09 October 2019, 14:17 WIB

Kabut Asap di Palembang Kembali Pekat


Dwi Apriani | Nusantara

MI/Dwi Apriani
 MI/Dwi Apriani
Kota Palembang kembali diselimuti kabut asap diduga karhutla dari sejumlah wilayah di Sumatra Selatan. 

SEJAK tiga hari belakangan, kabut asap di Palembang kembali pekat. Bahkan kabut asap itu mengganggu penglihatan karena jarak pandang sangat dekat, hanya berkisar 50-400 meter. Hal itu membuat masyarakat Palembang kembali merasa resah, karena kabut asap menganggu aktivitas warga.

"Saya kira kabut asap tidak lagi ada. Tapi selama 3 hari belakang muncul lagi dan hari ini terasa sangat pekat. Jarak pandang terbatas, dan aroma asapnya membuat sesak nafas," kata Hariyanto, warga Kecamatan IT II Palembang, Rabu (9/10).

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang mencatat angin permukaan umumnya dari arah Tenggara-Selatan dengan kecepatan 4-11 Knot (7-20 km/jam) mengakibatkan potensi masuknya asap akibat karhutbunla ke wilayah Kota Palembang dan sekitarnya.

Data dari Lapan pada hari ini, tercatat beberapa titik panas di wilayah sebelah Tenggara Kota Palembang dengan tingkat kepercayaan di atas 80%. Dan berkontribusi asap masuk ke wilayah Kota Palembang. Asap bersumber dari  Banyu Asin 1, Tulung Selapan dan Mesuji.

"Intensitas asap pagi hari mulai pukul 04.00-07.00 WIB dan sore hari pukul 16.00-20.00 WIB dikarenakan labilitas udara yang stabil atau tidak ada massa udara naik pada waktu-waktu tersebut," ucap Bambang Benny Setiadji, Kasi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Meteorologi BMKG SMB II Palembang.

Ia mengatakan, fenomena asap sendiri diindikasikan dengan kelembapan yang rendah dengan partikel-partikel kering di udara, mengurangi jarak pandang, beraroma khas, perih di mata, dan mengganggu pernafasan.

"Jarak pandang terendah pada hari ini 9 Oktober, berkisar hanya 50-400 meter dengan kelembapan 95-96%. Kabut asap berdampak terganggunya delapan penerbangan di Bandara SMB II. Delapan penerbangan delay," terang Benny.

baca juga: Pemkab Karawang Dianggap Tidak Serius Tangani Masalah Lingkungan

Secara regional, kata dia, munculnya badai tropis Hagibis di Laut Cina Selatan mengakibatkan kembali adanya aliran massa udara ke arah pusat tekanan rendah badai tersebut. Hal ini mengakibatkan penurunan potensi dan intensitas hujan di wilayah Sumsel tiga hari ke depan (10-12 Oktober 2019). (OL-3)

BERITA TERKAIT