10 October 2019, 17:18 WIB

Soal Data Produksi Pangan, Kementan Diminta Jujur


Andhika Prasetyo | Ekonomi

Antara
 Antara
Areal persawahan padi terlihat dari Bukit Gumuk Reco, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. 

EKONOM senior Indef, Faisal Basri, meminta Kementerian Pertanian (Kementan) menyuguhkan data-data terkait produksi komoditas pangan dengan jujur.

Pada tahun ini, Kementan memproyeksikan produksi beras mencapai 49 juta ton. Padahal, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), prediksi produksi beras sepanjang Januari sampai November melalui skema Kerangka Sampel Area (KSA) hanya sebesar 29,4 juta ton.

"Tolong kalau menunjukkan hasil itu yang proporsional. Kalau memaparkan data-data itu yang jujur," ujar Faisal di Jakarta, Kamis (10/10).

Ekonom senior Indef, Faisal Basri. (Dok Antara)

Ia mengatakan, jika memang kinerja produksi tidak bisa memenuhi kebutuhan, Kementan tidak perlu memaksakan dengan memproyeksikan data yang tidak sesuai kenyataan di lapangan.

Pasalnya, Indonesia tidak akan runtuh sekalipun tidak bisa mewujudkan swasembada pangan. Yang terpenting, lanjut Faisal, masyarakat bisa mengakses bahan-bahan pangan dengan mudah dan harga yang murah.

Ia mencontohkan Singapura, negara yang tidak memiliki lahan pertanian tetapi berada di peringkat pertama dalam hal ketahanan pangan atau food security.

"Kalau memang tidak bisa memproduksi itu tidak perlu dipaksa. Apalagi sekarang lahan pertanian semakin sempit. Yang penting itu bukan swasembada, tapi ketahanan. Masyarakat punya akses kepada pangan," jelas Faisal.

Direktur Statistik Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan BPS Hermanto menilai, dengan proyeksi realisasi yang terlihat sekarang, akan sulit bagi Indonesia untuk mampu memproduksi 49 juta ton beras.

"Itu sulit. Semoga saja produksi di Desember panen bisa besar," tutur Hermanto.

Ia mengatakan prediksi realisasi produksi beras sepanjang tahun ini masih menunggu hasil penghitungan KSA yang masih dalam proses.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan Kementan Gatut Sumbogojati mengungkapkan proyeksi tersebut dibuat untuk sepanjang tahun.

Dengan begitu, ia meminta semua pihak menunggu hasilnya hingga Desember. "Tanam itu kan nanti panennya Desember. Kalaupun tidak sesuai proyeksi, kami yakin masih bisa mencapai 80% atau 90% dari target awal," tuturnya. (X-15)
 

BERITA TERKAIT