09 October 2019, 18:25 WIB

Lima Pokok Pembahasan di Sidang Sinode VII Keuskupan Larantuka


Alexander P Taum | Humaniora

MI/Alexander P Taum
 MI/Alexander P Taum
Sidang Sinode VII Keuskupan Larantuka   

SIDANG Sinode VII Tahun 2019 yang digelar Keuskupan Larantuka membahas lima hal pokok, yakni Refleksi atas Arah Dasar Hasil Sinode VI, Amanat Kitab Hukum Kanonik, Panorama Gereja Lokal Keuskupan Larantuka Pasca Sinode VI, Perayaan 100 Tahun Maximum Illud dan Kongres Nasional Maximum Illud, serta Bulan Misi Luar Biasa.

Berdasarkan hasil perumusan Tim Khusus Lineamenta Sinode VII Tahun 2019 Keuskupan Larantuka disebutkan bahwa Sinode VII tersebut dilaksanakan dengan panduan hasil Sinode VI. Hasil Sinode VI menjadi panduan dan pedoman arah dalam program pastoral dan karya pelayanan Gereja Lokal Keuskupan Larantuka. Sinode VI berjalan kurun 2013-2017.

"Arah Dasar Sinode VI, berisi sejumlah formula yang memiliki hubungan logis dan kausal, yakni Paham Dasar Gereja Lokal Visi, Misi, Tujuan, Strategis Pastoral, Isu Pastoral, Program dan Strategisnya, serta Komitmen Implementasi Berbasis Sumber Daya Dukung setelah menjalankan amanah Sinode VI, mengimplementasikan dan mengevaluasi partisipatif pada segala level (2018) yang berpuncak pada lokakarya tingkat Dekenat (2019)," kata Romo Yansen Raring Pr, Tim Khusus Lineamenta Sinode VII 2019 Keuskupan Larantuka, dalam keterangannya, Rabu (9/10).

Penyelenggaraan Sidang Sinode VII Keuskupan Larantuka ini untuk merefleksikan Arah Dasar dan menetapkan prioritas program untuk jangka waktu ke depan Program Jangka Pendek Tahap (PJPT) III.

Sinode VII Keuskupan Larantuka bertepatan dengan penerapan bulan ini oleh Paus Fransiskus sebagai 'Bulan Misi Luar Biasa' dalam rangka memperingati 100 tahun Surat Apostolik Maximum Illud yang dikeluarkan oleh Paus Benediktus XV pada 30 November 1919.


Baca juga: BPPT Kembangkan Mikroba untuk Obat Malaria


Gereja Lokal Keuskupan Larantuka turut terajak merefleksikan dan mengevaluasi sebagai yang 'dibaptis dan diutus' dengan memperhatikan butir-butir inti dari pesan Surat Apostolik, yakni pada satu sisi mewartakan Injil ke seluruh dunia dan pada sisi lain membangun kehidupan Gereja Lokal.

Relevan kiranya ajakan merespons 'zaman baru' dengan 'semangat baru dan komitmen yang terus diperbaharui', baik terkait relasi gereja dan negara maupun perihal iman dan persaudaraan lintas budaya dalam konteks Indonesia termasuk lintas agama dan keyakinan.

Konteks Gereja Lokal, ajakan pada seabad lalu membangun kemandirian dan berjiwa misioner sungguh sejalan dengan Visi Gereja Lokal Keuskupan Larantuka menjadi 'Gereja-Umat Allah yang Mandiri dan Misioner'.

Sidang Sinode VII 2019 Keuskupan Larantuka berlangsung dari Kamis (10/10) hingga Minggu (13/10) di Paroki San Juan Lebao Tengah, Kecamatan Larantuka, dengan titik pusat kegiatan di di Gedung Multi Event Hall Orang Muda Katolik (OMK) Keuskupan Larantuka.

Sinode ini dibuka oleh Uskup Keuskupan Larantuka, Mgr Fransiskus Kopong Kung, Pr pada Kamis (10/10) sore pukul 16.00 Wita.

Sidang Sinode VII Keuskupan Larantuka mengusung tema besar 'Gereja Umat Allah yang Mandiri dan Misioner-Realitas Pasca Program PJPT II dan Rancang-Aksi Program PJPT III'. (OL-1)

BERITA TERKAIT