10 October 2019, 07:24 WIB

Tidak Hanya Palu, Sejumlah Daerah Juga Rentan Likuefaksi


Mitha Meinansi | Nusantara

MI/Mitha Meinansi
 MI/Mitha Meinansi
Kepala Badan Geologi Rudy Suhendar (berbaju putih) menyerahkan buku Atlas Kerentanan Likuefaksi di Indonesia kepada Sekda Provinsi Sulteng.

SEJUMLAH wilayah di Indonesia rentan bencana likuefaksi seperti yang pernah terjadi di Kota Palu, Sulawesi Tenggara. Badan Geologi Kementerian ESDM telah melakukan penyelidikan fenomena likuefaksi sejak 1990-1994 di Denpasar, Maumere, dan Flores.

Badan Geologi melalui Bidang Geologi Teknik pada Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan juga meneliti sejumlah kota besar yang berpotensi terjadi likuefaksi hingga 2018. Kota-kota yang diteliti adalah Kota Padang, Bengkulu, Pidie Jaya, Meulaboh, Yogyakarta, Banyuwangi, Denpasar, Lombok, Maumere, Palu, dan Gorontalo.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Rudy Suhendar menjelaskan bahwa  likuefaksi sebagai bahaya ikutan pasca gempabumi merupakan proses peluluhan massa tanah akibat guncangan gempa.

"Dampaknya adalah tanah kehilangan kekuatan gesernya dan berperilaku seperti fluida (cair). Peluluhan atau mencairnya massa tanah dapat mengakibatkan kerusakan bangunan yang berada di atasnya seperti bangunan miring, kerusakan pada pondasi, timbulnya retakan-retakan, hingga pada amblasnya bangunan," kata Rudy saat memaparkan bahaya likuefaksi usai peluncuran atlas kerentanan likuefaksi di Indonesia yang diselenggarakan di Kota Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (9/10).

Dari hasil penelitian dan pengalaman empiris para ahli geologi dan ahli-ahli di bidang lain dibuatlah kumpulan peta. Rudy menambahkan daerah-daerah yang diindentifikasi rentan likuefaksi memiliki sejumlah kriteria.

Yakni daerah yang berpotensi mengalami guncangan gempa dengan percepatan tanah puncak (peak ground acceleration/PGA) 0,1g atau lebih tinggi. Daerah yang memiliki susunan lapisan tanah berupa endapan muda berumur Kuarter, yaitu berupa susunan tanah non kohesif (pasir halus seragam, lanau nonplastis, dan kerikil) dan/atau bersusunan atas perselingan tanah kohesif-non kohesif.

"Daerah yang memiliki keberadaan muka air tanah relatif dangkal. Biasanya kedalaman < 9,0 m di bawah muka tanah setempat. Juga diwaspadai daerah-daerah yang berkemiringan relatif landai atau kemiringan < 8%. Utamanya pada tekuk lereng. Ini kaitannya terhadap kejadian dengan mekanisme gabungan," ujarnya.

Dengan terpenuhinya kriteria yang disebutkan, maka akan meningkatkan kerentanan suatu area mengalami likuefaksi. Apabila terjadi gempa bisa menimbulkan menimbulkan kerusakan pada tanah permukaan, yang dapat berdampak buruk pada keberadaan infrastruktur atau bangunan-bangunan di atasnya.

Kerusakan pada bangunan perumahan, perkantoran ataupun infrastruktur lainnya berkorelasi dengan tingkat kerusakan yang timbul pada tanah permukaan akibat likuefaksi.

Pada kesempatan itu Sekda Provinsi Sulawesi Tengah, Mohamad Hidayat Lamakarate mengatakan bahwa atlas yang diterbitkan oleh Badan Geologi ini akan menjadi rujukan bagi Pemprov Sulteng dalam melakukan pembangunan dan penataan wilayah. Apalagi wilayah Sulteng rentan likuefaksi.

"Yang jelas kami di pemerintah daerah akan menjadikan peta yang dikeluarkan sebagai pedoman. Walaupun itu masih peta Indonesia, tapi paling tidak sudah memberikan informasi kepada kita tentang wilayah yang rentan terhadap likuefaksi. Nah, menurut saya masih perlu ada peta yang lebih rinci lagi, sehingga kelihatan mana-mana wilayah yang
rawan," ujar Hidayat.

Menurutnya, dengan adanya peta tersebut dapat memberikan informasi kepada masyarakat secara luas, karena ada dasar yang menjadi acuannya.

"Jadi saya kira yang terpenting adalah kita bisa memberikan informasi yang lebih luas kepada masyarakat, dan bisa menjawab pertanyaan masyarakat tentang kawasan kami rawan atau tidak rawan. Kawasan kami boleh ditempati atau tidak boleh ditempati. Yang jelas kalau kebijakan Gubernur, merah tidak berarti semua tidak bisa ditempati. Tetapi
ditempati dengan perlakuan, itu saja," tandas Hidayat.

baca juga: Wamena Mulai Pemulihan Trauma

Menanggapi hal itu, Rudy mengatakan bahwa buku Atlas Kerentanan Likuefaksi di Indonesia, merupakan informasi awal yang sifatnya regional dengan skala peta 1:100.000

"Informasi ini nantinya masih memerlukan upaya-upaya pemutakhiran dan update data terkait. Pemuktahiran peta akan dilakukan secara berkesinambungan dan berkelanjutan di masa mendatang," ujarnya. (OL-3)

 

 

BERITA TERKAIT