11 October 2019, 00:20 WIB

Kekeringan Akibatkan Lahan Puso Naik 100%


Andhika Prasetyo | Ekonomi

ANTARA
 ANTARA
Lahan Puso

DPR meminta pemerintah mulai memikirkan langkah antisipasi gagal panen akibat musim kemarau dan kekeringan berkepanjangan pada 2019 ini.

"Kekeringan berkepanjangan ini membuat lahan padi gagal panen atau puso meningkat tajam tahun ini. Pemerintah perlu menyiapkan langkah-langkah taktis untuk mengendalikan harga beras," kata anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Andi Akmal Pasluddin, kemarin.

Anggota legislatif dari Sulawesi Selatan itu meminta pemerintah menyiapkan manajemen stok pangan untuk mengantisipasi kemungkinan gagal panen.

Dari data yang dipegangnya, sejumlah daerah di Sulawesi sudah gagal panen, seperti Bone, Bulukumba, Wajo, Pangkep, Maros, dan sekitarnya.

Jika tidak ada langkah antisipasi dari pemerintah, Akmal memperkirakan akan terjadi gejolak harga beras pada November 2019. Apalagi, dia mendapat laporan data kekeringan pada luasan lahan pertanian di 2019 meningkat dua kali lipat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

"Meskipun saat ini sudah mulai terlihat akan segera masuk musim penghujan, lahan pertanian yang terancam puso mencapai 70 ribu hektare. Angka itu meningkat tajam bila dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai 30 ribu hektare," tuturnya.

Akmal mengatakan, selain mengurangi stok pangan nasional, kegagalan panen juga memicu petani menanam komoditas selain beras sehingga tidak ada pasokan beras ke gudang. Akibatnya, petani juga bakal menjadi konsumen beras.

 

Data yang jujur

Di kesempatan terpisah, ekonom senior Indef, Faisal Basri, meminta Kementerian Pertanian (Kementan) menyuguhkan data-data produksi komoditas pangan dengan jujur. Ia meragukan produksi beras bakal mencapai 49 juta ton yang diproyeksikan Kementan pada tahun ini dapat tercapai.

"Tolong, kalau menunjukkan hasil itu yang proporsional. Kalau memaparkan data-data itu yang jujur," ujar Faisal di Jakarta, kemarin.

Data proyeksi Kementan itu sangat jauh di bawah data terakhir Kerangka Sampel Area oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang memperkirakan produksi beras sepanjang Januari sampai November 2019 baru 29,4 juta ton.

BPS menilai target 49 juta ton mungkin tidak tercapai. Itu akibat musim kemarau tahun ini yang berkepanjangan.

Faisal mengatakan, jika kinerja produksi akhirnya tidak bisa memenuhi kebutuhan, Kementan tidak perlu memaksakan diri dengan memproyeksikan data yang tidak sesuai kenyataan di lapangan.

Dalam menanggapi hal tersebut, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan Kementan Gatut Sumbogojati mengungkapkan proyeksi itu dibuat untuk sepanjang tahun. Dengan begitu, ia meminta semua pihak menunggu hasilnya hingga Desember 2019.

"Tanam itu kan nanti panennya Desember. Kalaupun tidak sesuai proyeksi, kami yakin masih bisa mencapai 80% atau 90% dari target awal," tuturnya. (Ant/E-2)

BERITA TERKAIT