11 October 2019, 08:24 WIB

Menjalin Persahabatan Dunia Lewat Batik


Agus Utantoro | Nusantara

MI/Agus Utantoro
 MI/Agus Utantoro
Dari kiri ke kanan Idha Jacinta (GCBMI), Martin Je Cobson dan Livi Laurens (GCBMI) mempopulerkan batik lewat gerakan persahabatan.

DI ATAS selembar kain, tertuang lambang persahabatan antara Indonesia dengan Swedia. Motif yang tergambar dalam lembar kain ini terlihat nilai-nilai keberagaman di dua negara. Sebut saja, lung-lungan dan cendrawasih yang menggambarkan kekayaan Indonesia bertemu dengan ponsel, dala horse, chatting, Glen dan Gleenifer yang merupakan emoji khas pada aplikasi muncul di atas kain batik ini.

Pewarnaannya pun cukup meriah, tergambar pula warna-warna merah, putih, kuning dan biru, sebagai warna kebangsaan dari dua negara. Penggagas The Friendship Batik, Ida Jacinta di sela-sela suatu pameran batik di Gedung JEC Jalan Janti, Yogyakarta, Kamis (10/10) membenarkan yang disajikan dalam motif batik ini membawa pesan persahabatan antara Indonesia dengan Swedia yang sebenarnya sudah terjalin.

Corak batik ini, lanjutnya sedikit memberi pesan-pesan tentang apa yang sudah dilakukan oleh Martin Je Cobson di Indonesia melalui kegiatan-kegiatan corporate social responsibility-nya. Martin Je Cobson adalah CEO perusahaan IT Swedia Supertext yang tertarik ikut mengembangkan batik Indonesia.

"Sebagai pemilik perusahaan Super Tech, Martin menunjukkan perhatian dan dukungan besar bagi Indonesia," kata Idha Jacinta yang juga tergabung dalam  GCBMI  (Gerakan Cinta Batik Mahakarya Indonesia)  sekaligus penggagas The Friendship Batik.

Ida mengajak melalui karya ini, terbangun kesadaran bahwa semuanya bisa selaras. High touch di Indonesia bertemu dan bergandeng dengan high tech Swedia yang dijembatani oleh karya batik.

Livi Laurens juga dari GCBMI menambahkan, Gerakan Cinta Batik sebagai Mahakarya Indonesia ini, sejak didirikan 3 tahun lalu mengusung visi yang kuat lewat batik bisa membangkitkan kearifan lokal, mendorong semangat nasionalisme rasa kebangsaan, cinta Tanah Air, serta mengobarkan jiwa kepemudaan. Gerakan ini dibangun, sekaligus sebagai bentuk dukungan Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia yang ditetapkan sejak 2014.

baca juga: Satu Bangkai Paus Dipotong-Potong Warga

"Setahun lalu dideklarasikan world friend of batik atau sahabat batik dunia. Kita senang lewat world friend of batik, harapannya kita punya sahabat di seluruh dunia melalui selembar kain batik," kata Livi.

Pada kesempatan itu Martin Je Cobson mengaku sangat mengapresiasi gagasan menjadikan batik sebagai pembawa pesan. Martin melihat, batik bercerita merupakan gagasan yang sangat menarik, untuk menyampaikan sesuatu kepada banyak orang. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT