09 October 2019, 19:47 WIB

Golkar Konsolidasi, Langkah Airlangga Diperkirakan Mulus


Dhika Kusuma Winata | Politik dan Hukum

Antara/Nova Wahyudi
 Antara/Nova Wahyudi
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto bersama Politikus Golkar yang juga Ketua MPR Ri Bambang Soesatyo

PERSETERUAN dua bakal calon ketua umum Partai Golkar yakni Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo (Bamsoet) telah mereda. Keduanya tak lagi akan saling menjatuhkan untuk meraih kursi pucuk pimpinan Partai Golkar melainkan saling mendukung satu sama lain pasca Bamsoet terpilih sebagai Ketua MPR RI.

Mantan Anggota Dewan Pembina Partai Golkar Fadel Muhammad mengatakan terpilihnya Bamsoet menjadi Ketua MPR periode 2019-2024 meredakan konflik internal dalam tubuh partai berlambang beringin itu.

Konflik internal, ucapnya, selama ini memang menjadi masalah pelik yang mendera Golkar.

Fadel memerkirakan Airlangga akan melenggang mulus di Munas Golkar Desember mendatang dan mempertahankan kursi ketua umum. Ia mengatakan Bamsoet yang menjadi Ketua MPR menjadi buah 'deal politik' dengan Airlangga agar dapat mempertahankan jabatan sebagai ketua umum Golkar.

"Betul arahnya kesana, supaya tidak ada konflik internal. Seperti biasa ini merupakan proses. Harapannya bagus, semoga Golkar menyatu untuk mendukung mereka," ucap Fadel di Jakarta, Rabu (9/10).

Baca juga : Aktivis Muda Golkar Minta Bamsoet Dukung Airlangga Sepenuh Hati

Fadel berharap seandainya Airlangga kembali menduduki kursi ketua umum Golkar, citra partai itu bisa kembali membaik. Ia juga berharap Golkar bisa tetap solid hingga masa pemilu berikutnya.

Ketua DPP Partai Golkar Dito Ariotedjo melihat konsolidasi internal partai saat ini akan menjadi momentum untuk membahas masa depan Partai Golkar.

Namun, ia menegaskan tidak ada kesepakatan atau deal politik antara keduanya. Bamsoet yang akhirnya memberikan dukungan kepada Airlangga dinilai mengambil keputusan itu dengan kesadaran penuh.

"Setahu saya bukan tukar jabatan. Itu kesadaran (Bamsoet) sendiri. Semoga kekompakan dan kesolidan ini terjaga agar Golkar lebih siap menghadapi tantangan ke depan," ujar Dito.

Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes menilai posisi Airlangga seperti di atas angin menuju Munas untuk pemilihan ketua nantinya.

Hingga kini, ucapnya, belum muncul tokoh lain yang mau bertarung secara terbuka dengan Airlangga.

Meski begitu, ia berpendapat kejutan bisa saja terjadi di menit-menit akhir menjelang Munas dengan munculnya kandidat baru penantang Airlangga. Dia mencatat dalam sejarah Partai Golkar dinamika menjelang Munas biasa terjadi.

"Kalau Bamsoet menyatakan mundur dan meminta proses aklamasi dilakukan, tentu akan mudah sekali bagi Airlangga untuk menang. Tetapi, Golkar identik dengan kompetisi dan dinamika internal yang tinggi. Calon kuda hitam berpotensi juga untuk muncul," ujarnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT