknya investasi ke KEK Sorong dapat berjalan maksimal. Ada beberapa catatan dengan kehadiran kawasan KEK, salah satunya yaitu dibutuhkannya tenaga kerja yang besar, jadi diharapkan akan dibangun Balai Latihan Kerja (BLK) skala nasional di daerah ini, maka nanti akan bisa membantu pemenuhan SDM di semua sektor industri yang ada di Papua Barat," ujar Dominggus.

Kehadiran KEK Sorong diharapkan membuka peluang bagi masyarakat Papua untuk mendapatkan pekerjaan.

Lebih jauh ia mengharapkan KEK Sorong juga memiliki smelter ke depannya. Hal itu dimaksudkan agar hasil nikel tidak keluar dari KEK Sorong sehingga pemerataan akan lebih dirasakan oleh masyarakat Papua.

Di KEK Sorong tersebut tersedia daya mampu sebesar 46 Mega Watt dan cadangannya sebesar 9 Mega Watt. Daya mampu itu berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) yang terdiri dari PLMTG Waymon serta PLTMG Arar dan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dari PLN.

Akses jalan utama serta saluran drainase juga telah dibangun sepanjang 3,5 km. Dibangun pula jalan lingkungan sebagai penunjang sepanjang 6,5 km oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Pembangunan itu dilakukan sejak tiga tahun lalu.

Sementara air bersih untuk Pelabuhan Arar dan industri eksisting akan menggunakan bor dengan kapasitas 5 liter per detik dan penampunh air hujan untuk jangka pendek.

Untuk jangka panjang, pemerintah akan membangun Sistem Penyediaan Air Minum yang bersumbrr dari air Sungai Klasafet dengan kapasitas 500 liter per detik.

Hingga saat ini, sudah ada 13 KEK yang ditetapkan (terdiri dari 8 KEK manufaktur dan 5 KEK kepariwisataan), yang 11 KEK di antaranya sudah beroperasi, termasuk KEK Sorong.

Kemudian, sampai saat ini, aliran investasi kepada 13 KEK tersebut mencapai Rp85,3 triliun. Diharapkan pada 2030, investasi tersebut akan mencapai Rp726 triliun. (OL-2)

BERITA TERKAIT