10 October 2019, 16:45 WIB

Formappi: Pimpinan AKD Lamban Dibentuk, DPR Tidak Bisa Bekerja


Nur Aivanni | Politik dan Hukum

MI/MOHAMAD IRFAN
 MI/MOHAMAD IRFAN
Peneliti Formappi Lucius Karus

PENELITI Formappi Lucius Karus meragukan penyusunan pimpinan alat kelengkapan dewan (AKD) di DPR RI bakal rampung sebelum pelantikan Presiden-Wakil Presiden pada 20 Oktober mendatang. Hal ini tentu akan membuat DPR tidak akan langsung bekerja.

"Paska pelantikan (susunan pimpinan AKD). Ini pasti menunggu siapa menteri yang akan ditunjuk. Kecuali, DPR sudah punya bocoran siapa menterinya," katanya di Jakarta, Kamis (10/10).

Untuk diketahui, Ketua DPR RI Puan Maharani sebelumnya sempat mengatakan bahwa penyusunan pimpinan AKD bakal rampung sebelum pelantikan.

Dengan belum tersusunnya pimpinan AKD tersebut, lanjut Lucius, itu berarti ada kekosongan kinerja oleh para wakil rakyat. Padahal, kata dia, 575 anggota DPR periode 2019-2024 tersebut bisa terlebih dahulu dibagi ke dalam komisi yang ada meskipun pimpinan AKD-nya belum terbentuk.

"Mestinya komisinya sudah dibagi, anggota-anggotanya. Pimpinan akan dibentuk definitif setelah 20 Oktober. Mereka (seharusnya) sudah mulai membicarakan usulan RUU yang akan masuk dalam Prolegnas, menyerap aspirasi publik, tanpa harus menunggu pimpinan komisi definitif," tuturnya.

Direktur Eksekutif Formappi I Made Leo Wiratma pun mengatakan hal yang senada. Selama sepuluh hari pertama DPR periode 2019-2024, anggota dewan hanya memperlihatkan semangat untuk membagi-bagi kursi pimpinan AKD.

"Belum terlihat sikap responsif mereka terhadap tuntutan publik yang masih terngiang-ngiang di telinga mereka, terkait dengan RUU-RUU kontroversial yang ditunda pengesahannya," ucapnya.

Padahal, kata dia, anggota DPR periode 2019-2024 tersebut memiliki potensi untuk mendorong DPR bekerja lebih baik lagi jika melihat data-data mereka baik dari segi usia maupun tingkat pendidikan.

Berdasarkan data Formappi, dari segi usia, ada 427 (47%) anggota dewan periode 2019-2024 yang berusia produktif (30-60 tahun). Sementara, kelompok milenial (21-35 tahun) ada sebanyak 52 orang (9%). Dengan begitu, kelompok yang berusia produktif sebanyak 479 orang (83%).

"Artinya kalau mereka mengoptimalkan tenaganya untuk memperbaiki kinerja DPR hasilnya pasti akan menjadi dasyat," ujarnya.

Sementara itu, jika dilihat dari tingkat pendidikan, ada 495 orang (86%) berpendidikan D4, S1, S2, dan S3. "Artinya, sebagian besar anggota DPR ini memiliki kecerdasan yang mumpuni dan jika kecerdasannya ini dipergunakan secara optimal maka sangat besar kemungkinannya kinerja DPR akan menjadi lebih baik," tandasnya. (OL-4)

BERITA TERKAIT