09 October 2019, 21:16 WIB

SDG Academy Indonesia Tingkatkan Kapasitas SDM


Tesa Oktiana Surbakti | Humaniora

Dok. Tanoto Foundation
 Dok. Tanoto Foundation
Peluncuran SDG Academy

KEMENTERIAN Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Tanoto Foundation, dan Badan PBB untuk Pembangunan (UNDP), meluncurkan Sustainable Development Goals (SDG) Academy Indonesia.

Peluncuran dilakukan Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, Anggota Dewan Pembina Tanoto Foundation Anderson Tanoto, dan Resident Representative UNDP Indonesia Christophe Bahuet, dalam SDGs Annual Summit 2019 di Hotel Fairmont Jakarta.

SDG Academy Indonesia bertujuan membangun karakter kepemimpinan, kemampuan manajemen dan pembuatan kebijakan, serta pemahaman mengenai isu-isu SDG. Sehingga, para peserta mampu untuk memberikan solusi inovatif.

 Bagi peserta institusi, SDG Academy Indonesia diharapkan dapat meningkatkan kapasitasnya dalam mengembangkan atau memengaruhi kebijakan terkait SDG. Serta dapat mengimplementasikan program SDG.

Selain itu, institusi juga dapat meningkatkan dan memperluas kolaborasi antar organisasi dan lembaga mengenai isu-isu SDG.

Baca juga : Kampanye SDG melalui Media

“Pemerintah Indonesia sangat serius dalam mewujudkan dan mempercepat pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, pemerintah bersama dengan organisasi kemasyarakatan dan sektor swasta menginisiasi SDG Academy Indonesia. Itu merupakan sebuah program pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia," ujar Bambang dalam keterangan resmi, Rabu (9/10).

Program tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas para pemangku kepentingan, di pemerintah maupun non-pemerintah, untuk melokalisasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. SDGs Academy berperan sebagai SDGs Knowledge Hub di Indonesia.

“Sesuai dengan prinsip inklusivitas dan ‘no one left behind’ dari SDG bahwa pembangunan merupakan tanggung jawab kita semua. Tanoto Foundation berperan sebagai katalis kemitraan, baik dengan pemerintah, swasta, maupun mitra pembangunan lainnya, berkolaborasi mencapai tujuan dalam SDG," imbuh Anderson.

Peluncuran SDG Academy Indonesia, lanjut Anderson, merupakan inisiatif pertama sebagai wujud komitmen Tanoto Foundation dalam mengimplementasikan SDG yang transformatif dan universal. Terutama dalam upaya pengentasan kemiskinan dan pembangunan berkelanjutan.

“Saat ini kita punya waktu 11 untuk mencapai SDG. Butuh peningkatan partisipasi dari pelaku pembangunan pemerintah dan non pemerintah. Namun, akses ke pengetahuan bagi semua pelaku pembangunan untuk melokalkan SDGs kerap menjadi tantangan di negara kepulauan yang besar dan luas seperti Indonesia," jelas Christophe.

Akademi SDG, kata Cristophe, memberikan plaform pembelajaran dan kurikulum yang inovatif. Program ini sebagai respons untuk memenuhi tantangan percepatan kemajuan menuju SDG.

Sejak 2016, Tanoto Foundation bekerja sama dengen pemerintah dan UNDP dalam lokalisasi SDG di Provinsi Riau. Melalui proyek ini, Riau menjadi provinsi pertama di Indonesia yang meluncurkan Rencana Aksi Daerah tentang SDG di bulan Juni 2018.

Tanoto Foundation juga menggandeng UNDP, Asian Agri, dan Pemerintah Daerah Kabupaten Pelalawan. Kerja sama tertuang dalam kemitraan multi-pihak untuk program Sustainable Palm Oil Initiative, yang mengantarkan Asosiasi Amanah menjadi kelompok petani swadaya pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO).

Baca juga : Wapres Bahas SDGs, Krisis Kemanusiaan dan Kopi di Sela Sidang PBB

SDG Academy Indonesia memberikan kesempatan belajar yang meliputi sesi tatap muka, dan diikuti dengan sesi pembelajaran online, dan melalui perangkat mobile.

Program ini akan diisi oleh para ahli terkemuka Indonesia yang berpengalaman dalam isu-isu spesifik SDGs, serta masalah tata kelola dan kebijakan.

Selain para ahli terkemuka Indonesia, SDG Academy Indonesia juga diperkuat para pembicara dari negara lain yang membahas topik sesuai keahlian.

Ada tiga program dalam SDG Academy Indonesia, yaitu SDGs Certification Program (5 bulan), Mobile Learning Program (setahun), dan Study Abroad Program (5 bulan). Program ini meliputi bidang tata kelola dan kebijakan, solusi inovatif, serta pemantauan dan pelaporan. (OL-7)

BERITA TERKAIT