09 October 2019, 18:48 WIB

Sebut Keterangan Ninoy Aneh,PA 212: Tak ada Asap Jika tak ada Api


Tri Subarkah | Politik dan Hukum

MI/Widjajadi
 MI/Widjajadi
Ketua PA 212 Slamet Maarif saat diperiksa Bawaslu Surakarta, Januari silam

KETUA Umum Dewan Pengurus Pusat Persaudaraan Alumni (PA) 212, Slamet Maarif mencium keanehan terkait keterangan yang dilontarkan relawan Joko Widodo, Ninoy Karundeng setelah diculik dan dianiaya pada Senin (30/9).

Dalam konferensi pers yang dihelat di Kantor Sekretariat DPP PA 212 pada Rabu (9/10), Slamet menyebut, "tidak ada asap kalau tidak ada api."

Menurutnya, keterangan Ninoy yang menyatakan dirinya diculik dan dipresekusi adalah aneh, sebab pada saat itu, "pulangnya pun diantar, bersalaman, cium tangan, kemudian dikasih makan, bisa tiduran."

Oleh karena itu, lanjut Slamet, yang harus diperiksa dan disidik pertama kali adalah Ninoy, terutama ihwal keberadaannya di lokasi kejadian.

"Padahal di situ jelas tempat berlindungnya, tempat berlarinya, tempat berkumpulnya kawan-kawan adik-adik mahasiswa dan pelajar yang sedang berbeda pandangan dengan pemerintah," ujar Slamet.

Baca juga : PA 212 Sebut Ustaz Bernard Selamatkan Ninoy Karundeng

Lebih lanjut, Slamet menyebut bahwa Ninoy diduga adalah buzzer 'tim sebelah', yang artinya pro pemerintahan. Sehingga berada di lokasi aksi unjuk rasa merupakan kejanggalan.

Sementara itu Slamet menilai apa yang terjadi pada Ninoy itu, "masih bagus." Ia membandingkan dengan kejadian yang menimpa seorang mahasiswa yang dipukuli oleh aparat kepolisian.

"Penegak hukum saja yang terlatih, terdidik, ngerti hukum, kita melihat kondisinya seperti itu kan. Artinya kalau di kerumunan massa, emosi kan nggak terkontrol. Nah itu masih bagus. Emosi adik-adik mahasiswa, pelajar, rakyat masih tertahankan. Sehingga kemudian ada yang mengamankan (Ninoy) ke masjid, karena dianggap tempat yang paling aman," pungkas Slamet.

Menanggapi hal tersebut, Ninoy tidak mau memberikan komentar banyak dan menyerahkan kasusnya kepada pihak kepolisian.

"Saya ngga mau mengeluarkan pernyataan apapun. Biarkan saja polisi yang mengusut. Nanti lihat saja di pembuktian ya, terima kasih," katanya saat dihubungi Media Indonesia, Rabu (9/10).

Sebelumnya, Ninoy sempat mengungkap kronologi penganiayaan terhadap dirinya di Polda Metro Jaya pada Senin (7/10).

Di hadapan wartawan, Ninoy menyebut kejadian bermula saat ia sedang mengambil foto aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR RI, tepatnya ketika gas air mata lemparan polisi mengenai para peserta demonstran.

"Di situ lah saya mengambil foto terus saya diperiksa, begitu dia tahu bahwa saya adalah relawan Jokowi, langsung saya dipukul dan diseret ke dalam masjid," ujarnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT