10 October 2019, 05:10 WIB

Outlander PHEV Mulai Didistribusikan November


Wisnu Arto Subari | Otomotif

DOK. MITSUBISHI
 DOK. MITSUBISHI
Outlander PHEV

Sejak diperkenalkan di GIIAS 2019, Outlander PHEV telah laku terjual 50 unit.

PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) pada Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2019, Agustus lalu, memperkenalkan Outlander Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV).

Mobil seharga Rp1,2 miliar ini mengintegrasikan SUV, teknologi 4WD, dan keunggulan PHEV yang mampu mengubah mobilitas masyarakat yang penuh polusi menjadi aktivitas yang lebih bersahabat untuk lingkungan.

Kendaraan ini merupakan perpaduan mesin bensin 2,4 liter, motor listrik, dan baterai. Dilengkapi dengan teknologi elektrik yang terintegrasi.

Outlander PHEV hadir dengan tiga mode, yakni EV Drive Mode, Series Hybrid Mode, dan Parallel Hybrid Mode. Ada dua pilihan warna, yaitu ruby black dan silky white.

Vice President General Manager Indonesia Business Department ASEAN Division MMC, Toshinaga Kato, mengatakan pihaknya memperkenalkan mobil itu sebagai plug-in hybrid SUV pertama di dunia yang dapat dikendarai dengan mode listrik dan bahan bakar bensin pada 2013.

"Kini kendaraan tersebut telah menjadi PHEV terlaris di dunia dengan penjualan lebih dari 220 ribu unit di 66 negara," ujarnya ketika peresmian kerja sama studi pemanfaatan energi baru dan terbarukan untuk pengisian daya kendaraan listrik di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Khusus di Indonesia, sejak diperkenalkan di GIIAS 2019, Outlander PHEV terjual 50 unit hingga kini. Pengiriman unit tersebut ke konsumen mulai bulan depan.

Selain Outlander PHEV, Mitsubishi memboyong mobil listrik lain, yakni i-MiEV. Mibil listrik i-MiEV hadir menandai 40 tahun pengembangan kendaraan listrik di Mitsubishi Motors. Mobil ramah lingkungan tersebut menjadi solusi untuk berbagai tantangan saat ini, termasuk polusi, pemanasan global, dan menipisnya pasokan energi berbasis minyak bumi.

Kendaraan itu tidak menghasilkan emisi CO2 saat dikendarai, juga sangat ekonomis karena hanya menggunakan energi listrik sebagai sumber dayanya.

Mengendarai i-MiEV menghadirkan pengalaman berkendara yang tenang dan nyaman hanya dari pembakaran mesin internal yang engine-less. Mesinnya memaksimalkan respons luar biasa dan torsi high low-end yang melekat pada motor listriknya. Sayangnya, kendaraan ini belum dipasarkan di Indonesia.

Studi bersama

Terkait dengan dua kendaraan tersebut, PT MMKSI melakukan studi bersama pemanfaatan energi baru dan terbarukan untuk pengisian daya kendaraan listrik di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Kerja sama Mitsubishi studi bersama tersebut diresmikan di kantor PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Tambolaka, Sumba Barat Daya, Kamis (3/10). Peresmian dilakukan bersama Kementerian Perindustrian, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), PLN, dan Kyudenko.co.

"Upaya ini kami lakukan karena selain lebih ramah lingkungan, juga untuk mempersiapkan industri otomotif nasional dalam mengembangkan mobil listrik," ungkap President Director MMKSI, Naoya Nakamura, dalam konferensi pers seusai peresmian itu.

Pemilihan lokasi di Sumba bukan tanpa alasan. Hal tersebut disebabkan keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Bilacenge, Sumba Barat Daya. PLTS tersebut dianggap sebagai penghasil listrik terbesar di Indonesia dengan kapasitas 700 kilowatt peak (kwp).

Studi bersama Mitsubishi Motors dengan BPPT dan Kyudenko.co di Sumba

berfokus pada pemanfaatan energi terbarukan sebagai pasokan daya untuk mobil listrik di daerah terpencil. Pasalnya, jaringan PLN biasanya tidak terlalu dapat diandalkan atau stabil untuk rumah-rumah di area tersebut.

Kegiatan bernama Sumba Project itu berlangsung selama 16 minggu mulai 1 Agustus-30 November 2019. Mitsubishi menyediakan satu mobil listrik i-MiEV dan satu alat pengisian daya cepat dalam proyek energi terbarukan itu. (S-1)

BERITA TERKAIT