11 October 2019, 10:41 WIB

Pati Kehabisan Bantuan Air Bersih


Akhmad Safuan | Nusantara

MI/Akhmad Safuan
 MI/Akhmad Safuan
Warga Pati mengantri air bersih. BPBD Kabupaten Pati mengklaim bahwa pasokan air bersih yang dibagikan untuk warga sudah habis. 

KEMARAU yang belum dapat diprediksi sampai kapan semakin membuat daerah kelimpungan mengatasi kekeringan dan kesulitan air bersih. Ketersediaan air bersih untuk bantuan semakin menipis bahkan di Kabupaten Pati, Jawa Tengah telah habis. Pemkab Pati melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat terpaksa terpaksa melempar handuk untuk memberikan bantuan air bersih di 105 desa yang tersebar di 12 kecamatan di Pati. Ketersediasn air bersih untuk bantuan warga dilanda kekeringan sudah habis.

"Ketersediaan air bersih untuk bantuan kepada warga dilanda kekeringan yang ada di sini sudah habis. Saat ini kami betul-betul hanya mengharapkan bantuan dari pihak lain,"  kata Plt Kepala Pelaksana BPBD Pati Hadi Santosa, Jumat (11/10). Kondisi ini semakin sulit, lanjut Hadi Santoso, karena kemarau belum dapat diprediksi sampai kapan berlangsung. Sementara jumlah desa dilanda kekeringan semakin meningkat dari sebelumnya 88 desa di 10 kecamatan kini telah mencapai 105 desa di 12 kecamatan.

Berdasarkan data yang ada, ujar Hadi Santoso, Pemkab Pati pada tahun anggaran ini hanya menyediakan 100 tangki air bersih dan itu sudah habis. Untuk memenuhi kebutuhan warga, Pemprov Jawa Tengah memberikan bantuan sebanyak 200 truk tangki yang seluruhnya sudah disalurkan.

Secara keseluruhan, demikian Hadi, selama musim kemarau ini telah disalurkan bantuan air bersih sebanyak 900 truk tangki. Selain berasal dari Pemkab Pati, Pemrov Jateng juga berasal dari beberapa perusahaan serta lembaga lainnya.

"Dalam kondisi ini kira harap masih ada kucuran dari pihak lain, karena ketersediaan bersih untuk bantuan dari pemerintah sudah habis," imbuhnya.

Sementara itu ratusan warga Desa Pasucen, Kecamatan Trangkil, Pati melakukan unjuk rasa di tengah-tengah kekeringan. Mereka berde,o karena ada penjualan air bawah tanah yang diambil di desa itu oleh perusahaan tanpa ada izin kepada warga.

baca juga: Menenun Segera Masuk Kurikulum Muatan Lokal

"Sudah cukup lama perusahaan itu beroperasi tidak izin ke desa dan tidak memberikan kompensasi apapun," kata Anwar, warga setempat.

Kepala Desa Pasucen, Kecamatan Trangkil, Pati Wiwik Hadiyanto mengatakan selama ini tidak pernah dilibatkan dalam proses pengambilan air bawah tanah oleh perusahaan tersebut. Bahkan perizinannya juga tidak ada di desa sehingga hal itu akan dipertanyakan ke Pemkab. (OL-3)

BERITA TERKAIT