11 October 2019, 06:50 WIB

Terorisme Sekeluarga


Al Chaidar Pengamat Terorisme dari Departemen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Aceh | Opini

Dok.MI
 Dok.MI
Ilustrasi MI

PERISTIWA serangan teroris Syahril Alamsyah (Abu Rara) bersama Fitri Andriana, istrinya, terhadap Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto ialah sebuah kejadian yang tidak mengherankan. Serangan seperti ini dulu pernah dirancang Noordin Mat Top sekitar 2005 yang kemudian urung terjadi. Rancangan serangan atau plot teroris memang sulit diprediksi dan sering mengejutkan, baik dari segi modus maupun waktu serangan.

Tulisan ini berusaha menjelaskan jenis terorisme apa yang muncul dalam kasus serangan terhadap Wiranto, menteri yang mengurusi soal keamanan negeri ini.

Serangan yang terjadi pada 10 Oktober 2019 ini merupakan sebuah serangan terorisme keluarga atau dikenal dengan istilah familial terrorism.

Dedy Tabrani (2018) memberikan definisi tentang terorisme keluarga batih yang melibatkan ayah, ibu, dan anak-anak kandung mereka dalam satu operasi amaliah untuk meledakkan diri (suicide) atau tetap hidup (stand alone) untuk menghancurkan target.

 Jenis serangan seperti itu merupakan tipikal kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang bahkan oleh pimpinan tertingginya (Ustaz Aman Abdurrahman) sudah dinyatakan sebagai 'jihad terlarang' yang tak boleh dilakukan.

Bom di tiga gereja dan kantor polisi di Surabaya pada Mei 2018 oleh tiga keluarga ialah tergolong jenis familial suicide terrorism (bom bunuh diri sekeluarga) meskipun ada dua anaknya yang masih selamat dalam ledakan bom motor tersebut.

Sesuai prediksi saya (Chaidar, 2018), bom keluarga (familial terrorism) kemudian berulang lagi di Sibolga dan Jolo pada 2019 ini. Pelibatan ibu dan anak-anak dalam serangan jihad merupakan sebuah ijtihad (keputusan keagamaan) yang unik yang dikeluarkan seorang mufti atau intelektual organik yang tega mengorbankan anak-anak demi sebuah amaliah (serangan). Intelektual organik kekerasan inilah yang sebenarnya menjadi aktor intelektual yang sering sulit dijerat pasal mana pun dalam sistem hukum Indonesia sekarang.

 

Pasangan suami-istri

Secara antropologis, yang menarik dari serangan terhadap pejabat publik setingkat menteri ini ialah bahwa serangan tersebut dilakukan pasangan suami-istri tanpa melibatkan anak-anak mereka.

Abu Rara, misalnya, tidak mengajak Rara (anaknya) untuk turut serta menyerang Wiranto dengan senjata sederhana yang bisa ditemukan di dapur setiap rumah tangga.

Ini merupakan unsur paling penting dalam identifikasi jenis terorisme yang mereka lakukan. Keterlibatan pasangan hidup atau suami istri ialah bentuk paling mendasar dari serangan familial ini. Familial terorism ini merupakan ciri khas serangan kelompok JAD yang berafiliasi ke ISIS (Islamic State of Iraq and Syam).

Bagi mereka, istri harus diajak serta agar bisa masuk ke surga berbarengan dalam serangan yang mereka persepsikan sebagai jihad ini.

Jihad, bagi mereka, merupakan satu-satunya ibadah tertinggi yang pelakunya akan diberi reward (ganjaran) oleh Tuhan dengan masuk ke surga secara seketika tanpa jeda.

Istri dianggap perlu masuk surga berbarengan agar tak menikah lagi jika serangan bunuh diri (isytishad) hanya dilakukan suami.

 

Senjata domestik

Hal lain yang menarik dari serangan teror terhadap Wiranto ini ialah penggunaan alat-alat sederhana sebagai senjata. Dalam antropologi, senjata rumahan (domestic weapon) merupakan alat survival paling minimal untuk menyerang.

Inilah yang oleh James Scott (2008) disebut juga sebagai the weapon of the weak (senjatanya orang-orang yang kalah), selain mengeluh dan hanya menggerutu.

Hal itu sesuai dengan fatwa dan seruan Abu Abdullah al Filipin untuk menggunakan senjata apa saja demi menggentarkan musuh.

Para pejabat publik Republik ini sudah diidentifikasi sebagai thoghut atau musuh sehingga mereka akan mengintainya hingga kapan pun.

Mereka menunggu suatu waktu yang tepat untuk bisa melancarkan serangan ini dengan tidak meninggalkan ciri khas mereka yang bercadar dan bercelana cingkrang.

Eric J Hobsbawm (1917) menyebutkan bahwa kaum yang merasa dirinya tertindas secara ideologis akan melakukan perlawanan primitif dengan menggunakan alat-alat sederhana sebagai senjata.

Motif teologis kelompok teroris di mana pun, selalu saja motif teologis dengan tekanan mesianisme atau millenarianism yang kuat.

Fitri Andriana dan Syahril Alamsyah (Abu Rara) adalah kalangan millenarian yang menyusun perlawanan primitif tanpa perencanaan yang matang dengan alat dan senjata yang serbasederhana; sesederhana rumah tangga mereka yang miskin secara struktural ini.

BERITA TERKAIT