09 October 2019, 20:29 WIB

Evaluasi Haji 2019, Peningkatan Kualitas Manasik untuk 2020


Sitria Hamid | Haji

Fikri NR kemenag
 Fikri NR kemenag
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin

PENINGKATAN kualitas manasik haji menjadi fokus pelayanan ibadah haji pada 2020, sesuai pencanangan 2020 sebagai tahun peningkatan kualitas manasik haji. Hal itu, merupakan salah satu yang perlu dicermati dalam melakukan evaluasi penyelenggaraan ibadah haji 2019.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengingatkan hal itu, saat membuka Rakernas Evaluasi Penyelenggaraan Ibadah Haji 1440H/2019M, di Jakarta, Selasa (8/10).

"Kita ingin ada peningkatan. Setelah hal-hal yang bersifat fisik, maka kita harus menambah kualitas penyelenggaraan (ibadah haji) ini dengan kepuasan non fisik, yaitu peningkatan kualitas manasik haji jemaah," kata Menag, dalam Rakernas yang berlangsung pada 8-10 Oktober 2019 itu.

Hadir dalam pembukaan Rakernas, Dubes Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel, Deputi Koordinasi Bidang Pendidikan dan Agama Kemenko PMK Agus Sartono, dan Kapus Kesehatan Haji Kemenkes Eka Jusuf Singka mewakili Menteri Kesehatan.

Menurut menag, jemaah haji perlu memahami makna serta filosofi dari ritual ibadah haji yang dilakukan. Mulai dari ihram, tawaf, sai, hingga wukuf di Arafah.

Baca juga : Kemenag Gelar Rakernas Evaluasi Haji 2019

Sehingga secara lebih makro, saat kembali ke tanah air, jemaah haji akan menerapkan filosofi yang didapat dalam kehidupan sehari-hari.

"Jadi jemaah haji kita yang jumlahnya terbanyak setiap tahunnya itu, diharapkan memiliki dampak sosial yang positif juga sepulangnya ke tanah air," jelas Menag.

Peningkatan kualitas manasik haji, lanjut Lukman, tanpa menafikan pelayanan haji lainnya seperti akomodasi, transportasi, maupun konsumsi bahkan kesehatan.

Menag berharap pelayanan-pelayanan lain akan menunjang peningkatan pelayanan di bidang ibadah. Sehingga, dapat meningkatkan kualitas manasik jemaah haji.

Lukman mengingatkan, peningkatan kualitas manasik haji itu, merupakan satu dari lima hal yang perlu dicermati dalam melakukan evaluasi penyelenggaraan ibadah haji tersebut.

Di sisi lain, sebagai penyelenggara, Menag meminta para peserta Rakernas untuk memahami apa yang sudah dianggap baik oleh jemaah. Sehingga, bisa mempertahankan, bahkan meningkatkan hal yang sudah baik itu.

Selanjutnya, imbuh menag, secara serius menangani permasalahan Arafah Muzdalifah dan Mina (Armudzna).

"Permasalahan Armudzna selalu menjadi titik kritis dalam penyelenggaraan ibadah haji. Terutama kepadatan tenda di Mina. Ini perlu dipikirkan secara serius," tegasnya.

Salah satu yang harus dipertimbangkan, kata Menag, adalah menyarankan sebagian jemaah kembali ke hotel seusai menyelesaikan kewajiban mabit (bermalam).

"Perlu dipikirkan bagaimana bila sebagian jemaah kita yang hotelnya dekat dengan jamarat (tempat melempar jumrah), mereka dapat kembali ke hotel. Sehingga tempat yang kosong di tenda mina dapat dipergunakan oleh sebagian yang lain," jelasnya.

Hal lain yang jadi evaluasi, kata dia, mengupayakan perluasan pelayanan fast track.

"Ini salah satu inovasi yang dirasakan memuaskan oleh jemaah (kecepatan pelayanan). Maka harus dipertahankan bahkan diperluas agar tidak hanya dinikmati oleh Jemaah dari embarkasi Jakarta," tutur Lukman.

Dia berharap, seluruh jemaah haji Indonesia dapat merasakan layanan fast track itu untuk tahun 2020.

Namun, jika hal tersebut tidak memungkinkan, setidaknya ada penambahan layanan fast track pada embarkasi dengan jumlah jemaah yang besar seperti Embarkasi Solo (SOC) dan Embarkasi Surabaya (SUB).

Terakhir, menag meminta peserta Rakernas untuk mencermati masalah sosialisasi terkait istitha'ah (mampu) haji.

Dia menyebutkan, saat ini masih ditemui kasus bahwa ada jemaah yang sudah tiba di asrama, tapi kurang dari 24 jam dinyatakan gagal berangkat akibat tidak terpenuhinya syarat istitha'ah kesehatan.

"Masyarakat perlu tahu, kapan mereka bisa diberangkatkan dan bilamana mereka dapat dinyatakan gagal berangkat. Indikatornya harus disosialisasikan," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut Menag juga mengingatkan, bahwa upaya peningkatan kualitas penyelenggaraan haji, tidak ada batasnya.

Sementara, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegeibril mengatakan, Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz menyebut penyelenggaraan ibadah haji Indonesia luar biasa.

"Dengan jumlah jemaah haji terbesar, tetapi semuanya dapat terorganisir dengan baik," kata Agus Maftuh.

Baca juga : Layak Terbang, Jemaah Haji Sakit mulai Dipulangkan

Karena apresiasi itulah, kata Agus, dirinya mendapat kesempatan berbicara di hadapan Raja dan masyarakat Saudi melalui saluran televisi nasional.

"Dari 100 Dubes yang ada, hanya Dubes Indonesia yang diberikan kesempatan berbicara selama 11 menit tentang penyelenggaraan haji di TV nasional," jelas Agus.

Menurut Agus, di hadapan Raja Salman, dirinya mengungkapkan empat kunci kesuksesan haji yang dimiliki Indonesia.

Pertama, komitmen pelayanan yang dimiliki oleh seluruh petugas haji Indonesia. Kedua, kerja di bawah satu komando. Ketiga, mengutamakan kebersamaan untuk mencapai tujuan pelayanan. Dan ke empat, seluruh petugas haji Indonesia memiliki komitmen untuk memberikan layanan yang istimewa bagi seluruh jemaah haji Indonesia.

Rakernas tersebut diikuti oleh Kepala Kanwil Kemenag se-Indonesia, Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah se-Indonesia, Kepala UPT Asrama Haji se-Indonesia, ASN serta Pejabat pada Ditjen PHU, serta perwakilan Kementerian/Lembaga terkait. (OL-7)

BERITA TERKAIT