09 October 2019, 17:58 WIB

Kemenperin Pacu Manufaktur Supaya Lolos INDI 4.0


Mirza Andreas | Ekonomi

Antara/Zabur Karuru
 Antara/Zabur Karuru
Industri manufaktur di Indonesia

KEMENTERIAN Perindustrian (Kemenperin) mengakselerasi industri manufaktur agar lolos penilaian kesiapan menuju industri 4.0.

"Upaya akselerasi ini membutuhkan sinergi lintas kementerian dan kolaborasi dengan seluruh stakeholder terkait. Komitmen ini harus dijalankan secara bersama-sama. Guna mengakselerasinya, kita perlu melakukan transformasi menuju industri 4.0,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian, Ngakan Timur Antara, pada acara Workshop Pendalaman Kebijakan Industri dengan Wartawan di Padang, Sumatra Barat, Selasa (8/10).

Ia menjelaskan, untuk menjadi manufaktur yang siap dengan industri 4.0 bukan perkara gampang. Sejumlah kriteria ketat harus dipenuhi sehingga pemerintah berkewajiban mendorong perusahaan mengakeselerasi diri.

Ngakan menegaskan, pihaknya sudah mengukur tingkat kesiapan sejumlah sektor industri di dalam negeri untuk menuju transformasi industri 4.0.

Sektor-sektor yang diprioritaskan dalam implementasi tahap awal, sesuai dengan peta jalan Making Indonesia 4.0, yaitu industri makanan dan minuman, industri tekstil dan pakaian, industri kimia, industri otomotif, serta industri elektronika.

Baca juga : Kemenperin Genjot 5 Sektor Manufaktur

“Alat ukur itu kita namakan Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0), yang tujuannya agar kita bisa mengetahui level kesiapan industri yang bisa kita lakukan assessment. Di samping itu, kami juga sudah membangun ekosistem industri 4.0 dan mengembangkan konsep green industry,” paparnya.

Hingga kini, Kemenperin telah melakukan assessment terhadap 326 perusahaan manufaktur. Dari hasil penilaian tersebut, sejumlah perusahaan sudah siap menuju transformasi industri 4.0.

“Selanjutnya, kami juga memberikan bimbingan teknis transformasi industri 4.0 baik itu kepada manager maupun engineer perusahaan,” ujarnya.

Mengenai pembentukan ekosistem industri 4.0 atau yang disebut SINDI 4.0 (Ekosistem Indonesia 4.0), Kemenperin berharap SINDI 4.0 dapat menjadi wadah dalam membangun sinergi dan kolaborasi antarpihak untuk mempercepat proses transformasi industri 4.0, serta jejaring dan kerja sama antarpihak dalam akselerasi proses transformasi industri 4.0.

Ngakan menambahkan, implementasi Making Indonesia 4.0 perlu dipercepat guna menyikapi kondisi perekonomian dan industri yang berkembang saat ini.

“Apalagi kita membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Maka itu, kita perlu memasuki industri 4.0, dan ini telah menjadi agenda nasional,” imbuhnya.

Penerapan industri 4.0 dinilai mampu mendorong peningkatan produktivitas sektor industri secara lebih efisien. Hal itu karena telah terbangunnya konektivitas melalui pemanfaatan teknologi digital. Misalnya, menggunakan internet of things atau artificial intelligent.

“Bahkan industri 4.0 akan dapat memunculkan pekerjaan baru yang cukup banyak, seperti teknisi untuk memperbaiki robot dan para tenaga ahli untuk mengolah data-data. Apalagi, sekarang banyak aplikasi yang telah berkembang untuk mendukung dalam proses produksi,” tuturnya.

Baca juga : Pelaku Usaha Pengolahan Air Harus Terapkan Teknologi Cloud

Ngakan optimistis transformasi industri 4.0 akan mendongkrak kinerja sektor manufaktur nasional. Hal itui akan memperkuat peran industri untuk terus menjadi sektor andalan dalam menopang perekonomian Indonesia.

“Industri sebagai kontributor terbesar penerimaan negara, seperti melalui setoran pajak,” imbuhnya.

Pada 2018, realisasi pajak dari sektor industri mencapai Rp363,60 triliun atau menyumbang 30% dari total penerimaan pajak sebesar Rp1.316 triliun. Setoran industri tahun lalu meningkat 11,12% dibanding tahun 2017.

Selain itu, industri juga mampu menyumbang penerimaan cukai sebesar Rp159,7 triliun.

Kemenperin juga mencatat, sepanjang Januari-Juni 2019, pengapalan produk manufaktur nasional mampu menembus hingga US$60,16 miliar. Nilai itu berkontribusi sebesar 74,88% dari capaian ekspor nasional yang menyentuh angka US$80,32 miliar di semester pertama tahun ini. (OL-7)

BERITA TERKAIT