10 October 2019, 20:26 WIB

Taiwan: Kami Menolak Penyatuan Dengan Cina


Cahya Mulyana melaporkan dari Taipei City, Taiwan. | Internasional

Sam YEH / AFP
 Sam YEH / AFP
Presiden Taiwan Tsai Ing-wen menyampaikan sambutan pada Perayaan HUT ROC ke 108 di alun-alun Istana Kepresidenan Taiwan, hari ini.

PRESIDEN Taiwan Tsai Ing-wen menegaskan bahwa dirinya siap menjadi garda terdepan menolak penyatuan dengan Tiongkok. Keinginan pemerintah negeri Tirai Bambu itu dengan istilah satu negara dua sistem hanya mengundang kekacauan seperti yang terjadi di Hong Kong.

"Jika kita menerima kebijakan satu negara, dua sistem, itu artinya tidak akan ada lagi ruang untuk keberadaan Republik Cina (R.O.C/Taiwan). Maka sebagai presiden, saya berdiri tegak untuk melindungi kepentingan nasional Taiwan, bukan sebuah provokasi sebab hal itu adalah tanggung jawab yang mendasar," tegasnya saat menyampaikan sambutan pada Perayaan HUT ROC ke 108 yang bertajuk Taiwan Forward di alun-alun Istana Kepresidenan Taiwan, Taipei City, Taiwan, Kamis, (10/10).

Menurut dia, pada perayaan serupa tahun lalu atau kerap disebut double ten itu sempat menyatakan bahwa Taiwan berada di antara kondisi politik dan ekonomi global tidak menentu. Maka pemerintah Taiwan pun mematangkan strategi dalam mencari stabilitas, adaptasi terhadap kondisi global, bergerak maju dan membangun negara yang kuat.

Setahun telah berlalu, kata dia, namun kondisi dunia berubah cepat bahkan lebih dramatis. Kerja sama dagang Tiongkok dengan Amerika Seikat yang mengalami kebuntuan terus berlanjut serta Hong Kong yang tidak jauh dari Taiwan masih bergejolak.

"Hong Kong diambang kekacauan karena kebijakan satu negara dua sistem. Dan itu juga menjadi ancaman bagi Taiwan," ungkapnya.

Modal tersebut, kata Tsai menekan lewat jalur diplomatik dan kekuatan militer yang hanya berbuah ancaman serius untuk stabilitas keamanan regional dan perdamaian dunia. "Ketika kebebasan, pembangunan dan demokrasi ditantang apalagi ketika eksistensi R.O.C terancam maka kita semua harus berdiri dan membela diri kita sendiri," paparnya.

Ia pun menegaskan bahwa penolakan terhadap kebijakan Tiongkok itu merupakan konsensus seluruh warga negara Taiwan. "Konsensus yang luar biasa dari rakyat Taiwan bahwa 23 juta orang disini menolak satu negara dua sistem. Itu terlepas dari afiliasi partai atau posisi politik karena R.O.C telah berdiri selama lebih dari 70 tahun," pungkasnya.

Pada perayaan hari jadi Taiwan ke 108 itu menampilkan atraksi militer seperti kapal tempur produksi nasional, tim pesawat AT3 yang terbang melintasi Istana Kepresidenan. Parade di hari besar Taiwan ini yang dihadiri ribuan rakyat Taiwan itu juga menampilkan pertunjukan tarian dari pasukan angkatan darat Taiwan, tarian bendera, barongsai.

Kemudian ada parade Komando Polisi Militer yang menampilkan 54 sepeda motor, 23 mobil bunga hias salah satunya bertema kapal tempur T-5 Brave Eagle produksi nasional. Puncaknya ditutup dengan pertunjukan Air Force Thunder Tigers yang menyemburkan asap tiga warna yakni putih, biru dan merah atau selaras dengan bendera Taiwan. (OL-4)

BERITA TERKAIT