11 October 2019, 08:30 WIB

Pemberitaan Media belum Ramah Perempuan


Naura Normalita Afrianti, Siswi kelas 12 SMA Muhammadiyah 1 Kota Magelang yang selama sehari menjadi Pemred Media Indonesia dalam program Girls Takeover | Opini

MI/VICKY GUSTIAWAN
 MI/VICKY GUSTIAWAN
Naura Normalita Afrianti

PAUL Wright menjelaskan bahwa pemberitaan seks di media itu kontroversial. Hal itu karena, umumnya, penggambarannya sensitif dan bertentangan dengan norma masyarakat. Akibatnya, akan menimbulkan kecemasan dan perhatian masyarakat.  

Untuk sebagian besar masyarakat di Indonesia, hal-hal yang tidak biasa terjadi atau hal-hal tabu menjadi pemikat untuk ditelusuri. Tidak mengherankan jika perempuan digambarkan sebagai objek seksualitas. Hal itu karena ciri khusus perempuan yang cukup dijadikan sarana komersial.

Hasil penelitian dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyebutkan laki-laki mendominasi jurnalisme di Indonesia sebanyak 81,4% dari total keseluruhan anggota AJI se-Indonesia.

Berdasarkan paparan tersebut, dapat ditarik kesimpulan jurnalisme yang didominasi laki-laki akan lebih besar membuat konten-konten yang mengarah ke ranah seksualitas perempuan, yang menurut sebagian besar jurnalis laki-laki menarik khalayak ramai.

Berdasarkan hasil pengamatan penulis, terdapat beberapa berita yang dituliskan jurnalis laki-laki yang secara tidak langsung menyudutkan posisi perempuan sebagai hal-hal yang mengandung seksisme.

Sebagai contoh adalah judul pemberitaan “Polwan Cantik Goda Buruh Lewat Poster...” atau judul pemberitaan lainnya yang juga ditulis jurnalis laki-laki seperti, “Semua Laki-laki Pasti Minta Ditilang Kalau Ketemu Polwan Seksi

”Berbeda halnya dengan judul “VIDEO: Aksi Heroik Polisi Selamatkan Balita...” yang dituliskan jurnalis laki-laki. Secara tidak langsung, judul itu menggambarkan bahwa sosok laki-laki adalah pahlawan.

Judul tersebut berbeda dengan dua judul sebelumnya yang menggambarkan sosok perempuan berprofesi sebagai polwan lebih diakui berdasarkan kecantikan ataupun tubuhnya dengan unsur-unsur yang mengandung seksisme bukan malah diakui potensinya sebagai polisi wanita.

Sudah cukup pemberitaan perempuan dengan penggambaran bahwa perempuan hanya dilirik atau dibicarakan persoalan “fisik”. Sudah seharusnya media melirik atau membicarakan perempuan karena “potensi” yang sama setaranya dengan laki-laki.

BERITA TERKAIT