10 October 2019, 17:33 WIB

Tol Laut Tidak Mampu Tekan Harga Daging Sapi


Andhika Prasetyo | Ekonomi

Antara/Fikri Yusuf
 Antara/Fikri Yusuf
Pengiriman Sapi Bali ke Pulau Jawa

DIREKTUR Oprasional PT Berdikari Oksan Panggaban mengungkapkan, fasilitas tol laut tidak cukup mampu menekan biaya distribusi sapi antarpulau.

Sebagaimana diketahui, di Indonesia, sentra-sentra sapi lokal hanya berada di Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Sementara, sapi-sapi yang berada di Jawa dan Sumatera adalah produk impor asal Australia yang digemukkan.

Dengan demikian, untuk memenuhi permintaan sapi-sapi lokal, pelaku usaha harus mendistribusikan hewan-hewan tersebut dari lokasi pengembangan ke seluruh negeri.

Oksan mengungkapkan biaya yang dibutuhkan untuk mengirim satu sapi berkisar Rp1 juta. Namun, dengan adanya subsidi tol laut, pelaku usaha hanya perlu mengeluarkan dana Rp500 ribu per ekor.

Baca juga : Dukung Tol Laut, TNI AL Perbarui Peta Perairan Larantuka

Namun, ternyata, program subsidi itu tidak membuat harga daging sapi menjadi turun. Pasalnya, sapi-sapi yang diseberangkan antarpulau kerap mengalami penyusutan berat badan karena mengalami stres dalam perjalanan.

"Ternak itu kalau di perjalanan suka stres, akhirnya bobot mereka turun. Pelaku usaha harus keluar biaya lagi untuk menggemukkan sapi-sapi ketika sudah tiba di lokasi tujuan. Itu yang membuat harga tetap mahal," jelas Oksan di Jakarta, Kamis (10/10).

Berkaca dari kondisi tersebut, ia mengatakan semestinya pengiriman tidak dilakukan dalam bentuk sapi hidup, tetapi dalam bentuk daging.

Maka itu, perlu dibentuk rumah potong hewan (RPH) dan cold storage yang mumpuni, besar dan berkualitas di sentra-sentra produksi sapi.

Berdikari sebagai BUMN peternakan sedianya sudah berencana membangun RPH di sentra sapi lokal di luar Jawa.

Hanya saja, rencana tersebut terganjal kepastian pasokan sapi dari peternak.

Baca juga : Kemenhub Optimalkan 113 Kapal Perintis Dukung Angkutan Laut Lebar

"Pembentukan RPH harus didukung persediaan sapi potong yang berkelanjutan. Harus ada kepastian stok. Jika tidak, RPH akan mati dan hanya membuang-buang biaya saja," tuturnya.

Oktan mengaku pihaknya terakhir kali membeli sapi lokal dari pengiriman via tol laut ialah pada 2016 silam. Harga sapi dan biaya pengiriman memang rendah. Namun, pada akhirnya, perseroan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk melakukan perawatan terhadap sapi yang menyusut.

Ia enggan menjelaskan biaya perawatan yang harus dikeluarkan. Yang pasti, sambungnya, itu membuat biaya produksi menjadi tinggi dan harga jual jadi tidak bersaing.

"Apa lagi kita sekarang harus berkompetisi dengan daging sapi impor," ucapnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT