11 October 2019, 04:00 WIB

Tolak Award, Sikap Eka Didukung Budayawan


Rifaldi Putra Irianto | Humaniora

MI/Susanto
 MI/Susanto
novelis Eka Kurniawan 

DUKUNGAN terhadap novelis Eka Kurniawan atas sikapnya yang menolak menerima Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mendapat apresiasi di kalang-an budayawan. Sikap Eka dinilai tepat karena pemerintah dianggap tidak menghargai kerja-kerja kebudayaan dan berkesenian.

Budayawan Radhar Panca Dahana saat dimintai konfirmasi terkait sikap Eka tersebut, kemarin, mengaku setuju dan mendukungnya. "Saya setuju sekali, sangat setuju apa yang dikatakan Eka itu benar. Bahkan ketidakpedulian pemerintah terhadap kebudayaan itu sudah ada sejak zaman dulu, sebelum pemerintahaan saat ini," kata Radhar di Jakarta.

Bahkan Radhar menyebut ranah kebudayaan di Indonesia seperti dipinggirkan. "Memang apresisi terhadap kebudayaan itu sangat minim. Pemerintah memberi penghargaan itu tidak sungguh-sungguh," cetusnya.

Radhar menilai selama ini pemerintah keliru melihat kebudayaan dan hanya melakukan selebrasi seperti me-rayakan festival kebudayaan, menyelenggarakan pameran produk kebudayaan yang menghamburkan uang. Pemerintah disebut juga sangat tidak paham dengan kebudayaan yang diperlakukan semena-mena hanya untuk membuang anggaran dan mengisi portofolio. "Dan itu dari pihak pekerja seni sudah pernah memprotes, tapi tetap saja dilakukan lagi," imbuhnya.

Dijelaskan, kebudayaan sesungguhnya merupakan budi dan akal serta proses dari hasil produk budaya, ide, dan pikiran yang dimiliki pekerja seni untuk memproduksi sebuah produk kebudayaan. Kebudayaan, imbuhnya, jangan dipahami secara keliru. Misalnya batik, tari Pendet, Borobudur, itu bukan kebudayaan. Mereka pahami itu kebudayaan, padahal itu produk kebudayaan.

Untuk diketahui, malam tadi Kemendikbud melalui Direktorat Warisan Budaya dan Diplomasi Budaya kembali menggelar Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi. Penghargaan diberikan kepada 59 orang seniman.

Penghargaan dibagi ke dalam delapan kategori. Kate-gori pertama, gelar tanda kehormatan dari Presiden, terdiri dari Bintang Mahaputra, Bintang Budaya Parama Dharma, dan Satyalancana Kebudayaan. Kemudian kate-gori pencipta dan pelopor, pelestari, anak dan remaja, maestro seni tradisi, pemerintah daerah, komunitas dan perorangan asing.

Hargai sikap Eka

Terkait sikap Eka tersebut, Mendikbud Muhadjir Effendy mengaku menghormati Eka Kurniawan. "Itu kan tidak wajib. Kalau ditolak tidak apa-apa," ujar Mendikbud di Jakarta.

Ia pun tidak menampik pemerintah belum berpihak pada kebudayaan. Namun, menurutnya sudah ada inisiatif mengenai hal itu. Menurut Muhadjir, segala sesuatu tidak lantas langsung jadi. Perhatian pemerintah terhadap kebudayaan baru dimulai. "Segala sesuatu tidak bisa 'sak det sak nyet' (seketika), perhatian terus berlangsung besar-besarkan," ucapnya.

Ia pun mencontohkan pemerintah mulai menganggarkan dana abadi kebudayaan dengan jumlah sekitar Rp10 triliun tahun ini. (Ind/Zhi/H-1)

BERITA TERKAIT