11 October 2019, 07:42 WIB

Gempa Susulan di Maluku Capai 1.316 Kali


Antara | Nusantara

Antara
 Antara
Petugas BMKG Stasiun Geofisika Ambon terus memantau perkembangan gempa bumi yang mengguncang Pulau Ambon, Maluku. 

GUNCANGAN gempa bumi tektonik susulan yang terjadi di Pulau Ambon, Haruku, dan Pulau Seram Bagian Barat hingga hari ini sudah mencapai 1.316 kali.    

"Setelah gempa bumi tektonik bermagnitudo 6,5 pada Kamis, (26/9) hingga Kamis (10/10) pukul 15:00 WIT sudah terjadi 1.316 kali gempa susulan dan yang dirasakan langsung masyarakat sebanyak 153 kali," kata Pengamat Pertama Geofisika (PPG) BMKG Pusat Gempa Regional IX Ambon, Teddy Dwi Riadi di Ambon, Kamis (10/10).    

Intensitas gempa dengan magnitudo bervariasi, namun kedalamannya hanya 10 kilo meter membuat khawatir masyarakat di Pulau Ambon dan sekitarnya. Menurut dia, belum ada alat secanggih apa pun yang bisa mendeteksi kapan terjadi gempa bumi tektonik dengan besaran kekuatan serta lokasinya berada di mana. Guncangan gempa di Kota Ambon dengan kekuatan 5,2 Magnitudo terjadi Kamis (10/10) siang dengan kedalaman 10 km yang menyebabkan banyak gedung dan rumah rusak.

Guncangan gempa beruntun pada Kamis (10/10) siang itu menyebabkan Vincent Yonatan Ananto, 13 meninggal karena tertimpa reruntuhan bangunan ruko Hoki di kawasan Negeri Passo, Kecamatan Baguala, Kota Ambon. Saat terjadi guncanngan, korban berada di dalam ruko milik orangtuanya. Ia bersama pekerja lainnya lari keluar. Namun reruntuhan dari lantai atas menimpanya.

Teddy Dwi Riadi mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan termakan isu adanya peringatan tsunami di Desa Passo, Kecamatan Baguala, Kota Ambon.  Imbauan tersebut berkaitan dengan beredarnya isu peringatan tsunami melalui sebuah media sosial dengan nama Didax Sismo.  

Gempa beruntun yang mengguncang Kota Ambon dan sekitarnya, membuat warga mengurangi aktivitas. Jalan-jalan utama di pusat kota tampak sepi. Sebagian kecil angkutan kota yang beroperasi. Demikian juga toko-toko dan swalayan sebagian besar tutup. Sebaliknya di SPBU terjadi antrian panjang kendaraan yang mengantri BBM.

baca juga: Polisi Turunkan Tim Ahli dan Drone Khusus Selidiki Karhutla Riau

Sedangkan kawasan perbukitan khususnya di Kudamati dan Gunung Nona tampak dipenuhi warga yang memilih mengungsi untuk mengamankan diri. Sebagian warga sudah tampak memasang tenda dari terpal di dua kawasan tersebut untuk bermalam. Demikian juga di tempat penginapan di Kudamati penuh dengan warga yang memilih menyewa kamar-kamar untuk dijadikan tempat mengungsi. (OL-3)

 

BERITA TERKAIT