10 October 2019, 15:50 WIB

Penulis Eka Kurniawan Tolak Anugerah Kebudayaan 2019


Rifaldi Putra Irianto | Humaniora

MI/Susanto
 MI/Susanto
Penulis buku Eka Kurniawan berpose di sudut toko buku di kawasan Central Park, Jakarta Barat.

PENULIS Eka Kurniawan menolak Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019, mulanya penghargaan itu akan diberikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kepadanya pada Kamis malam, (10/10).

Dalam keteranganya, ada beberapa alasan yang membuatnya menolak penghargaan tersebut, salah satunya mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam memberikan apresiasi bagi pekerja seni dan budaya.

Ia menilai penghargan yang akan diterimanya yang berupa pin dan uang senilai Rp50 juta dipotong pajak tersebut, terlihat kontras dengan hadiah yang diterima para atlet atau olahragawan yang memenangkan olimpiade.

"Reaksi saya secara otomatis adalah, 'Kok, jauh banget dengan atlet yang memperoleh medali emas di Asian Games 2018 kemarin?' sebagai informasi, peraih emas memperoleh Rp1,5 miliar. Peraih perunggu memperoleh Rp250 juta. Pertanyaan saya mungkin terdengar iseng, tapi jelas ada latar belakangnya, " kata Eka dalam keteranganya, Jakarta, Kamis (10/10).

Ia juga menilai bahwa, negara telah mangkir dalam memberikan perlindungan pada industri perbukuaan, ia pun mempertanyakan kepedulian pemerintah dengan pekerja seni dan budaya.

"Akhir-akhir ini, industri perbukuan, terutama penerbit-penerbit kecil dan para penulis, menjerit dalam ketidakberdayaan menghadapi pembajakan buku, " jelas Eka

"Yang jelas, sudah selayaknya negara memberi perlindungan, " imbuhnya.

Menurut Eka, jika perlindungan kebebasan berekspresi masih terengah-engah, setidaknya negara bisa memberi perlindungan secara ekonomi, meyakinkan semua orang yang berada di industri buku agar hak-haknya tidak dirampok.

"Memikirkan ketiadaan perlindungan untuk dua hal itu, tiba-tiba saya sadar, Negara bahkan tak punya komitmen untuk melindungi para seniman dan penulis atas hak mereka yang paling dasar, kehidupan," ucapnya.

Dengan kesadaran seperti itulah, beberapa hari lalu akhirnya penulis novel 'Cantik Itu Luka' tersebut membalas surat dari Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Bahwa dirinya memutuskan tidak datang pada 10 Oktober 2019, serta menolak pemberian Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019.

"Suara saya mungkin terdengar arogan, tapi percayalah, negara ini telah bersikap jauh lebih arogan, dan cenderung meremehkan kerja-kerja kebudayaan," pungkasnya. (OL-09)

BERITA TERKAIT