11 October 2019, 12:30 WIB

Partai Republik AS Siapkan Sanksi atas Serangan Turki di Suriah


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

AFP/BULENT KILIC
 AFP/BULENT KILIC
Asap terlihat membumbung dari Kota Tal Abyad, Suriah yang menjadi sasaran serangan Turki

PARTAI Republik di DPR Amerika Serikat (AS) telah mengumumkan rencana memperkenalkan rancangan undang-undang sanksi terhadap Turki karena ofensif militer mereka di Suriah.

Melansir BBC, anggota Kongres Liz Cheney mengatakan Turki harus menghadapi konsekuensi serius karena tanpa ampun menyerang Kurdi, sekutu AS, di wilayah tersebut.

Ancaman datang ketika Presiden Donald Trump mengatakan dia berharap menengahi konflik.

Turki bergerak ke Suriah utara pada Rabu (9/10) lalu setelah Trump menarik pasukan AS keluar dari daerah itu.

Puluhan ribu warga sipil meninggalkan rumah mereka pada hari kedua serangan.

Baca juga: Turki Ancam UE soal Suriah

Sekelompok 29 Republiken di DPR AS yang dikontrol Partai Demokrat telah mengumumkan undang-undang yang akan menjatuhkan sanksi pada Ankara.

"Jika Turki ingin diperlakukan seperti sekutu, mereka harus mulai berperilaku seperti yang diharapkan," kata Cheney dalam sebuah pernyataan. "Mereka harus dikenai sanksi atas serangan mereka terhadap sekutu Kurdi kami."

Cheney menambahkan, "Kongres telah lama memiliki kekhawatiran tentang kerja sama rezim (Erdogan) dengan musuh AS, seperti Rusia".

Tidak disebutkan tentang penarikan pasukan AS dalam pernyataan itu.

"Presiden Trump menjelaskan bahwa Turki melewati batas di Suriah, dia akan 'benar-benar melenyapkan ekonomi Turki'--dan undang-undang ini memberi Amerika Serikat alat untuk memenuhi janji itu," tulis legislator Jodey Arrington.

Ini datang sehari setelah Senator Republik Lindsey Graham meluncurkan RUU sanksi, bersama dengan Senator Demokrat Chris Van Hollen, untuk sanksi berat' terhadap Turki.

Graham adalah sekutu setia Presiden Trump, tetapi secara vokal mengkritik pemerintahannya atas penarikan pasukan AS di Suriah. Ia mengatakan AS dengan memalukan meninggalkan Kurdi.

Trump sebelumnya membela keputusannya dengan mengatakan Kurdi tidak pernah membantu Amerika Serikat dalam Perang Dunia II. (BBC/OL-2)

BERITA TERKAIT