10 October 2019, 07:05 WIB

Mengenal Tradisi Mumifikasi di Indonesia


Galih Agus Saputra | Weekend

MI/ Galih Agus Saputra
 MI/ Galih Agus Saputra
Mumi koleksi Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassa, Sulawesi Selatan dipamerkan di PKN 2019.

DI sebuah ruang di Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2019 yang berlangsung di di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, ada sebuah mumi koleksi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Makassar, Sulawesi Selatan, dipamerkan. Mumi itu pun menjadi pusat perhatian pengunjung.  

Mumi itu menjadi bagian Pameran Tradisi Pemakaman Istimewa di Indonesia yang digelar Rabu (9/10). PKN sendiri telah berlangsung sejak 7 Oktober.

Kurator pameran, Henry Purba memboyong sejumlah upacara adat kematian ke PKN 2019. Mulai dari Ngaben (Bali), Kambira dan Rambu Solo (Tana Toraja, Sulawesi Selatan), Waruga (Minahasa), Sarkofagus Batak (Pulau Samosir), termasuk mumi dari Makassar tadi.

Tradisi mumifikasi sendiri biasanya dilakukan dengan cara mengawetkan jenazah dengan berbagai macam rempah atau tumbuhan. Tidak hanya dikenal di Toraja, mumifikasi juga dikenal pula di Papua. Mumifikasi di Papua, biasa dilakukan sebagai penghormatan kepada orang yang disegani, misalnya, panglima perang atau kepala suku dengan cara diasapi.

"Hal-hal seperti ini lah yang juga menjadi bagian atau daya tarik dalam budaya kita, di luar berbagai macam budaya lain yang juga menarik misalnya fesyen, tarian, dan lain sebagainya. Memang ia menjadi bagian dari momen kesedihan sehingga jarang diangkat, nah disinilah kita ingin melestarikannya agar dikenal semua orang termasuk kalangan muda," tutur Henry.

Henry pun ingin meluruskan stigma melalui pameran itu. "Ada cara pandang masyarakat yang perlu diluruskan terkait upacara adat kematian. Mereka butuh edukasi agar tak melulu mengaitkannya dengan 'klenik' atau berbagai macam hal bersifat angker dan menyeramkan," tuturnya.

Pada mulanya, Henry mengaku memang cukup kesulitan mencari benang merah dari 'Indonesia Bahagia' dengan upacara adat kematian yang pada dasarnya berhubungan dengan hal yang bersifat duka. Maka dari itu, ia selanjutnya mengajak masyarakat untuk memahami bahwa Indonesia, sebagai negara kepulauan yang kaya akan budaya di dalamnya memiliki tradisi yang begitu panjang termasuk yang berhubungan dengan kematian.

Kematian juga bukanlah hal yang perlu disesalkan karena ia adalah pintu gerbang untuk kembali kepada sang khalik atau Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, kata Henry, tradisi kematian di Indonesia juga memiliki lini masa yang cukup panjang bahkan sudah dimulai sejak masa prasejarah. Ia kemudian terus berkembang hingga datangnya prosesi atau upacara adat kematian yang dikenal saat ini, atau salah satunya yang sebagaimana dilakukan pemeluk agama Islam dengan menggunakan kain kafan, berserta serangkaian upacara atau doa-doa yang dipanjatkan.

Sementara itu, upacara adat kematian di jaman prasejarah sendiri sudah dikenal dengan adanya Sarkofagus Batak. Hingga saat ini, masyarakat di Pulau Samosir, Sumatera Utara, masih melestarikan budayanya sejak jaman megalitikum itu atau yang dapat dilihat dari adanya makam batu (Sarkofagus Batak) yang menjadi pertanda hubungan antara yang hidup dan mati. Lain halnya dengan tradisi yang dikenal masyarakat Toraja, mereka menjaga hubungan antara yang hidup dan mati menggunakan mumi. (M-1)

 

BERITA TERKAIT